Kamis, 04 Desember 2014

tidakkah kalian sadar akan esensinya?

elok sinarmu masihkah akan bisa ku nikmati esok?
mungkin saja ini yang terakhir
dan mungkin saja tidak!
Aku berdiri disini sebagai sosok sederhana yang terus mengagumimu,
memegahkan pesonamu,
mengagungkan penciptamu.
akan kah kelak kau takkan seperti itu lagi?
tak lagi berpijar, meronakan warna keemasan yang kau miliki
tak lagi berpendar, mengantarkan peri kecil mimpi dalam pembaringan.

meski, tak ada tangisan yang mengantarkan kepergianmu,
tak ada sorak tawa yang menyambut kehadiranmu
namun kau tetap setia tak pernah berkhianat.
sirat tulusmu bukanlah hal yang luar biasa bagi mereka, karena keangkuhan yang merendahkan kepolosan esensimu.

Rabu, 26 November 2014

saat ia benar tak mampu

ada saat ketika hati tak mampu berbicara,
ketika jiwa tak mampu melawan hingga makna tak lagi terjawab,
terus saja merangkak, mengalunkan egonya yang tak juga terelukan.
mungkin mereka tak sedikitpun benar,
mungkin benar dunia tak lagi berbalik merengkuh hatinya
mungkin Ia kini benar-benar sendiri, bahkan bayang pun lelah mendampinginya

sudah sangat tentu mereka hidup untuk dirinya saja, tak lagi ada royalitas yg terbagi.
bahkan bertahan mendampingi rasanya terlalu berat untuknya.
haruskah hati juga menyerah bertahan? atau haruskah ia terus berdiri menunggu tanpa pengharapan?

Selasa, 11 November 2014

Inginku menjadi!

torehan rintik hujan sore itu masih saja menggantung bergelayut bersama awan,
tak cukup mampu untuk menjatuhkan jiwanya
melukiskan serpihan senja yang enggan meronakan percikan jingga yang dimilikinya
aroma tanah basah merasuk ke indra pernapasan, pekatnya suhu lembab membelai lembut pada indra perasa.

hingga tanpa sadar ada putaran-putaran rasa hangat yang menjalar pada hati kecil ini, ada gejolak-gejolak yang tak lagi asing pada benak ini.
selalu saja ada tempat yang terlintas sebab oleh situasi yang tak sengaja terlewat.
membuat paras membeku, memaksa raga tersentak, menjadikan nurani terenyuh olehnya.

kala itu indah, kala itu syahdu, namun kala itu telah pergi.
kala dimana hidup tak nampak beban,
kala dimana senja menjadi teman,
kala dimana setiap nafas adalah senyuman.
masihkah ia membekas?
sedikit jejak hangat meski tak nampak
sedikit pelangi berwarna meski tak megah

inginku menjadi penyair puisi kala itu,
menuliskan setiap skenario drama indah yang akan terlakoni secara manis, menampakkan peran setiap pelakunya yang penuh sukacita tanpa perlu ada deru air mata, dan perih hati yang terluka.

Selasa, 28 Oktober 2014

Masihkah akan ada?

Ketika bumi berputar sebagaimana mestinya, dan daun mendayu tersapu lembutnya angin,
Mengapa tanya itu masih terlontar dari hatimu?
Ketika tawa itu mulai merebak, dan air mata tak lagi tertumpah ruah.
Mengapa jiwa kembali ambigu dengan kalimat sederhana itu?
Haruskah luka itu kembali basah oleh cerita masa lalu?
Haruskah kau mengungkit dan menoreh kembali memar yang kau buat?

Sesaat semuanya seolah berhenti mengalun,
Menampar pipi yang tak lagi memancarkan kehangatan, meninggalkan jejak merah pahit tak terelakkan.
Betapapun sesungguhnya hati tak lagi merespon, namun luka yang ada kembali terkuak, membiarkannya menganga.
Menampilkan urat syaraf yang pernah putus, tulang yang pernah remuk dan darah yang pernah mengucur deras.

Masihkah akan ada hal-hal yang murni biasa? Tanpa gelombang dan reaksi dari berbagai senyawa lain?
Masihkah akan ada hari biasa tanpa setitik pun gema yang menggaung dalam nurani?
Masihkah akan ada ribuan kupu cantik tanpa taman bunga di sekitarnya?
Masihkah akan ada?

Rabu, 15 Oktober 2014

Hanya sekeping partikel, tak lebih!

Sesungguhnya moral tak lagi benar-benar miliki esensinya, meski ada sedikit penyesalan yang mengalir,
Bayang itu tak pernah benar abadi, kelak akan tiba malam mendekapnya erat dalam aromanya
Sejuta galaksi berpendar kembali merasuki sekeping debu tak berarti, mencoba memahami setiap detail partikelnya.
begitu rumit dan kompleks.
Masih saja ada setitik embrio kehidupan yang berjuang keras melibatkan eksistensinya
Terus saja memaparkan kebajikan di setiap arusnya,
Memuncak! menggema!
Mengembalikan frekuensi yang tak lagi nampak sama, walaupun alunannya merayu tetap saja tak akan menghentikan reaksinya.
Lebur! berbaur dalam lautan ledakan supernova.
Terus mengambang dalam ruang hampa, tanpa gravitasi, tanpa rotasi,
Tanpa arah dan tujuan!

akan kah senja sedikit melambat untuk membiarkan keelokan sinarnya kekal? Aku rasa tidak!

Kamis, 09 Oktober 2014

Apa lagi?

Entah apa lagi sekarang,
Jiwa yang telah membumi, dan raga yang telah menari bersama alam belum cukup tegas menopangkan massanya.
Mengulang pertanyaan sama yang bahkan telah membeku.
Meski benak sesungguhnya telah lelah meniup helanya
Sungguh, tak mampu lagi membiarkannya seperti itu, hatinya terlalu keras bekerja menganggap semuanya sudah sepantasnya meski yang terlihat nampaknya tidak baik-baik saja
Meski tak terdengar dirinya meraung menangisi perihnya goresan yang belum sembuh benar

Lantas!
Apakah bungkam akan membantunya?
Apakah senyap akan mengakhirinya?
Mengapa sendu terus merajainya?
Kembali terperosok ke dalam lautan resah,
Tetesan-tetesan peluh tak lagi bekerja cukup baik menghapus setiap bulir keangkuhan
Gemerisik nyiur yang bersahutan tak lagi mampu membawa damai,
Ranting pohon ketapang perlahan meluruh termakan terik matahari
Berkas-berkas madu kini terasa hambar
Meski terus mencarinya, tak lagi ada yang mampu mengembalikannya, terlalu banyak usaha yang ia curahkan.
Namun tetap saja, akhirnya hampa.
Kosong!
Sebegitu kuatnya kah pengaruh sosok itu dalam benaknya?
Hingga ketika bayangnya pergi, kau tak mampu lagi mengisi kekosongan yg tercipta.
Bodoh!

Selasa, 30 September 2014

Ambigu?

Untuk kesekian kalinya, beberapa hal yang akhirnya membuat ku ambigu.
Meski ku sadari diriku sebenarnya masih saja terus terluka,
Meski terus saja ada bulir merebak yang tak tertahankan,
Meski tetap ada tangisan di balik topeng imaji yang ku buat,
Meski berjuta peran ku mainkan dari cerita yang juga berbeda.
Namun tetap saja banyak hal yang tak mampu meredakannya.
Tak lelahkah hati terus menyesak?
Mengapa pertanyaan yang sama terus menerus memenuhi.

Seberapa salahkah jiwa ini sebenarnya? Hingga untuk menebusnya butuh perjuangan yang tak sedikit.
Seberapa jauhkah kaki ini telah melangkah, hingga untuk berbalik pun ia tak tau arah lagi.
Tak ada jalan lagi kah untuk membuatnya mampu menjawab? Butuhkah ia sosok untuk membantunya?

Sesungguhnya telah ada sosok yang bersedia membantu menopangnya, namun masih saja ada ragu yang menguasai organ pikirannya. Terlalu banyak percakapan yang tak hentinya saling meyakinkan. Dan akhirnya kembali tercipta ambigu yang meradang!

Sabtu, 20 September 2014

Ketika putus asa kembali merajai, banyak kalimat yang ingin tersampaikan!

Kekacauan hati kembali menyerang jiwa dan pikiranku,
Aku sadar betul aku terlalu lemah untuk dapat begitu saja melepaskanmu, yang aku kira akan semudah yang aku pikirkan.
Namun resah tetap saja tak henti terus menerus mengganggu ku.
Menjerumuskan pada flashback memori yang tak aku inginkan.

Angin sepoi pun akhirnya merontokkan daun terakhir yang susah payah bertahan pada ranting kecil rapuh, menerbangkannya tanpa arah dan tujuan. Dan ia tak lagi dapat mengelaknya, ia tak mampu lagi melawannya, karena ia sesungguhnya tau ia tak mampu lagi terus berdusta.
Sudah terlalu banyak dusta dan luka yang ia lewati dengan angkuhnya, namun betapa sebenarnya hati kecil pun tak mampu menghadapinya.
Bahkan ejaannya membuat semuanya terasa begitu ambigu, mengalunkan hal yang tak terkendali lagi.

Aku sadar, dulu pernah begitu angkuh menyanggupi segalanya,
Mengiyakan setiap tetes drama yang harus dilakoni dengan hati-hati,
Dan bodohnya organ itu kembali turut serta bekerja memasuki dunia yang bukan miliknya.
Begitu banyak rasa yang ingin kubunuh, kumatikan dan kukubur dalam-dalam.
Hampa,
Hilang,
Putus asa,
Begitu merajai duniaku kini.
Hingga pelarian terus saja ku ciptakan begitu megah.
Membuatku semakin nampak menjadi sosok yang menyedihkan, membuat ku jadi sosok yang nampak tak mampu berdiri dengan kedua kakiku.
Sebenarnya, mengapa ia begitu lemah?
Selemah itu kah? Tak ada lagikah sumber energi yang ia miliki?

Terlalu redup, remang, samar!
Dentingan lonceng jiwa tak lagi terdengar meski samar.
Petikan dawai sanubari pun telah benar-benar berhenti mengalun.
Hanya ruangan kosong penuh debu dan tak lagi terjamah, menggambarkan rasa frustasi yang tak lagi terkendali.
Mencoba terus menggapai-gapai apapun yang ada di sekitarnya.
Mengerang layaknya binatang jalang yang kehilangan arah pulang.
Menoreh tabir-tabir luka yang tak mampu lagi tersembuhkan.
Membuat sosoknya tak lagi berjiwa!

Rabu, 10 September 2014

Tak satupun!

Hembusan angin malam tak pernah terasa sepekat ini,
Ada beberapa hal yang telah hilang tak seharusnya kembali.
Ada beberapa waktu yang terlewati tak mesti diulang kembali
Meski sesungguhnya betapa kebiasaan itu tak pernah pudar dari langkah kaki ini.
Hanya saja, bukankah akan terasa semakin asing jika mencoba memaksakan kehendak?
Bukankah tak ingin lagi menyakiti organ sensitif itu?
Bukankah telah cukup banyak rasa yang telah ia kecap?

Lalu? Apalagi yang diinginkannya?
Tak ada! Seharusnya jawaban itu sudah cukup!
Meski mata lagi-lagi tak mampu berdusta bahwa baranya tak lagi menyala, telah pudar menjadi debu tersiram oleh bulir-bulir yang tak hentinya tercurah.
Tangan yang erat mendekap dada terus meyakinkan kalau dirinya akan baik saja.
Bibir yang berusaha keras tersenyum dalam curahan pedihnya napas yang menderu.
Dan seluruh organ yang tak hentinya mencoba untuk tetap bekerja sebagaimana adanya. Menunjukkan jika tak ada apa-apa.

Namun tanpa satu jiwapun tahu bagaimana remuknya seluruh tubuh ini jika larut menjelang, bagaimana ia mencoba menyusun dan merekatkannya lagi jika fajar menjelang. Tak ada yang tahu.

Seharusnya aku tak perlu menjadi seprofesional ini untuk dapat mendustai mereka juga diriku sendiri. Dengan topeng titanium yang terus menerus melekat menghiasi senyuman.
Dan rasanya belum miliki keberanian yang cukup untuk membuat sedikit celahnya.
Aku sendiripun sebenarnya tak begitu tahu kapan semua rasa yang tercampur dengan bubuk-bubuk abstraksi ini akan berakhir dan kembali menjadi stabil.

Selasa, 02 September 2014

Menangislah!

Rangka dalam daging akhirnya meluruh, menghancurkan bentuknya.
Mengapa ia terus berharap? Mengapa tak bisa berdiri sendiri tanpa tergantung dan kembali mengemis padanya.
Lihat kan? Dia tak sedikitpun punya niat untuk berbalik padamu. Kenapa?
Kenapa tak jemu-jemunya kau berjuang!
Tak sepantasnya kau miliki harapan untuk sosok yang tak menginginkanmu lagi sedikitpun.

Menangislah, tangisi penolakan yang kau terima.
Tangisi kelalaianmu yang tak mampu menghindar darinya
Tangisi ketololanmu yang terus berharap tanpa henti. Tangisilah itu dan jadilah cukup terluka untuk itu.
Tak mengapa itu pelajaran yang kelak akan menyadarkanmu, meski mungkin kau akan lakukan kebodohan yang sama lagi.
Pelajarilah, dan tanyakan jika ada yang tak kau mengerti, bukan bertanya padanya. Tapi bertanyalah pada Tuhan, bertanyalah orang disekitarmu yang kau tau tak akan pernah menyakitimu.
Beranilah berbuat salah, dan beranilah berlaku bodoh untuk kembali menyadarkanmu kalau kau sudah cukup untuk terus mengejarnya dengan hatimu!

Tak ingin memaksanya!

Kau tau? Bahkan ketika langkahku tak mampu lagi mengejar bayangmu, relung hatiku masih saja dipenuhi oleh semua jejakmu.
Batin dan anganku tak lagi mampu berkata indah layaknya penyair, karena kau tau saat ini betapa ia hanya dipenuhi oleh kerinduan pada kenangan dan ceritanya.
Betapa saat ini ia berusaha keras untuk menahan dan meredam bulir-bulir hangat agar tak pergi meninggalkan tempat seharusnya dimana ia berada, layaknya kau yang dengan mudahnya terbang melayang dari tempat ternyaman yang dahulu telah aku berikan dengan sepenuh hati.

Aku tau tak seharusnya ia kembali seperti ini lagi, tak pantas diriku menangisi hal yang memang bukan untuk ku.
Tapi betapa logika memang tak pernah sejalan dengan hati. Betapa hati terkadang menolak teguran nurani untuk menghentikan semuanya.
Betapa mata dan hati terus saja mengacuhkan akal dan mulut yang menggebu menegaskan jiwanya tak terluka!

Begitu banyak ketukan jam yang kuhabiskan untuk berusaha bangkit dari hempasan yang kau ciptakan. Namun tetap saja hitungan kuantitatif tak manpu mengukur berapa banyak luka yang kau akibatkan.
Aku tau dengan sangat sadar jika saat ini aku begitu merindukannya, dan tak mampu lagi bibirku menghindari rasa itu.
Aku hanya tak ingin terus memaksa menghentikannya, seperti dahulu ketika aku harus memaksa menerima keadaan kalau tak ada KITA lagi, yang ada hanya kau dan aku yang berjalan saling berjauhan. Iya. Aku tak ingin memaksanya. Aku tak ingin terus menyakitinya. Tak lagi!

Sabtu, 30 Agustus 2014

Bersabarlah sebentar

Hingga hari ini kedamaian hati belum benar-benar aku temukan.
Resah dan gelisah masih saja menguasai.
Tak banyak hal yg dapat aku lakukan, bahkan menguasai diripun rasanya teramat berat.
Jiwa tak lagi jadi milik tubuh ini.
Nurani tak lagi tepat pada tahtanya.
Ia masih melayang mencari tempatnya untuk pulang, Ia masih berkelana mencari kepastian jati dirinya,
setelah dulu sempat yakin miliki hal itu, namun realitanya ia salah. Dan itu cukup membuatnya bungkam.
Tak mampu tafsirkan apapun lagi.
Bahkan memimpikannya tak berani.

Begitu menguras emosi, hati dan pikiran
Begitu lelahnya mencari dan temukan tempat yang benar-benar nyaman.
Bahkan kesabaran dan harapan perlahan mulai terkikis, menyisakan sebentang lembaran tipis yang rapuh

Rasanya sia-sia, semua hal yang ia korbankan kemarin tak lagi menyisakan jejak sedikitpun, semua kepingan yang ia rangkai kemarin akhirnya kembali retak bahkan hancur menjadi serpihan yang tak lagi dapat dikembalikan.

Tak perlu menangis, mungkin saja waktunya yang tak tepat, mungkin saja Tuhan tak menghendakinya, mungkin saja ada janji manis dibalik setiap pencobaan itu.
Sabarlah hati, ini tak akan lama lagi.
Tak usah menghiraukannya, tak perlu memikirkannya.
Karena hal indah terkadang berada pada tempat yang tak kau inginkan.
Karena jawaban Tuhan tak pernah terduga oleh nalar sempit ciptaannya.
Dan karena Tuhan tau betul setiap pencobaan yang Ia berikan tak pernah melebihi kemampuanmu, akan tiba saat kau melihat indah pelangi kasihnya.

Ketika kenyataan tak mampu aku hindari!

Dan ketika melihatmu bahagia dengan yang lain, sungguh membuatku terhentak, terpaku tak mampu memberi ekspresi apapun.
Cukup tau, diam dan menguatkan hati.
Iya, tak perlu menangis atau menyesalinya bukan?
Meski rongga dada tak mampu berdusta ia begitu terpukul dan belum cukup siap menerimanya.
Meski mulut tak cukup kuat untuk terus bungkam seperti ini.
Meski nalar tak tau harus merespon seperti apa lagi, terlalu terhimpit oleh berjuta pecahan yang perlahan-lahan merefleksikan bayang-bayang itu.

Kau tau? Aku belum bisa membayangkan rangkulan itu kau berikan pada sosoknya.
Aku tak sempat membayangkan hangat genggamanmu kini miliknya.
Aku tidak pernah membayangkan kau, iya kau kini jadi milik wanita lain.
Wanita yang aku tau mungkin tak sebanding denganku, wanita yang aku tau mungkin melebihi diriku.

Betapa ingin diriku menghempaskan hati ini yang telah remuk luluh lantah olehmu.
Betapa ingin diriku membunuh semua rasa yang masih tertinggal dan tertanam dalam hatiku.
Betapa aku ingin menghilangkan semua memori itu.
Dan betapa sesungguhnya aku ingin sekali menyerah dan berhenti berjuang untuk hidupku sendiri.

Jumat, 29 Agustus 2014

Belum ada judul

Masih ada kah gejolak positif untukku? Setelah kemarin telah ku kuras habis?

Kicau burung gelatik bahkan, seolah mulai memudar.
Embun subuh perlahan tak nampak nyata lagi.
Betapa impulsifnya syaraf memberikan reaksi pada hal disekitarnya
Mungkinkah bias matahari akan kembali terdispersi dengan tetesan hujan terakhir? Yang kemudian akan menghadirkan pantulan mosaik yang disebut pelangi?
Nampaknya Tidak lagi, atau barangkali butuh waktu yang lebih lama.

Helaan napas berat kembali terdengar, mencoba membuang semua bagian abstraksi dari masa lalu, sebuah kisah klasik yang kita semua tau akhirnya.
Akhir yang tak akan pernah bahagia, meski para tetua pernah mencoba menggebrak dinding itu, namun tetap saja hal itu terlalu tabu untuk dilanjutkan.
Meski ada cerita lain dari celahnya, namun sama saja cerita itu bukanlah ceritaku, dan harus ku akhiri untuk kubiarkan sosok lain yang kemudian menyelesaikannya.
Tak lagi kupungkiri betapa hati belum merelakannya. Namun inilah akhirnya.
Kau takkan mampu bila terus memaksakannya, dan itu takkan baik untukmu.
Cukup menghapus jejaknya saja, dan membuat jejak lain pada kisah yang lain, waktu yang tepat dan pemain yang berbeda.

Tragis, amat mengerikan!

Aku akhirnya paham, aku tak pernah benar-benar bahagia saat bersama kamu.
Iyaa, tidak pernah.
Setelah membuka-buka lembaran yang mulai lapuk, dan memutar kembali cerita yang sedikit usang nampak jelas hanya aku saja yang terus berjuang.
Terus saja berjuang menopang segalanya dengan tangan kecil ringkihku.
Bukan ini yang kuharapkan akan kudapatkan dari kisah itu, namun faktanya telah terpampang cukup jelas.
Betapa kamu tak pernah sedikit pun peduli dengan kerapuhan yang kita miliki,
Betapa kamu tak pernah sedikit pun mau tau pada kesakitan yang terus saja ku obati dengan harapan yang begitu besar padamu. Karena betapa angkuhnya dirimu oleh hal yang kau pikir permainanmu saja?

Aku bahkan tersentak pada salah satu lembaran, gambaran aku tak sedikitpun miliki kedamaian hati saat bersamamu. Bahkan sebenarnya frustasi bergejolak yang terus kurasakan.
Masih saja ada keinginan untuk memberontak, masih saja ada keinginan hati untuk menyerah pada kehidupan yang begitu megahnya telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan kemurahan hatinya yang tak terperi.
Apakah itu arti kebahagiaan ketika bersamamu?
Apakah seperti itu kedamaian jiwa darimu?
Tragis! Amat mengerikan.

Selasa, 26 Agustus 2014

Ketika ilalang berbisik

Ketika padang ilalang berbisik, langkahku terhenti dan hilang bersama bayangannya.
Semua paras itu akhirnya terasa asing, semua kicauan itu tak lagi terasa semenyenangkan dulu. Ada gejolak yang memenuhi nurani, memaksanya tarpaku dalam egonya.

Haruskah aku mencintai angin? Yang berhembus menghempaskanku ke dalam setiap jejaknya.
Haruskah aku mencintai hujan? Yang menderu hebat dan melebur dalam setiap tetes air mataku.
Atau haruskah aku mencintai matahari? Yang terik menyinari, membuat langkahku semakin nampak terseret dan terseok.

Begitu banyak organ yang tak harusnya ku abaikan, begitu banyak rasa yang harusnya ku dampingi dan rangkul dalam pelukanku.
Hingga kelaziman mengorek setiap inci logika yang tak lagi bekerja.
Membuat pekat gelap malam tak lagi diiringi oleh nada sendu sayup-sayup, meringis, dan merintih. Membuatnya damai dalam hening.
Hening abadi, hening yang merangkum mimpi, hening yang melahirkan sebuah asa yang tak lagi padam.

Jumat, 22 Agustus 2014

Ada apa?

Terkadang dalam detik yang sama kau miliki rasa berbeda. Seperti saat ini!
Aku tak mampu bedakan rasa pahit atau getirkah yang aku pendam sekarang.
Terlalu kabur!
Betapa hati miliki saraf yang kompleks untuk lebih peka akan hal itu.

Hingga akhirnya mata merah, dan pipi sembab yang lembab tak bisa berdusta, kau terluka? Iya kau menangis!
Ada apa denganmu mata? Kenapa kau melemah?
Ada apa denganmu hati? Kenapa kau meremuk?
Ada apa denganmu rasa? Kenapa kau menyakiti?
Tidak kah kemarin kalian baik-baik saja berdiri saling menopang? Mengapa kali ini rapuh?
Terlalu kuatkah otak memberi hentakan pada kalian? Terlalu perih kah luka yang kalian tanggung selama ini? Atau memori itu yang terlalu tajam menghujami?

Ayo jawab! Kenapa kalian diam?
Tak mengerti kah kalian kataku? Tak beranikah kalian melawan?
Ohh.... tidak, bukan itu!
Aku tahu kalian miliki hal yang terlalu lapang untuk merangkul kecilnya pahit dan getir itu, hingga itu bukan jadi persoalan yang perlu kalian maknai.
Iya, kalian masih miliki jiwa yang sangat luas untuk menggenggam semuanya.
Jiwa yang miliki kasih tak berbatas, jiwa yang tulus tak berbalas!

Rabu, 20 Agustus 2014

Tak ada yang lebih buruk!

Rongga ini pernah terisi penuh, terisi penuh oleh hati yang begitu besar, penuh oleh berjuta rasa yang tercampur aduk jadi satu, penuh oleh rona merah bersemu yang menyala-nyala. Namun ia hanya sesaat, sesaat sebelum hempasan itu datang dan benar-benar memporak-porandakannya.

Maaf, jika hatiku sudah terlanjur membeku oleh semua guncangan yang aku hadapi. Mungkin terlalu keras aku bertahan hingga rasa dalam hati perlahan-lahan memudar.
Dan akhirnya, Ia tak lagi mengenal rasa itu, ia tak lagi merasa hangat oleh degupnya, ia bahkan merasa terlalu asing untuk memulainya lagi.
Seakan semua itu terasa terlalu memuakkan untuknya.
Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia bekerja dengan baik.
Rindu? Cinta? Kasih? Bukan lagi hal yang dikenalinya, bahkan terlalu tinggi angkuhnya untuk berusaha mengenalkan diri.

Keparat! Kurang lebih seperti itulah gambarannya kini.
Terlalu hina memang, tapi tak ada lagi yang ingin disesalinya. Ia bahkan telah lama bersahabat baik dengan luka dan duka! Dan itu tak menjadikannya lebih buruk!

Inginku begitu!

Naif,
Kembali aku masuk ke dalam sosokku yang satu itu, kembali sengaja memutar dan mengingat-ingat segala sesuatu yang seharusnya tidak perlu.
Hingga lagi, lagi dan lagi organ di dalam rongga kembali bereaksi. Reaksi negatif yang mengacaukan organ lainnya

Betapa sebenarnya aku butuh rasa, betapa sebenarnya aku butuh pelukan itu. Pelukan yang dulu pernah jadi milikku.
Kemudian sekarang membuatku terbiasa mengelak, terus berpura-pura aku tak inginkan itu, terus berdusta aku tak lagi memerlukan semua batu pijakan itu.
Tanpa mereka tahu sedikitpun begitu kerasnya aku menyembunyikannya dari permukaan, hanya tak ingin menjadi penyebab kecewa dari paras mereka.
Walaupun aku sangat sadar terus bersembunyi di balik topeng ini hanya membuatku semakin lemah dan rapuh.

Gelombang pikiran kembali memenuhi otakku, menyebabkan gerakan abstrak yang tak pernah bisa aku tafsirkan.
Ada apa? Tubuh yang menjadi topangan jiwa kembali lagi merasa tak nyaman dengan reaksi itu.
Ingin rasanya ia berlari dari semua asa ini, bertemu angin, awan bahkan rintik hujan. mungkin bisa melepaskan semua beban nurani yang terus saja mengganggu, Dan menghapus bayang sosokmu yang terus saja berlari di sekelilingku.

Iya, ingin sekali aku menghapusnya. Meski dengan perlahan setidaknya akan sedikit buram, tak lagi tampak nyata dalam setiap fatamorgana mimpiku. Ingin aku melepaskannya, membiarkannya berjalan pergi tanpa perlu lagi menoleh dan mencemaskan keadaanku. Dan ingin aku bisa melakukan semuanya namun tetap terus berdiri tegak sendiri, tanpa luka dan air mata. Inginku begitu!

Selasa, 19 Agustus 2014

Tidak pernah terlatih

Tak pernah sedikitpun ada niat ku untuk membenci terlalu dalam, tak pernah ada egoku untuk berlaku jahat pada mereka yang tak sedikitpun memberi umpan balik yang baik padaku.
Hatiku selalu memberi respon dengan cepat, Namun tak pernah bisa membenci terlalu lama, hatiku tak terbiasa menyimpan dendam begitu dalam.

Tapi mengapa masih ada sosok yang dengan pandainya memanfaatkan hal itu? Memperdayakanku untuk beberapa keangkuhan pribadi, sengaja mengeluarkan segala tipu muslihat untuk menjebak?
Dan aku? Terus saja aku terlalu buta dan lugu untuk melihat situasi itu. Situasi yang kemudian kelak akan menyakiti, mengecewakan dan kembali menyudutkanku pada rasa yang tak terkatakan.
Tak adakah sedikitpun rasa sentimentil yang mereka miliki? Hingga begitu mudahnya membuat bayang-bayang metamorfosa yang tampak begitu nyata di hadapanku? Ataukah aku yang terus saja senantiasa membiarkan hatiku menjadi lemah dan kembali membiarkannya terjatuh lagi? Menganggapnya itu kesalahan yang sudah seharusnya, mewajarkan sikapku yang kembali lagi memberi kesempatan pada jiwa yang tak pantas lagi untukku.

Setelah begitu banyak luka dan duka yang kuterima dari mereka yang begitu mudahnya ku beri percaya, Ia tetap menolak untuk menjadi kejam pada setiap pelakunya, meski seringkali tak ku pungkiri, berkali mencoba untuk membuatnya terlatih membalas dan menghancurkan semua khilaf itu.

Senin, 18 Agustus 2014

Ketika melepaskan merupakan sebuah pilihan

Aku kembali duduk diam termangu disini, dalam hening tanpa jeda. Berbagai kebisingan seolah-olah runtuh diredam oleh dinding imaji yang kubangun, ada hal yang terus berusaha ku cerna,
betapa banyak sosok yang tak lagi ku kenali, betapa banyak orang-orang terkasih yang kemudian menjadi asing.
Mengapa dunia begitu kompleks membuat hal yang sederhana menjadi terasa rumit?
Mengapa tak pernah ada satu hal pun yang bertahan dan tetap seperti awal semuanya terbentuk?

Dan ketika melepaskan merupakan satu-satunya pilihan, aku tak berarti menghilangkan dan melupakan rasa itu.
Aku sadar masih memilikinya dan menguasainya dengan penuh.
Hanya saja kini aku mencoba memahami tak semua hal itu harus terus di genggam, kini aku mencoba memperkerjakan logika lebih banyak di bandingkan perasaan, dan berjuang menerima setiap detail cerita yang sebenarnya tak mesti aku mengerti.
Mudah memang, mudah jika hanya beretorika saja!
Untuk itu sudahi mulut yang tak pernah bisa diam, sudahi laku yang terus menerus menginginkan keangkuhan, sudahi juga hati yang selalu gelisah untuk hal yang tak mungkin kau miliki.

Ada begitu banyak hal menakjubkan yang bisa kau ciptakan dalam khayalanmu, meski belum tampak nyata setidaknya kau tak terus-terusan terkungkung didalam dasar lubang yang kau buat sendiri. Iyaa setidaknya!

Minggu, 17 Agustus 2014

Middle night?

Middle night!
Bukan lagi hal asing, kini menjadi tempatku melakukan apapun.
Entah hanya untuk berdiam diri, sekedar bersenandung ataupun tempatku meratap dalam kerinduan.

Berkas-berkas sinar bintang begitu jelas menunjukkan perjuangan ku dahulu, perjuangan ku mempertahankanmu, jatuh bangun aku mengejarmu dalam perih luka yang aku tanggung sendiri.
Hela itu kembali terdengar, helaan berat ketika mengingat betapa kuatnya aku terus membedaki luka itu dengan airmata.
Namun kau? Iya kau! Kau begitu mudahnya berdiri menertawakan malangnya diriku yang mengemis padamu.

Dan nyatanya kau bukan orang yang pantas untuk aku banggakan.
Aku salah terus berusaha menutupi lelahnya hatiku pada semua lakumu yang tak dapat ku redam
Bukan aku yang tak pantas untukmu, namun kau yang tak seharusnya bersama orang seperti ku!
Orang yang begitu kuatnya berjuang untuk kau yang tak tau diri sedang diperjuangkan!
Ingin rasanya makian kasar ku lontarkan di hadapanmu, hanya saja aku tak bisa menjadi sosok sebrengsek dirimu! Tidak sedikitpun.

Aku tak pernah lupa! Tidak pernah!

Heyy.... aku tak lupa hari ini tanggal 17 agustus, iyaa hari kemerdekaan bangsa kita tercinta ini. Juga hari kelahiranmu 20 tahun yang lalu, iya kamu yang dulu juga pernah ku cinta!
Aku pun ingat 4 hari yang lalu tepat tanggal 13 agustus itu hari jadian kita setahun yang lalu, juga hari berakhirnya cerita itu 2 bulan yang lalu!
Begitu lucu yaa, semuanya tepat beriringan. Juga masih menyisakan bekas luka yang juga tak henti-hentinya menampar nuraniku

Semuanya mungkin tak akan seperti ini jika saja aku tak menjatuhkan hatiku terlalu dalam, semuanya mungkin tak akan sesakit ini jika saja aku tak memulainya, semuanya mungkin tak akan sekonyol ini jika saja dulu aku tak begitu miliki rasa penasaran yang besar terhadapmu! Tolol!

Namun tanpa kau tau? Aku kembali menyusuri jalan itu, sebuah tempat di sudut kota yang dahulu selalu kita agungkan. Yaa hanya untuk mencari jejak itu, jejak kaki kecil yang pernah kita bentangkan bersama, jejak kaki kecil yang pernah begitu manis berjalan beriringan.
Tapi yang ku dapatkan, Nihil! Tentu saja, ombak sudah menghapusnya, entah kapan? Mungkin baru saja ataukah sejak awal kita meninggalkannya. Meski sebenarnya hati ini tau tak akan mendapatkan apapun tapi dia masih miliki setidaknya sedikit harapan untuk mencarinya.

Hingga sang surya akhirnya perlahan-lahan merunduk yang juga mengisyaratkan padaku aku harus pulang,
Aku harus kembali ke duniaku sendiri,
Aku harus segera meninggalkan tempat ini,
Aku rasa aku pun harus meninggalkan semua asa yang ku miliki di tempat itu. Iyaa semuanya!
Semua ceritanya, semua kenangannya juga semua rasa yg ku tau belum benar-benar padam.
Aku janji akan kembali lagi, tapi tidak sekarang! Tidak saat ini! Mungkin kelak!
Iya kelak ketika tak lagi ada sedikitpun yang tertinggal dan menggenang di sini. Di hati ini :")

Jumat, 15 Agustus 2014

Tolong, biarkan aku!

Aku kembali terbuai oleh halusnya tuturmu, juga manisnya sikapmu, dan kau tanpa rasa apapun kembali berlari pergi tanpa menoleh lagi!
Aku kira kedatanganmu tak akan lagi menyisakan luka itu, namun nyatanya kau tak juga jera menyakiti jiwa yang kembali memberi asa pada hal yg sudah mengoyaknya, dan bodohnya mengapa hati begitu mudahnya menerima hal yang sudah jelas membuatnya terluka? Belum cukup kah kemarin ia bersusah payah membalutnya dengan setiap tetes air mata?

Cukup! Tolong hentikan drama panggung murahan ini! Aku tak ingin lagi melakoninya, aku tak ingin lagi mengetahui alur ceritanya, dan aku tak mau lagi menjadi pemeran pengganti yang selalu bisa diandalkan disaat-saat tertentu saja.
Aku tegaskan, aku bukan bonekamu!
aku bukan manekin yang bisa kau perlakukan sesuka hati hanya untuk menarik minat penonton.

Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi dari semua kepalsuan sandiwara yang sudah kau rancang sedemikian rupa dengan agungnya! Meski ku tau kau bagaikan morfin yang membuatku candu.
Tak apa jika luka itu masih basah, tak apa jika pipi itu masih sembab, tak apa jika air mata masih meninggalkan jejak.
Aku hanya ingin melangkah tanpa membawa apapun yg akan kembali melukaiku,
Aku hanya ingin berlari tanpa rantai terkunci di kedua kakiku,
Aku hanya ingin miliki jiwa dan hatiku sepenuhnya, tanpa ada bayang-bayang dari sosokmu lagi. Iya aku mohon!

Senin, 11 Agustus 2014

Mengapa harus lemah?

Sekali lagi ada harapan yang remuk oleh hal yang ingin di agungkan, karena ia miliki ekspektasi yang begitu besar
Entah apa lagi yang harus dilakukannya, bahkan berjuang pun rasanya terlalu salah untuk dilakukan.
Adakah mereka sadar akan hal yang mungkin menyakiti?
Akankah mereka tau akan hal yang bahkan melukai jiwa lain?

Sudahlah, kini aku hanyalah boneka pandora di hadapan kalian, hanya pengisi waktu senggang ketika kalian mulai merasa jenuh, hanya pelampiasan saat ada jiwa yg tak merasa nyaman.
Begitu mudahnya merengkuhku kemudian menjatuhkanku kembali, tak adakah penghargaan sedikit pun? Tak adakah empati yang kalian miliki?

Terlalu banyak hal yang berputar di benakku tak juga terjawab, hanya semakin memenuhi dan membuatku muak. Mengendap kemudian membusuk!
Ada apa? Ada apa dengan jiwamu yang dulu? Kemana hidupmu yang dulu?
Mengapa terlalu berat rasanya untuk melepaskan dan merelakan hal yang tak pantas kau perjuangkan? Kenapa terlalu keras kau berusaha mencoba lagi untuk merengkuh hal yang tak seharusnya jadi milikmu? Tidak kah kau sadar semuanya percuma?
Tidak kah kau rasa semua itu hanya semakin menyakitimu?
Namun betapa kau sengaja mengelak untuk hal itu. Bodoh!

Heyy, buka matamu! Angkat kepalamu! Dan Lihat dirimu!
Kau berharga! Tak perlu lagi mengemis pada orang yg tak juga dapat menghargaimu. Sudah cukup!
Pergi! Iya yang harus kau lakukan adalah pergilah dari mereka. Itu saja, mudah bukan?
Namun, mengapa langkahmu terlalu berat untuk kau mulai?

Jumat, 18 Juli 2014

Waktu itu tanggal 13 juli 2014

12:21 AM
Baru ingat hari ini tanggal 13 yaa?
😁 haha tertawaan yang sekali lagi sama tiap harinya.
Tepat sebulan setelah lelucon itu terjadi.
Akhirnya aku telah benar-benar bisa menerima berakhirnya semua cerita lucu yang tak bisa membuatku tertawa berkali-kali.

Menyenangkan bila mengingatnya kembali mulainya cerita itu yang berakhir menjadi lelucon perih yang menertawakan diri dalam tangis.

Sudahlah, aku tak ingin memutarnya kembali, aku bahkan tak akan memilih untuk merangkainya lagi.
Yang bisa kita lakukan sekarang yaitu cukup kuat dan sabar untuk menerima kenyataan yg demikian adanya.

Aku harap kau bahagia dengan dunia dan mimpimu, begitupun aku disini telah berusaha sedemikian kerasnya untuk merangkai cerita baru walaupun tak denganmu lagi kawan!
Meskipun sebenarnya hati dan raga belum sepenuhnya pulih untuk melihatmu bersama sosok baru yang menggantikan tempatku, aku harap semua rasa itu hanya sementara, aku yakin kelak akan cukup kuat untuk tetap menatapmu namun tanpa perasaan goyah sedikitpun. Yaa kelak! Aku bisa pastikan!
Selamat 1 bulan, yaa bukan lagi 11 bulan! 😊

Rabu, 18 Juni 2014

hitam yang pudar

sekali lagi sosokku melemah,

aku terus saja tak henti menyesali,

mengapa dunia begitu menentang kesatuan ini?
bahkan kaupun perlahan menyerah dengan semua pertentangan ini,
bahagiakah kau?
tak taukah dirimu aku disini terus mengelus dada,
aku terus berusaha menahan dentuman-dentuman palu godam yang terus menghantam ku,
aku terus menahan bulir air yang telah menggantung di pelupuk mata.
mengapa aku tak bisa mengalihkan semuanya dari tatapan nanarku?
semuanya seolah-olah terus berpendar memenuhi benak, meski aku telah berusaha keras untuk menghalaunya.

mengapa ketika kau harus pergi, kau tak bisa pergi begitu saja?

mengapa kau mesti meninggalkan luka yang tak bisa sembuh?
aku harap semua ini hanya mimpi buruk, dan ketika aku bangun aku tak lagi tertekan dengan ketakutanku.
namun rasa sakit ini benar-benar nyata, dia bukan mimpi, dialah realita!
berulang kali ku coba untuk berlari pergi, namun bayanganmu terus menghantui nyataku.
salahkah aku berusaha menghindari bahagiamu?
hingga tak mampu lagi lidah ini bergumam, hanya mampu memaki dalam hati,

makian kasar untuk pertemuan yang sama sekali tak kuharapkan.
aku tak peduli lagi dengan diriku, bahkan pelangi ku kini kau hitamkan.
warna hitam yang pudar, bagai malaikat miliki sayap yang rapuh.

only true love can change the black angel with her broken wings!

Selasa, 17 Juni 2014

sekali lagi



Sekali lagi,
Tak sadarkah kau seberapa kuat aku berusaha menahan deru jantung yang ingin melompat keluar dari persembunyiannya?
Hingga akhirnya pelukan itu, menjadi pelukan terakhir yang tidak perlu aku maknai apa-apa, sama sekali JANGAN!
Karena seharusnya itu hanyalah pelukan persahabatan, pelukan menguatkan untuk menghadapi dunia yang berat.
Meski demikian,
Hangatnya masih sama, aromanya masih sama, dan nyamannya masih seperti dulu.

Akankah hati rela bila kelak semuanya bukan untuknya lagi? Melainkan untuk jiwa lain?
Mungkin ia akan berteriak dan memaki,
Karenanya ia tak perlu tau,
Karenanya ia harus pergi,
Karenanya ia harus mempersiapkan diri suatu hari kelak.

Tak ingin memaknainya terlalu dalam, namun justru telah terlanjur membekas penuh. Entah luka ataupun tangis.
Yang aku tau, hati ini sudah pasti kehilangan!
Kehilangan tempat ternyaman yang pernah ia miliki beberapa saat yang lalu!

Sabtu, 14 Juni 2014

abu-abu

 lagi..
dentang itu dan nada itu tak pernah terasa asing dalam dada,
tak pernah lupa akan makna.

kisah tentang perbedaan,

kisah tentang keyakinan,
kisah tentang perpisahan, mungkin tak pernah ada penyatuan.

sesulit ini kah perpisahan ini?

jawablah Tuhan!
tak adakah cara menjadikannya tetap sama? tak adakah kuasamu tuk menyatukannya?
Mengapa Kau terus diam?
mengapa begitu rumit mengerti kata-Mu?
dan akhirnya kurasa jawaban-Mu takkan pernah adil untukku juga untuknya.
sudahlah,
takkan pernah ada penyesalan atas apa yang telah terjadi,
takkan pernah ada air mata untuk hati yang terluka,
takkan pernah ada lagi mulut dan lidah beradu berkata.
demikianlah akhirnya.
Abu-abu.

Masih saja aku

lagi-lagi aku masih menapak di bumi ini,
sekali lagi aku masih bangun di pagi yang nampak sama dengan biasanya,
dan sekali lagi aku bisa menikmati nafas hidup yang ditiupkan sang Maha Kuasa kepadaku,
aku masih tetap anak perempuan sederhana,
aku masih teman dari kalian yang mengenalku dengan baik,
aku masih diriku yang dulu,
aku masih ada dalam pikiranku yang terkadang tak dapat dipahami oleh beberapa orang.
dan aku masih tetap AKU!
meski ada serpihan bahagia yang perlahan luruh dalam benakku, meski ada sepenggal hati yang kini kosong, meski ada guratan perih dalam tawaku,
tak apalah, hal itu tak akan merubah diriku menjadi wanita yang tak berbentuk bukan?

aku sekali lagi mendapat pelajaran dari kehilangan,

aku sekali lagi mesti menguras habis air mataku,
aku sekali lagi harus menerima adanya perbedaan yang benar-benar tak dapat disatukan.
dan aku tak menampik perlu begitu besar hati yang lapang untuk menerima kenyataan yang mau tak mau harus kuhadapi.

meski kini langkahku masih terseok dan lukaku entah kapan akan sembuh benar
namun aku akan tetap berusaha melangkah, melangkah bersama mereka yang berdiri di sampingku,
meski aku sadar begitu terlukanya jiwa ini
namun tak akan ku padamkan mimpi mereka, mimpi orang-orang yang menyayangiku untuk melihat ku tetap kuat.
dan tak ingin lagi ada air mata yang mengalir menangisi hal yang tak ingin di tangisi, tak ingin ada lagi penyesalan untuk apa yang tak perlu disesali.

Kalau kau tak dapat tertawa berkali-kali untuk lelucon yang sama, Mengapa kau harus menangis berkali-kali untuk kebodohan yang sama?
masih ada yang menanti di depanmu, mungkin lebih baik tapi juga mungkin akan sama buruknya,
tak apa kan? itu mesti kau jalani dan akan menjadi kenangan indah yang akan kau nikmati kelak..

TERIMA KASIH



Makin hari sepertinya segala jenis amarah tak lagi bisa di elakkan

Perlahan-lahan semuanya terlihat salah, tak ada celah untuk membenarkan,  Bahkan otak mulai muak dengan keadaan yang menguras emosi



Hingga ia akhirnya menyerah, benar-benar menyerah dengan keadaan yang selama ini jatuh bangun kita pertahankan, ia menyerah dengan perbedaan yang tak tampak adanya penyatuan.



Tuhan kini aku benar-benar kecewa, Selama ini perbedaan selalu terlihat indah, selama ini perbedaan akan selalu melengkapi, Tapi kenapa perbedaan yang melingkupiku malah berbalik menyakitiku? Mengapa perbedaan yang kami miliki tak menjadikan kami indah?

Kenapa?

Kalau akhirnya adanya agama membuat sakit kenapa kau ciptakan begitu banyak agama yang tak bisa disatukan?



Sudahlah, cukup sampai disini
bukan Tuhan atau siapapun yang salah. Sadarkah kau?  terlalu banyak yang kau pertaruhkan untuknya, terlalu banyak yang kau tinggalkan untuknya, terlalu banyak yang telah kau korbankan, juga terlalu banyak orang-orang yang kau sakiti hatinya hanya untuk lelaki tak bertanggung jawab sepertinya?

Sekali lagi kau terjebak dengan janji nya, sekali lagi kau terjatuh kedalam lubang yang sama, sekali lagi kau biarkan hatimu tersakiti, dan sekali lagi kau tak sadar betapa banyak waktu dan air mata yang kau buang percuma.


     Tuhan, maafkan aku selama ini sudah terlalu jauh melangkah meninggalkanmu, sekali lagi aku lakukan kesalahan yang fatal, sekali lagi aku sia-siakan kau hanya untuk kebahagiaan duniawi.

Aku tau betapa banyak dan besar dosaku, tapi aku percaya Tuhan, kaulah satu-satunya yang mampu memahamiku, kaulah satu-satunya yang memiliki kasih yang begitu besar dan tak berkesudahan.


     Mama dan papa, maafkan anakmu yang selama ini tak segan membantah katamu, yang tak pernah enggan membohongi percayamu, maafkan aku yang terlalu nakal, yang merubah putri kecilmu menjadi wanita penuh ego dan keras kepala. Aku tau betapa selama ini kalian ingin masuk dalam duniaku tapi aku bahkan selalu melakukan penolakan keras dan tak membiarkan kalian menyentuhku, hingga akhirnya ketika semua telah seperti ini, ketika lelaki itu menyakitiku aku sadar kalian yang benar-benar tulus mencintaiku, kalian yang tak pernah berbalik pergi ketika aku kembali untuk mencari kekuatan, kalian tetap saja mau merangkul bahkan menggendongku kembali, kalian berikan pelukan. Kalianlah satu-satunya!


     Abang dan adik ku, maafkan saudari perempuanmu satu-satunya ini yang selalu bertindak kasar, berkata ketus, dan terkadang memarahi kalian tanpa sebab, terima kasih telah sabar menjadi saudara yang tak pernah mendendam bahkan membenci sebagaimanapun sikapku, sejahat apapun diriku pada kalian. Kini aku sadar seringkali kalian mencoba memasuki imajiku bahkan mengganggu kesendirianku karena kalian merasakan ada gejolak batin dalam diriku, karena kalian sadar ada yang tidak beres dalam hari-hariku, karena kalian tau ada air mata yang coba ku pendam sendiri, dan itu kalian lakukan semata-mata hanya ingin menghiburku, hanya ingin mengeluarkanku dari frustasi yang berlebihan, namun aku menanggapinya keterlaluan. Maaf dan Terima kasih.

Begitupun dengan semua orang yang tanpa sadar pernah aku sakiti bahkan abaikan, tapi mereka tetap berdiri disampingku.


Dan setelah terlalu jauh melayang, setelah terlalu angkuh dengan kesenanganku sendiri setelah terlalu jauh pergi tanpa mau berbalik, ketika aku terjatuh dan terluka kalianlah yang tetap menopangku agar aku tidak sampai tergeletak.TERIMA KASIH

dan semua telah benar-benar BERBEDA





“kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin, dan akan ku berikan lebih dan lebih sampai akhir hayat nanti”_abdul & the coffee theory_


Dan lagi Gema gelisah merajai nurani ketika alunan itu kembali mengalun lembut dalam indra pendengaran, terus saja mengalir tanpa jeda.
Mengingat beberapa waktu lampau ketika semuanya adalah awal, berharap setiap lirik menjadi realita, hingga akhirnya semuanya tampak samar, buram dan benar-benar gelap.
Betapa manis makna di balik setiap kata yang tak terungkap.

Terus saja merangkai kisah di balik cermin palsu, yang sekarang telah retak berubah menjadi serpihan kaca tajam yang pasti kan melukai.
Menyenangkan, indah, ada senyum simpul yang tercipta dari cerita itu, sebelum semua berubah menjadi tangis sendu menyesakkan.

Seperti inilah sandiwara yang kau sutradarai, dan kau memainkannya dengan begitu professional!
Hingga kau menampik kenyataan yang terus saja kau anggap naskah panggung murahan, tanpa tau semuanya seharusnya telah berakhir.
Dan ketika kau sadar, Yang akan ku lakukan adalah memulai untuk benar-benar mengakhirinya.

At least, aku berhasil! Aku memenangkan parodi ini, meski tak ku pungkiri beberapa kali aku harus terjatuh dan kembali menyusun pecahan-pecahan harapan yang sama sekali tidak ingin aku pupuskan, meski beberapa orang bahkan mencemooh harapanku yang mereka anggap mimpi siang bolong.
Dan
Sampai saat ini, Aku masih bisa menatapnya seperti dahulu, aku masih bisa menyentuhnya dengan ujung jemariku, namun kali ini dengan tatapan dan sentuhan yang BERBEDA!