Selasa, 26 Agustus 2014

Ketika ilalang berbisik

Ketika padang ilalang berbisik, langkahku terhenti dan hilang bersama bayangannya.
Semua paras itu akhirnya terasa asing, semua kicauan itu tak lagi terasa semenyenangkan dulu. Ada gejolak yang memenuhi nurani, memaksanya tarpaku dalam egonya.

Haruskah aku mencintai angin? Yang berhembus menghempaskanku ke dalam setiap jejaknya.
Haruskah aku mencintai hujan? Yang menderu hebat dan melebur dalam setiap tetes air mataku.
Atau haruskah aku mencintai matahari? Yang terik menyinari, membuat langkahku semakin nampak terseret dan terseok.

Begitu banyak organ yang tak harusnya ku abaikan, begitu banyak rasa yang harusnya ku dampingi dan rangkul dalam pelukanku.
Hingga kelaziman mengorek setiap inci logika yang tak lagi bekerja.
Membuat pekat gelap malam tak lagi diiringi oleh nada sendu sayup-sayup, meringis, dan merintih. Membuatnya damai dalam hening.
Hening abadi, hening yang merangkum mimpi, hening yang melahirkan sebuah asa yang tak lagi padam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar