Rabu, 26 November 2014

saat ia benar tak mampu

ada saat ketika hati tak mampu berbicara,
ketika jiwa tak mampu melawan hingga makna tak lagi terjawab,
terus saja merangkak, mengalunkan egonya yang tak juga terelukan.
mungkin mereka tak sedikitpun benar,
mungkin benar dunia tak lagi berbalik merengkuh hatinya
mungkin Ia kini benar-benar sendiri, bahkan bayang pun lelah mendampinginya

sudah sangat tentu mereka hidup untuk dirinya saja, tak lagi ada royalitas yg terbagi.
bahkan bertahan mendampingi rasanya terlalu berat untuknya.
haruskah hati juga menyerah bertahan? atau haruskah ia terus berdiri menunggu tanpa pengharapan?

Selasa, 11 November 2014

Inginku menjadi!

torehan rintik hujan sore itu masih saja menggantung bergelayut bersama awan,
tak cukup mampu untuk menjatuhkan jiwanya
melukiskan serpihan senja yang enggan meronakan percikan jingga yang dimilikinya
aroma tanah basah merasuk ke indra pernapasan, pekatnya suhu lembab membelai lembut pada indra perasa.

hingga tanpa sadar ada putaran-putaran rasa hangat yang menjalar pada hati kecil ini, ada gejolak-gejolak yang tak lagi asing pada benak ini.
selalu saja ada tempat yang terlintas sebab oleh situasi yang tak sengaja terlewat.
membuat paras membeku, memaksa raga tersentak, menjadikan nurani terenyuh olehnya.

kala itu indah, kala itu syahdu, namun kala itu telah pergi.
kala dimana hidup tak nampak beban,
kala dimana senja menjadi teman,
kala dimana setiap nafas adalah senyuman.
masihkah ia membekas?
sedikit jejak hangat meski tak nampak
sedikit pelangi berwarna meski tak megah

inginku menjadi penyair puisi kala itu,
menuliskan setiap skenario drama indah yang akan terlakoni secara manis, menampakkan peran setiap pelakunya yang penuh sukacita tanpa perlu ada deru air mata, dan perih hati yang terluka.