Sabtu, 18 November 2017

SEMUA TAK SAMA

Saat ini,
saat aku mulai menulis ini, 11.11 PM
tiba-tiba saja terusik lagi ingin menarikan jemari di atas bilah-bilah keyboard
terusik karena, tak sengaja melihat potongan story seseorang yang mungkin kukenal, mungkin juga tidak, karena sebenarnya hanya sekedar tau namun juga tak begitu tau,  ahh entahlah....

Benar kata mereka, ada saat kau akan kehilangan semangat dan jiwamu,
tak tau mau ngapain, mau kemana dan harus bagaimana
saat itu agak sedikit membingungkan memang.
Bahkan gerak dan setiap napas pun rasanya tidak berfaedah katanya orang-orang jaman sekarang,
kali ini aku, Aku yang secara subjektif adalah mahasiswa Tingkat akhir merasakannya
bukan karena posisinya, namun tuntutannya.
Asistensi mandet, SK kerja praktek hilang, Surat pengantar minta data sudah hampir sebulan tidak keluar-keluar, sialnya kalaupun keluar sudah harus ganti lagi karena salah alamat
belum lagi beban lihat teman-teman seangkatan yang sudah pakai Toga satu persatu,
teman dekat yang dikiranya bakalan setia mendampingi dan membantu taunya pergi satu persatu, takut terbebani, takut ikutan mandet juga, takut diberatkan, takut tidak bisa pakai Toga,
tapi tidak takut menjatuhkan topengnya, tidak takut ketahuan aslinya.
Katanya kalau sudah begini urus sendiri-sendiri, katanya kalau sudah begini tidak usah tunggu-tunggu, dan katanya kalau sudah begini harus egois.
katanya TEMAN? kok gitu? pikirku.

pada akhirnya semua tak akan sama lagi,
kelak kau akan tau, Teman seperti apa dia
Teman yang berdiri untuk dirimu ataukah
Teman yang berdiri hanya untuk dirinya sendiri!

Sabtu, 11 Februari 2017

Waktu itu, Waktu Aku Lelah...

Sudah lama tak berceloteh dan berisik di balik tumpukan galeri ini,
Namun tampaknya bintang masih saja terus berpijar layaknya lampu kamar yang tak hentinya menggoda gelisahku.
Aku juga tak paham dan ingin tau apa arti semua yang membumbung di hati
Seringkali dalam diamku ada resah yang tak mampu diungkapkan
Seringkali dalam bungkamku ada protes yang tak bisa aku lontarkan
Dan seringkali pula dalam tenangku ada kecewa dan tangis yang sudah lelah aku tunjukkan
Dan hingga saat ini pun aku masih perempuan sederhana yang tak mau menuntut lebih pada apa yang diberikan,
Cukup sadar dan tau diri bahwa sepantasnya yang kau terima yaa sebegitu...
Namun, apakah salah ketika amarah meledak oleh karena dianggap banyak menuntut?
Apakah salah saat menolak untuk dipojokkan oleh karena berusaha mempertahankan milik ku?
Aku paham dan harus benar-benar maklumi bahwa tak semua hal yang aku rancangkan harus sesuai dengan rencana sang Pencipta
Namun, bahkan sang Pencipta pun sama sekali tak butuh dimaklumi oleh ciptaan-Nya