Selasa, 28 Oktober 2014

Masihkah akan ada?

Ketika bumi berputar sebagaimana mestinya, dan daun mendayu tersapu lembutnya angin,
Mengapa tanya itu masih terlontar dari hatimu?
Ketika tawa itu mulai merebak, dan air mata tak lagi tertumpah ruah.
Mengapa jiwa kembali ambigu dengan kalimat sederhana itu?
Haruskah luka itu kembali basah oleh cerita masa lalu?
Haruskah kau mengungkit dan menoreh kembali memar yang kau buat?

Sesaat semuanya seolah berhenti mengalun,
Menampar pipi yang tak lagi memancarkan kehangatan, meninggalkan jejak merah pahit tak terelakkan.
Betapapun sesungguhnya hati tak lagi merespon, namun luka yang ada kembali terkuak, membiarkannya menganga.
Menampilkan urat syaraf yang pernah putus, tulang yang pernah remuk dan darah yang pernah mengucur deras.

Masihkah akan ada hal-hal yang murni biasa? Tanpa gelombang dan reaksi dari berbagai senyawa lain?
Masihkah akan ada hari biasa tanpa setitik pun gema yang menggaung dalam nurani?
Masihkah akan ada ribuan kupu cantik tanpa taman bunga di sekitarnya?
Masihkah akan ada?

Rabu, 15 Oktober 2014

Hanya sekeping partikel, tak lebih!

Sesungguhnya moral tak lagi benar-benar miliki esensinya, meski ada sedikit penyesalan yang mengalir,
Bayang itu tak pernah benar abadi, kelak akan tiba malam mendekapnya erat dalam aromanya
Sejuta galaksi berpendar kembali merasuki sekeping debu tak berarti, mencoba memahami setiap detail partikelnya.
begitu rumit dan kompleks.
Masih saja ada setitik embrio kehidupan yang berjuang keras melibatkan eksistensinya
Terus saja memaparkan kebajikan di setiap arusnya,
Memuncak! menggema!
Mengembalikan frekuensi yang tak lagi nampak sama, walaupun alunannya merayu tetap saja tak akan menghentikan reaksinya.
Lebur! berbaur dalam lautan ledakan supernova.
Terus mengambang dalam ruang hampa, tanpa gravitasi, tanpa rotasi,
Tanpa arah dan tujuan!

akan kah senja sedikit melambat untuk membiarkan keelokan sinarnya kekal? Aku rasa tidak!

Kamis, 09 Oktober 2014

Apa lagi?

Entah apa lagi sekarang,
Jiwa yang telah membumi, dan raga yang telah menari bersama alam belum cukup tegas menopangkan massanya.
Mengulang pertanyaan sama yang bahkan telah membeku.
Meski benak sesungguhnya telah lelah meniup helanya
Sungguh, tak mampu lagi membiarkannya seperti itu, hatinya terlalu keras bekerja menganggap semuanya sudah sepantasnya meski yang terlihat nampaknya tidak baik-baik saja
Meski tak terdengar dirinya meraung menangisi perihnya goresan yang belum sembuh benar

Lantas!
Apakah bungkam akan membantunya?
Apakah senyap akan mengakhirinya?
Mengapa sendu terus merajainya?
Kembali terperosok ke dalam lautan resah,
Tetesan-tetesan peluh tak lagi bekerja cukup baik menghapus setiap bulir keangkuhan
Gemerisik nyiur yang bersahutan tak lagi mampu membawa damai,
Ranting pohon ketapang perlahan meluruh termakan terik matahari
Berkas-berkas madu kini terasa hambar
Meski terus mencarinya, tak lagi ada yang mampu mengembalikannya, terlalu banyak usaha yang ia curahkan.
Namun tetap saja, akhirnya hampa.
Kosong!
Sebegitu kuatnya kah pengaruh sosok itu dalam benaknya?
Hingga ketika bayangnya pergi, kau tak mampu lagi mengisi kekosongan yg tercipta.
Bodoh!