Kamis, 09 Oktober 2014

Apa lagi?

Entah apa lagi sekarang,
Jiwa yang telah membumi, dan raga yang telah menari bersama alam belum cukup tegas menopangkan massanya.
Mengulang pertanyaan sama yang bahkan telah membeku.
Meski benak sesungguhnya telah lelah meniup helanya
Sungguh, tak mampu lagi membiarkannya seperti itu, hatinya terlalu keras bekerja menganggap semuanya sudah sepantasnya meski yang terlihat nampaknya tidak baik-baik saja
Meski tak terdengar dirinya meraung menangisi perihnya goresan yang belum sembuh benar

Lantas!
Apakah bungkam akan membantunya?
Apakah senyap akan mengakhirinya?
Mengapa sendu terus merajainya?
Kembali terperosok ke dalam lautan resah,
Tetesan-tetesan peluh tak lagi bekerja cukup baik menghapus setiap bulir keangkuhan
Gemerisik nyiur yang bersahutan tak lagi mampu membawa damai,
Ranting pohon ketapang perlahan meluruh termakan terik matahari
Berkas-berkas madu kini terasa hambar
Meski terus mencarinya, tak lagi ada yang mampu mengembalikannya, terlalu banyak usaha yang ia curahkan.
Namun tetap saja, akhirnya hampa.
Kosong!
Sebegitu kuatnya kah pengaruh sosok itu dalam benaknya?
Hingga ketika bayangnya pergi, kau tak mampu lagi mengisi kekosongan yg tercipta.
Bodoh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar