Ketika bumi berputar sebagaimana mestinya, dan daun mendayu tersapu lembutnya angin,
Mengapa tanya itu masih terlontar dari hatimu?
Ketika tawa itu mulai merebak, dan air mata tak lagi tertumpah ruah.
Mengapa jiwa kembali ambigu dengan kalimat sederhana itu?
Haruskah luka itu kembali basah oleh cerita masa lalu?
Haruskah kau mengungkit dan menoreh kembali memar yang kau buat?
Sesaat semuanya seolah berhenti mengalun,
Menampar pipi yang tak lagi memancarkan kehangatan, meninggalkan jejak merah pahit tak terelakkan.
Betapapun sesungguhnya hati tak lagi merespon, namun luka yang ada kembali terkuak, membiarkannya menganga.
Menampilkan urat syaraf yang pernah putus, tulang yang pernah remuk dan darah yang pernah mengucur deras.
Masihkah akan ada hal-hal yang murni biasa? Tanpa gelombang dan reaksi dari berbagai senyawa lain?
Masihkah akan ada hari biasa tanpa setitik pun gema yang menggaung dalam nurani?
Masihkah akan ada ribuan kupu cantik tanpa taman bunga di sekitarnya?
Masihkah akan ada?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar