Selasa, 23 Juni 2020

In The End of The Day, Sometimes

Pada akhir sebuah hari,
kita hanya ingin melepas penat, melepas jeda, melepas tangis
Pada akhir sebuah hari,
kita hanya ingin merebah, tertidur dan melupakan
Pada akhir sebuah hari,
ada hal berat yang ingin dilepaskan
Pada akhir sebuah hari,
ada cerita yang ingin dilupakan

Mungkin, bukan kisahnya yang salah,
bukan juga raganya,
terkadang waktunya saja yang kurang tepat,
terlalu cepatkah ataukah terlalu lambat
Mungkin, kita yang terlalu memaksa
memaksakan kehendak, yang bukan kehendak-Nya
Mungkin, kita bukanlah KITA seutuhnya
hanya kamu dan aku yang buta sesaat

Minggu, 14 Juni 2020

Ketika Ku Pikir Aku Rumahmu

Ketika ku pikir aku rumahmu,
Merombak cerita menjadi harapan
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada jeda panjang disetiap pertemuan yang tergenapi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Berjalan tak lagi sendiri, bersandar tak lagi sepi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada hangat yang berdesir memenuhi hati
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Kini prioritas bukan hanya aku, tapi Kita
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Nyatanya kau berpikir BEDA

Aku bukan rumahmu,
Aku hanya selingan
Aku hanya persinggahan sesaat ketika rumahmu sedang kau benahi
Nyatanya,
Aku hanya akan ada hingga kau kembali PULANG ke rumahmu

Rabu, 10 Juni 2020

Apakah KITA hanya harapan?

Beberapa kisah mungkin tak berujung pada kata selesai
Ada yang ditengah jalan harus usai
Ada yang diwarnai sorak sorai
Ada juga yang dipenuhi airmata yg berderai

Tak semua kisah berakhir hangat dengan tawa ringan
Seringkali justru sesak yang menggambarkan
Berharap pada hal yang hanya bayangan
Membuatmu hidup dalam angan

Banyak orang hanya bisa memberi perhatian
Seolah KITA bisa jadi harapan
Namun,
Apakah dirimu sadar kau hanya cadangan?

beberapa kisah berakhir cukup menjadi kisah
Meninggalkan resah
Memberi bercak merah
berdarah
Pada dada yang terus membuncah

Sabtu, 23 Mei 2020

Rasa bernama Luka


Hadir dalam gema gelisah,
Dalam kegamangan yang kupikir tak bertepi
Berbaur dalam keputusasaan dan ketidakpastian
Begitu asing, namun nyata
Sederhana menyentuhku perlahan,
membuatku terperangkap tanpa sempat aku mengelak
merasuk dan membuatku terbuai, tersenyum dan menjadikanku candu

sekali lagi mataku tertutup,
mengabaikan perbedaan yang seharusnya tak kau paksakan
tak mungkin memaksakan perbedaan yang selamanya akan mengingkari kebersamaan
tak usah menggenggam perih yang tak mungkin sembuh
melepaskan penat dan hela  yang nyatanya
sudah jelas semua rasa ini hanya menghadirkan LUKA


Jumat, 20 Maret 2020

Ketika Dunia Tak Lagi Baik-Baik Saja

Ada apa dengan Dunia?
Ada apa dengan Negeriku?
apa kabarmu? apa kabarnya mereka?
masihkah ada senyum ditengah kenyataan yang pelik ini?

Kami bimbang,
kami goyah, bahkan terombang-ambing
aku disini, berdiri sendiri atas diriku
kabar yang tak kunjung usai,
berita yang tak juga reda
ada apa dengan Negeriku?
adakah harap ditengah asa yang nyaris putus?

Kalau boleh bertanya,
apa maksudMu dengan keadaan ini?
apa rencanaMu dibalik gema yang membisingkan?

Kami Gentar,
Kami takut, kami gamang, nyaris tawar hati.
apakah Kau mulai melepas kami perlahan?
menunjukkan bahwa kami hanya serpihan debu dihadapanmu?

Betapa selama ini keangkuhan dan keegoisan kami
mulai tak terbendung dan kau muak dengan bau busuknya?

Tidak!
Kau tidak seperti itu,
bahkan sampai sekarang aku masih percaya
kau menggenggam dan menggendongku
mendengar ratapan kami, melihat air mata kami
bersama kami, bahkan ketika kami tak berharap padamu...
perih....