Kamis, 02 Juli 2015

karena aku benci!


Aku benci terdiam, tak mampu mengatakan apapun bahkan gumaman sedikitpun
Aku benci terdiam, tak mampu bertindak pada semua hal yg menyudutkan
Aku benci terdiam, menahan pukulan merendahkan yang ku tau ditujukan untuk ku
Aku benci terdiam, tak sedikitpun membela apa yang harusnya menjadi hak ku
Namun, bila kata kerap menikam, tutur tak mampu menegaskan, dan kalimat tak juga dimengerti.
Aku lebih memilih DIAM!

Sabtu, 25 April 2015

Hai kamu, dengan apa adanya KAMU!

hai langit masih kah kau mendengarku?
mendengarkan segala cerita dan keluh kesah itu.
banyak yang ingin terungkap, banyak yang ingin mengalun hanya saja kau masih terlalu angkuh untuk itu,
hai angin masih kah kau tetap sama? berdesir lembut merasuk di rongga pakaianku, menemaninya membuatnya tetap nyaman,
hai mentari masih kah kau sehangat dulu, sehangat ketika pertama kita berjumpa? meski tubuh waktu itu masih tak berdaya,
dan hai kamu, kamu yang tau dan sadar betul hatimu milikku. kamu yang masih tetap bertahan dengan segala kelemahanku. kamu yang sanggup menopang dengan apa adanya aku. Terima kasih.

Jumat, 27 Februari 2015

Dalam diam

Sederhana!

taukah kau maknanya?
Kau berdiri di sisi itu dengan elegan
perlahan nampak dalam pandanganku, tanpa selangkah pun kau beranjak
cerita yang kau tuangkan tidak istimewa, namun nampak realistis untuk ku yang tak lagi harapkan mimpi

amarahku tak menyulitkanmu
bentakanku bahkan menjadi candumu
ada apa denganmu?
sosok yang awalnya tak ku inginkan kini menjadi sosok yang terus saja kubutuhkan
meski aku yakin, laku dan retorikaku tak pernah tenangkan jiwamu.
dan Tanpa kau sadari hati dan lidah tak pernah berjalan beriringan.
Ia terlalu gengsi untuk mengakuinya,
Ia bahkan cukup egois untuk menerimanya.

Taukah kau?
diam mu membuat sesak
langkah mu yang ingin berbalik membuat jiwa kembali lemah untuk berdiri
dan menyerahmu, entah..... akan seperti apa jiwanya

Selasa, 10 Februari 2015

a pieces antique heart!

"Hei kak, Vespanya lucu yaa, keren!"
teringat kembali percakapan jumat siang kala itu

aku juga pernah suka sama motor tua itu, suka sekali
mantan pacarku dahulu juga seorang maniac Vespa.

Iya, kami menyayangi dalam kesederhanaan kala itu.
ia memiliki vespa, sedangkan ayahku kebetulan memiliki sebuah mobil jeep tua hardtop keluaran tahun 50an.
tak ada yang istimewa dari hubungan yang kami miliki hanya menjalaninya dengan seadanya dan bahagia, menyukai hal antik dan kegilaan spontan yang tercipta jika kita naik motor butut yang ribut itu bersama-sama. Namun, jika ingin nampak sedikit lebih keren mobil hardtop pasti jadi pilihan utama meski tak luput dari mogoknya mesin mobil tua itu.
iya, bukan mercedes atau ferari
tidak mewah apalagi mahal
sensasi layaknya pemberontak kebebasan lah yang menjadi candu kami.
Tak lazim memang,
namun itu yang menguatkannya,

kita mengerti arti bersama,
kita tau sedang bersama siapa,
tanpa harus mengganggu dunianya dan duniaku yang tak sedikitpun berkesinambungan.
sadar hatinya milik siapa,
tau kemana arah jalan kembali meski kaki tak lelah untuk terus melangkah
tak saling menjaga namun paham arti percaya!

hingga akhirnya semua yang lama tak selalu bernilai antik, begitupun kisah sederhana itu.
bahkan terlalu singkat untuk ku sebut kisah.
hanya segores pertemuan dangkal! menyenangkan namun meninggalkan begitu dalam warna dan makna.
euphoria sesaat,
mimpi di siang bolong,
fatamorgana di terik matahari
terlalu banyak yang tak lagi dapat di sederhanakan dengan toleransi,
terlalu banyak yang begitu rumit untuk diteruskan,
salah satunya Kita! Iman Kita!
Iman kita tak mesti jadi antik, butuh pembaharuan untuk menjadikan pribadi kita lebih kuat dan dewasa.
aku tak pernah menyerah, hanya tak ingin menjadi egois membiarkan mu berkilau, dan kita bisa menjadi hal antik paling berharga di kehidupan lain Kelak!

Jumat, 30 Januari 2015

Less!

sekali lagi kulakukan kesalahan
sekali lagi kusulut amarah
sekali lagi kubuat mereka kecewa
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan pribadi yg kau miliki?
mengapa kini ia begitu liar? bagai sosok asing yg tak terdefinisi.
raga yang menapak tetap saja tak menampakkan jiwa yang ia miliki
bagai ilalang tanpa harmoni
bagai kumbang tak bersayap
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan hari-harimu kini?
apakah sudah terlalu lelah kau melangkah?
ataukah tersenyum palsu bukan lagi hal yang kau senangi?
terus saja kau lakoni peran yang penuh mimpi dan bahagia
meski kau tau pasti, api yang kau miliki telah lama padam
ada bulir hangat yang begitu kerasnya kupertahankan,
bukan merasa terendahkan, hanya sakit melihat raut wajah yang tak dapat mereka sembunyikan
Raut wajah yang penuh guratan-guratan lelah dan emosi yang mereka pendam
ada apa dengan tangan kecil itu?
mengapa begitu kotor kau sekarang.
ada apa dengan bibir kecil itu?
mengapa begitu tajam kau berkata.
ada apa dengan otak kecil itu?
mengapa arogansi menguasai nurani.
Bahkan Tuhan mulai menggeleng menyadari laku nya, begitu angkuh dirinya untuk berjalan tanpa mau berbalik.
Kau akan hancur, kau takkan bertahan lama seperti itu, kau takkan benar-benar kokoh bila kau sendirian.

Senin, 05 Januari 2015

kembalilah!

Mengapa ada benci dalam hati kecil ini?
bukan kah nurani terus bertanya mengapa sendu tak pernah ada habisnya?
luka yang kau selubungi rapat-rapat tak pernah menjadi abu yang melebur.
ia tetaplah kumpulan pertikel dendam yang takkan musnah.

permainan gradasi warna terlalu lemah untuk menutupinya,
aroma sebukit mawar bahkan tak mampu menyelubunginya,
sebuah karakter kuat yang seharusnya tak ada
kau tau zat itu berbahaya, namun daya mu untuk terus memeliharanya tetap saja ada, entah sadar atau tidakkah
Arogansi kemanusiaan yang di karuniakan padamu terus saja kau nyalakan,
tak pernah cukup peduli akan bentakan amarah sekitar.
kau bahkan cukup tangguh untuk segala terpaan pedih yang kini jadi candumu

Tidak kah kau melihat siluet itu?
pantulan cermin itu?
Sosok wanita yang sama sekali asing
apakah itu dirimu?
kau tau benar jawabannya adalah "BUKAN"
dan kau masih saja mau ia merasukimu?
jawabmu Ya, jika itu membuatku bahagia!
dan kau bahagia dengan berpura-pura?
bukan kah kau benci KEBOHONGAN!
kau tak pernah suka orang-orang munafik!
lantas?
"iya, itu dulu. dan kini aku terlanjur terjebak di dalamnya"
Dangkal!!
Kau tau Tuhan? Kau percaya?
Tuhan tak pernah mengenal kata terlanjur, Tuhan tak pernah menjebak,
Tuhan tak pernah membiarkanmu jatuh sampai tergeletak,
Tuhan tak pernah melepaskan genggamannya,
kau tau, ia selalu menunggumu untuk kembali.
Kembalilah....

Aku Tanpanya

Andai aku benar-benar sadar dan mampu,
andai aku benar-benar tau diri akan duniaku,
andai angan itu tak terlalu menggoda di pelupuk mataku,
takkan lagi ada rasa ingin pada hal yang telah terkubur,
takkan lagi mencari pada hal yang bukan milikku,

Aku tau diriku cukup berharga untuk lakukan itu,
dan Tuhan tak inginkan hidupku terus meratapi hal yang tak kunjung usai
Lihatlah lebih dekat, perhatikan lekat-lekat.
kalian benar-benar berbeda, untuk apa terus menyesalinya?
Perbedaan yang kau miliki dengannya itu cukup jauh,
cukup sudah waktu yang kau habiskan untuk menjatuhkan dirimu,
cukup sudah energi yang kau habiskan untuk memunguti remah-remahnya,
cukup sudah rintihan air mata yang kau habiskan untuk menangisinya
Sekarang waktu mu bangkit, kembali ke dunia mu.
Dunia terang yang kau miliki, Dunia yang ditakdirkan untukmu Tanpanya.

apakah aku harus terus bertanya?

mengapa?
mengapa harapan itu kembali merekah?
menghantarnya kembali pada alunan pedih yang sama
menoreh kembali luka yang telah kering dengan pisau berkarat oleh darah masa lalu.
apakah semua nurani sama saja? begitu mudahnya melukai, bahkan membanggakan hal itu?

ataukah aku, sosok yang salah?
sosok yang begitu mudahnya terperosok, sosok yang begitu lugunya memberi tak harap apapun,
sosok yang hanya inginkan ketulusan dari seekor rubah tak berekor.
Bukan kah Tuhan tak pernah memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan?
apakah Tuhan sedang bergurau?
Tidak?
Bukannya kau tau benar isi pikiranku?
bahkan kau sangat mengerti lelahnya hati dan jiwaku terus bertahan untuk semua hal-hal palsu yang tak abadi ini.

apakah masih akan lama lagi?
apakah masih banyak lagi?
apakah aku harus terus bertanya?