Mengapa ada benci dalam hati kecil ini?
bukan kah nurani terus bertanya mengapa sendu tak pernah ada habisnya?
luka yang kau selubungi rapat-rapat tak pernah menjadi abu yang melebur.
ia tetaplah kumpulan pertikel dendam yang takkan musnah.
permainan gradasi warna terlalu lemah untuk menutupinya,
aroma sebukit mawar bahkan tak mampu menyelubunginya,
sebuah karakter kuat yang seharusnya tak ada
kau tau zat itu berbahaya, namun daya mu untuk terus memeliharanya tetap saja ada, entah sadar atau tidakkah
Arogansi kemanusiaan yang di karuniakan padamu terus saja kau nyalakan,
tak pernah cukup peduli akan bentakan amarah sekitar.
kau bahkan cukup tangguh untuk segala terpaan pedih yang kini jadi candumu
Tidak kah kau melihat siluet itu?
pantulan cermin itu?
Sosok wanita yang sama sekali asing
apakah itu dirimu?
kau tau benar jawabannya adalah "BUKAN"
dan kau masih saja mau ia merasukimu?
jawabmu Ya, jika itu membuatku bahagia!
dan kau bahagia dengan berpura-pura?
bukan kah kau benci KEBOHONGAN!
kau tak pernah suka orang-orang munafik!
lantas?
"iya, itu dulu. dan kini aku terlanjur terjebak di dalamnya"
Dangkal!!
Kau tau Tuhan? Kau percaya?
Tuhan tak pernah mengenal kata terlanjur, Tuhan tak pernah menjebak,
Tuhan tak pernah membiarkanmu jatuh sampai tergeletak,
Tuhan tak pernah melepaskan genggamannya,
kau tau, ia selalu menunggumu untuk kembali.
Kembalilah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar