Jumat, 30 Januari 2015

Less!

sekali lagi kulakukan kesalahan
sekali lagi kusulut amarah
sekali lagi kubuat mereka kecewa
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan pribadi yg kau miliki?
mengapa kini ia begitu liar? bagai sosok asing yg tak terdefinisi.
raga yang menapak tetap saja tak menampakkan jiwa yang ia miliki
bagai ilalang tanpa harmoni
bagai kumbang tak bersayap
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan hari-harimu kini?
apakah sudah terlalu lelah kau melangkah?
ataukah tersenyum palsu bukan lagi hal yang kau senangi?
terus saja kau lakoni peran yang penuh mimpi dan bahagia
meski kau tau pasti, api yang kau miliki telah lama padam
ada bulir hangat yang begitu kerasnya kupertahankan,
bukan merasa terendahkan, hanya sakit melihat raut wajah yang tak dapat mereka sembunyikan
Raut wajah yang penuh guratan-guratan lelah dan emosi yang mereka pendam
ada apa dengan tangan kecil itu?
mengapa begitu kotor kau sekarang.
ada apa dengan bibir kecil itu?
mengapa begitu tajam kau berkata.
ada apa dengan otak kecil itu?
mengapa arogansi menguasai nurani.
Bahkan Tuhan mulai menggeleng menyadari laku nya, begitu angkuh dirinya untuk berjalan tanpa mau berbalik.
Kau akan hancur, kau takkan bertahan lama seperti itu, kau takkan benar-benar kokoh bila kau sendirian.

Senin, 05 Januari 2015

kembalilah!

Mengapa ada benci dalam hati kecil ini?
bukan kah nurani terus bertanya mengapa sendu tak pernah ada habisnya?
luka yang kau selubungi rapat-rapat tak pernah menjadi abu yang melebur.
ia tetaplah kumpulan pertikel dendam yang takkan musnah.

permainan gradasi warna terlalu lemah untuk menutupinya,
aroma sebukit mawar bahkan tak mampu menyelubunginya,
sebuah karakter kuat yang seharusnya tak ada
kau tau zat itu berbahaya, namun daya mu untuk terus memeliharanya tetap saja ada, entah sadar atau tidakkah
Arogansi kemanusiaan yang di karuniakan padamu terus saja kau nyalakan,
tak pernah cukup peduli akan bentakan amarah sekitar.
kau bahkan cukup tangguh untuk segala terpaan pedih yang kini jadi candumu

Tidak kah kau melihat siluet itu?
pantulan cermin itu?
Sosok wanita yang sama sekali asing
apakah itu dirimu?
kau tau benar jawabannya adalah "BUKAN"
dan kau masih saja mau ia merasukimu?
jawabmu Ya, jika itu membuatku bahagia!
dan kau bahagia dengan berpura-pura?
bukan kah kau benci KEBOHONGAN!
kau tak pernah suka orang-orang munafik!
lantas?
"iya, itu dulu. dan kini aku terlanjur terjebak di dalamnya"
Dangkal!!
Kau tau Tuhan? Kau percaya?
Tuhan tak pernah mengenal kata terlanjur, Tuhan tak pernah menjebak,
Tuhan tak pernah membiarkanmu jatuh sampai tergeletak,
Tuhan tak pernah melepaskan genggamannya,
kau tau, ia selalu menunggumu untuk kembali.
Kembalilah....

Aku Tanpanya

Andai aku benar-benar sadar dan mampu,
andai aku benar-benar tau diri akan duniaku,
andai angan itu tak terlalu menggoda di pelupuk mataku,
takkan lagi ada rasa ingin pada hal yang telah terkubur,
takkan lagi mencari pada hal yang bukan milikku,

Aku tau diriku cukup berharga untuk lakukan itu,
dan Tuhan tak inginkan hidupku terus meratapi hal yang tak kunjung usai
Lihatlah lebih dekat, perhatikan lekat-lekat.
kalian benar-benar berbeda, untuk apa terus menyesalinya?
Perbedaan yang kau miliki dengannya itu cukup jauh,
cukup sudah waktu yang kau habiskan untuk menjatuhkan dirimu,
cukup sudah energi yang kau habiskan untuk memunguti remah-remahnya,
cukup sudah rintihan air mata yang kau habiskan untuk menangisinya
Sekarang waktu mu bangkit, kembali ke dunia mu.
Dunia terang yang kau miliki, Dunia yang ditakdirkan untukmu Tanpanya.

apakah aku harus terus bertanya?

mengapa?
mengapa harapan itu kembali merekah?
menghantarnya kembali pada alunan pedih yang sama
menoreh kembali luka yang telah kering dengan pisau berkarat oleh darah masa lalu.
apakah semua nurani sama saja? begitu mudahnya melukai, bahkan membanggakan hal itu?

ataukah aku, sosok yang salah?
sosok yang begitu mudahnya terperosok, sosok yang begitu lugunya memberi tak harap apapun,
sosok yang hanya inginkan ketulusan dari seekor rubah tak berekor.
Bukan kah Tuhan tak pernah memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan?
apakah Tuhan sedang bergurau?
Tidak?
Bukannya kau tau benar isi pikiranku?
bahkan kau sangat mengerti lelahnya hati dan jiwaku terus bertahan untuk semua hal-hal palsu yang tak abadi ini.

apakah masih akan lama lagi?
apakah masih banyak lagi?
apakah aku harus terus bertanya?