Selasa, 20 Januari 2026

aku yang bukan AKU

Sudah lama tidak merenungi perjalanan yang sudah ku jalani

Menanjak berliku jatuh bangun bahkan di tahun 2025 ini kurasa adalah Tahun paling mengerikan dan kejam sepanjang kehidupanku di dunia ini

Aku sangat membenci diriku, bahkan entah berapa kali ingin ku akhiri hidupku 


Aku membenci diriku yang menjadi sosok paling mengerikan

Kemana aku yang dulu? Yang selalu mengasihi walaupun disakiti,

Kemana aku yang dulu? Yang tidak begitu tergantung pada orang lain.

Lihat apa yang kau perbuat bahkan pada dirimu sendiri, kau bahkan membenci setiap detail hidupmu

Sinarmu bukan lagi redup tapi padam

Harapanmu tidak ada lagi sumbu yan tersisa untuk dinyalakan kembali, semuanya habis terbakar dengan segala kerasnya masalah yang kau hadapi


Aku sadar semua karena ulahku,

Aku sadar tidak seharusnya menjadi arogan dan habis sabar 

Aku sadar tidak seharusnya jiwaku dipenuhi amarah seperti ini

Namun, 

Aku capek Tuhan!

Aku capek menata segala sesuatu yang dikacaukan orang lain

Aku capek menjadi batu pijakan agar orang lain bisa berdiri tegak

Aku capek membereskan setiap persoalan yang aku sendiri tidak mengerti

Aku capek pura2 tegar, harus memoles wajah agar nampak tidak ada yang salah dalam hidupku

Aku capek menjadi tempat pelarian terakhir

Aku capek menjadi AKU


Boleh kah sehari saja aku menghargai, mencintai bahkan memeluk jiwaku yang sudah lama mati? 

Aku rindu AKU yang dulu~

Senin, 04 Agustus 2025

Mereka hanya dua orang keras kepala yang memiliki ego masing-masing

Pada akhirnya kehidupan sebuah pernikahan adalah tentang memaafkan

memaafkan untuk semua kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja
Memaafkan untuk sikap buruk, kasar dan menyakitkan hati
memaafkan untuk semua kenyataan pahit
memaafkan untuk merusak idealisme yang telah kau pegang erat selama ini
memaafkan untuk setiap kerugian moriil ataupun materil
memaafkan untuk setiap kesialan yang kau lalui untuknya
memaafkan untuk setiap air mata yang telah kau habiskan

Memaafkan, kemudian mengasihi kembali

Orangtua ku bukanlah manusia sempurna yang tanpa celah, debat ringan smpai berat tak elak terjadi di rumah kecil kami
namun banyak yang bisa kupelajari dari mereka
Ibuku bukan sosok perempuan yang lemah lembut dan bertutur kata halus
dia memiliki hati yang teguh dan gigih, serta sangat vocal dalam mengemukakan pendapatnya
tapi aku belajar pemaafan yang sempurna darinya, kasih yang begitu besar tanpa pamrih
Ayahku bukan sosok laki-laki yang penuh perhatian dan punya banyak waktu untuk anaknya
dia sangat idealis dan tekun dalam pekerjaannya, tegas dalam aturan di rumah
tapi aku belajar penerimaan dan hati yang besar, belajar memberi dan mengasihi dalam diam, belajar merendah tidak menjadikan kita rendahan, belajar mengalah bukan untuk kalah
dari dua orang keras kepala dan punya idealisme masing-masing itulah yang membentuk diriku

Minggu, 26 Desember 2021

Bukankah yang Berlebihan Selalu Tak Berakhir Baik?

Semakin dewasa manusia, 

Permasalahan yang kita alami akan semakin kompleks

Bahkan ada beberapa hal yang tidak mampu kita pahami, 

Terkadang beberapa saat bahagia kemudian sesak, beberapa waktu tersenyum kemudian derai tangis memburai

Hingga akhirnya kita tak mampu memahami isi hati kita sendiri

Beberapa waktu terasa penuh tiba-tiba begitu kosong, hampa dan dingin

Beberapa waktu penuh kupu-kupu menggelitiki perut

seketika beban di dada bagai dihantam palu godam

Tak pernah tertebak.

 

Kita hanya perlu berharap pada diri sendiri,

Jangan bergantung pada siapa pun

Karena tak satu pun orang yang dapat benar-benar dipercaya

Terdengar naif mungkin,

Tapi inilah kenyataan!

Kau takkan bisa mengontrol hati manusia jika Sang Kuasa ingin mengobrak-abriknya.

 

Lantas?

Boleh percaya,

Boleh dekat,

Boleh bersama

Hanya saja jangan terlalu

Bukankah yang berlebihan selalu tak berakhir baik?

 

Karena kelak pun kau harus paham,

Bahwa semua yang kita miliki hanya titipan,

Bahwa semua yang kita lihat hanya bayangan

Bahwa semua yang kita dengar hanya suara

Dan semua yang ada tidak abadi.

Jangan egois!

Jangan serakah!

Belajar dari apa adanya, bukan seadanya.

Belajar dari sederhana sudah lebih dari cukup.

Belajar dari syukur menerima, dan ikhlas jika suatu waktu diambil kembali.

Bukankah semua hanya sementara?

Tak ada yang tau akan sampai kapan, 

Bahkan semesta pun menyembunyikannya.

 

#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day6

Sabtu, 25 Desember 2021

25 Desember 2021

25 Desember 2021

Damai natal kiranya menyertai,

Hal yang begitu kutakutkan nyatanya tidak terjadi

Hal yang terlalu ku khawatirkan ternyata tak seburuk imajinasi


Aku takut aku akan menghabiskan natal sendirian

Aku takut kembali menangis seperti kemarin

Aku takut merasa sendiri ditengah euphoria dunia

Ternyata memang damai dan keajaibannya melingkupi semuanya, 

Indah, hanya saja terkadang kita yang terlalu angkuh membuatnya tampak tak berharga

Indah, hanya saja beberapa orang sengaja menutup mata bahkan hatinya.

Indah, menyambut Sang Juruselamat lahir ke dunia.


Ada teman, yang diberi untuk menemani, memberi tawa dan memberi cerita

Mereka sudah lama ada namun aku yang terlalu abai

Mereka disini namun aku yang selalu melewatkannya

Hingga akhirnya kucoba membuka hati, hangat, akrab terasa seperti keluarga

Aku bahkan tak merasa sendiri melewatkan ini, aku merasa seperti di rumah


Ada rumah lain yang dihadirkan, entah untuk menemaniku atau menemani mereka

Meski seringkali lebih terasa merepotkan

Namun, pada akhirnya keluarga hanyalah keluarga.

Bukan tentang siapa dan dimana? Tapi tentang kasih tulus yang tak berkesudahan.


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day5

Jumat, 24 Desember 2021

Entah Sebenarnya Aku Kenapa?

24 Desember 2021

Christmas Eve!

Di kota orang, sunyi dan sendiri

Seharusnya aku pulang, bersama keluarga, bernyanyi, bersaat teduh, makan makanan enak

Seharusnya aku pulang, memakai pakaian natal, berselimut lembut, ditemani segelas cokelat panas

Seharusnya aku pulang, Pulang ke Rumah, ke tempat ternyaman untuk meletakkan kepala


Banyak yang berlalu, banyak yang terlewat

Ketika semua beranjak dewasa,

Hal yang dulu riskan tak lagi menjadi begitu penting

Hal yang dulu penting bukan lagi hal yang menuntut perhatian

Risau? Tidak juga

Hanya sudah dingin hati


Aku bisa tertawa terbahak-bahak di kerumunan hiruk pikuk duniawi

Aku bisa menangis tersedu-sedu di tengah malam ketika semua harusnya sudah terlelap

Aku bisa tak berekspresi di antara euphoria pesta

Aku bisa penuh semangat ketika semua sedang berduka


Mungkin aku sudah mati rasa

Ketika banyak rasa yang terbuang sia-sia

Mungkin aku sudah hilang arah

Ketika hati hanya dipenuhi amarah

Mungkin aku lagi dilema

Ketika usaha pupus percuma

Entah sebenarnya aku kenapa?


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day4


Kamis, 23 Desember 2021

Haruskah Aku Membenci Hujan?

Sore ini setelah suntuk seharian bekerja aku menghampiri jendela yang ada di depan meja kerjaku

Jendela lebar dilantai dua gedung perkantoran yang terletak di pusat kota

Sunyi Tenang,

Beberapa orang tampak berjalan menjauhi lapangan parkir, sekedar bertegur sapa berpesan sampai jumpa besok di hari terakhir bekerja pekan ini,

Atau sekedar tersenyum simpul yang hanya tampak dari guratan sudut mata di balik wajah yang tentunya tertutup masker.

Sore yang hangat dibanding sore-sore sebelumnya yang selalu dilingkupi hujan Lebat,

Tak salah jika kota ini disebut "Kota Hujan"

Hujan bahkan seringkali turun dimomen-momen yang tak tepat


Akhir-akhir ini banyak kerjaan,

Harus tutup buku, penyerapan anggaran, perpanjangan waktu kontrak atau hanya sekedar memantau progres pekerjaan

Tapi aku mulai tidak fokus

Entah suasananya yang kurang kondusif ataukah suasana hatiku yang kurang mendukung

Jangan tanya kenapa?

Sulit rasanya menghapus kebiasaan yang telah melekat bertahun-tahun,

Yang dulunya hanya dianggap sepele

Rupanya justru itu yang membuatnya sempurna.


Perlahan rintik hujan mulai membasahi jendela besar ini,

rasa hangatnya masih ada namun perlahan pudar digantikan dingin dan deru hujan bersahutan, benar kan kataku? Momennya tidak tepat!


Aku suka hujan,

Aku bahkan rela berlama-lama memandanginya

Menghirup aroma tanah bercampur air, 

"Petrichor" istilah kerennya.

Aku suka hujan,

Aku sering sengaja keluar saat hujan turun

Hanya untuk menyentuh tetesannya

Atau kah menatapnya nanar seperti saat ini.

Aku suka hujan

Apalagi saat kau masih bersamaku. Dulu.


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day3

Rabu, 22 Desember 2021

Manusia Egosentris!

Entah sudah malam keberapa aku insomnia

Bukan tanpa sebab, aku yg terlalu overthinking

Memikirkan hal yang berulang-ulang 

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Ketika aku bukanlah satu-satunya

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Membedaki cerita dengan retorika manis

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Masih saja menjadi candu yang syahdu

 

Jelas sekali semua hanyalah fiktif

Terlalu kontradiktif bagai zat aditif

Memuai, melebur pada seorang yang naif

 

Sekali lagi aku bodoh!

Terlalu mementingkan ego, berharap pada ketidakpastian, berusaha keras menggenggam luka membaluri dengan angan-angan semu.

Sekali lagi aku bodoh!

Bergantung pada kepahitan, tanpa upaya mengelak dari fakta ambigu.

Sekali lagi aku bodoh!

Menutup mata akan kenyataan pelik, terbuai oleh kebohongan yang manis.

Sekali lagi aku bodoh!

Percaya pada Dia! Manusia Egosentris yang tidak memiliki rasa setitik pun! Bajingan!

Sudah jera aku merutuki diri berkali-kali yang akhirnya jatuh berkali-kali juga

Entah magnet seperti apa yang dia pakai untuk menarikku dengan paksa,

Entah virus apa yang dia sebarkan untuk mengekang tanpa harus menggenggamku.

Payah! Bodoh!



#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day2