"Hei kak, Vespanya lucu yaa, keren!"
teringat kembali percakapan jumat siang kala itu
aku juga pernah suka sama motor tua itu, suka sekali
mantan pacarku dahulu juga seorang maniac Vespa.
Iya, kami menyayangi dalam kesederhanaan kala itu.
ia memiliki vespa, sedangkan ayahku kebetulan memiliki sebuah mobil jeep tua hardtop keluaran tahun 50an.
tak ada yang istimewa dari hubungan yang kami miliki hanya menjalaninya dengan seadanya dan bahagia, menyukai hal antik dan kegilaan spontan yang tercipta jika kita naik motor butut yang ribut itu bersama-sama. Namun, jika ingin nampak sedikit lebih keren mobil hardtop pasti jadi pilihan utama meski tak luput dari mogoknya mesin mobil tua itu.
iya, bukan mercedes atau ferari
tidak mewah apalagi mahal
sensasi layaknya pemberontak kebebasan lah yang menjadi candu kami.
Tak lazim memang,
namun itu yang menguatkannya,
kita mengerti arti bersama,
kita tau sedang bersama siapa,
tanpa harus mengganggu dunianya dan duniaku yang tak sedikitpun berkesinambungan.
sadar hatinya milik siapa,
tau kemana arah jalan kembali meski kaki tak lelah untuk terus melangkah
tak saling menjaga namun paham arti percaya!
hingga akhirnya semua yang lama tak selalu bernilai antik, begitupun kisah sederhana itu.
bahkan terlalu singkat untuk ku sebut kisah.
hanya segores pertemuan dangkal! menyenangkan namun meninggalkan begitu dalam warna dan makna.
euphoria sesaat,
mimpi di siang bolong,
fatamorgana di terik matahari
terlalu banyak yang tak lagi dapat di sederhanakan dengan toleransi,
terlalu banyak yang begitu rumit untuk diteruskan,
salah satunya Kita! Iman Kita!
Iman kita tak mesti jadi antik, butuh pembaharuan untuk menjadikan pribadi kita lebih kuat dan dewasa.
aku tak pernah menyerah, hanya tak ingin menjadi egois membiarkan mu berkilau, dan kita bisa menjadi hal antik paling berharga di kehidupan lain Kelak!