Rabu, 18 Juni 2014

hitam yang pudar

sekali lagi sosokku melemah,

aku terus saja tak henti menyesali,

mengapa dunia begitu menentang kesatuan ini?
bahkan kaupun perlahan menyerah dengan semua pertentangan ini,
bahagiakah kau?
tak taukah dirimu aku disini terus mengelus dada,
aku terus berusaha menahan dentuman-dentuman palu godam yang terus menghantam ku,
aku terus menahan bulir air yang telah menggantung di pelupuk mata.
mengapa aku tak bisa mengalihkan semuanya dari tatapan nanarku?
semuanya seolah-olah terus berpendar memenuhi benak, meski aku telah berusaha keras untuk menghalaunya.

mengapa ketika kau harus pergi, kau tak bisa pergi begitu saja?

mengapa kau mesti meninggalkan luka yang tak bisa sembuh?
aku harap semua ini hanya mimpi buruk, dan ketika aku bangun aku tak lagi tertekan dengan ketakutanku.
namun rasa sakit ini benar-benar nyata, dia bukan mimpi, dialah realita!
berulang kali ku coba untuk berlari pergi, namun bayanganmu terus menghantui nyataku.
salahkah aku berusaha menghindari bahagiamu?
hingga tak mampu lagi lidah ini bergumam, hanya mampu memaki dalam hati,

makian kasar untuk pertemuan yang sama sekali tak kuharapkan.
aku tak peduli lagi dengan diriku, bahkan pelangi ku kini kau hitamkan.
warna hitam yang pudar, bagai malaikat miliki sayap yang rapuh.

only true love can change the black angel with her broken wings!

Selasa, 17 Juni 2014

sekali lagi



Sekali lagi,
Tak sadarkah kau seberapa kuat aku berusaha menahan deru jantung yang ingin melompat keluar dari persembunyiannya?
Hingga akhirnya pelukan itu, menjadi pelukan terakhir yang tidak perlu aku maknai apa-apa, sama sekali JANGAN!
Karena seharusnya itu hanyalah pelukan persahabatan, pelukan menguatkan untuk menghadapi dunia yang berat.
Meski demikian,
Hangatnya masih sama, aromanya masih sama, dan nyamannya masih seperti dulu.

Akankah hati rela bila kelak semuanya bukan untuknya lagi? Melainkan untuk jiwa lain?
Mungkin ia akan berteriak dan memaki,
Karenanya ia tak perlu tau,
Karenanya ia harus pergi,
Karenanya ia harus mempersiapkan diri suatu hari kelak.

Tak ingin memaknainya terlalu dalam, namun justru telah terlanjur membekas penuh. Entah luka ataupun tangis.
Yang aku tau, hati ini sudah pasti kehilangan!
Kehilangan tempat ternyaman yang pernah ia miliki beberapa saat yang lalu!

Sabtu, 14 Juni 2014

abu-abu

 lagi..
dentang itu dan nada itu tak pernah terasa asing dalam dada,
tak pernah lupa akan makna.

kisah tentang perbedaan,

kisah tentang keyakinan,
kisah tentang perpisahan, mungkin tak pernah ada penyatuan.

sesulit ini kah perpisahan ini?

jawablah Tuhan!
tak adakah cara menjadikannya tetap sama? tak adakah kuasamu tuk menyatukannya?
Mengapa Kau terus diam?
mengapa begitu rumit mengerti kata-Mu?
dan akhirnya kurasa jawaban-Mu takkan pernah adil untukku juga untuknya.
sudahlah,
takkan pernah ada penyesalan atas apa yang telah terjadi,
takkan pernah ada air mata untuk hati yang terluka,
takkan pernah ada lagi mulut dan lidah beradu berkata.
demikianlah akhirnya.
Abu-abu.

Masih saja aku

lagi-lagi aku masih menapak di bumi ini,
sekali lagi aku masih bangun di pagi yang nampak sama dengan biasanya,
dan sekali lagi aku bisa menikmati nafas hidup yang ditiupkan sang Maha Kuasa kepadaku,
aku masih tetap anak perempuan sederhana,
aku masih teman dari kalian yang mengenalku dengan baik,
aku masih diriku yang dulu,
aku masih ada dalam pikiranku yang terkadang tak dapat dipahami oleh beberapa orang.
dan aku masih tetap AKU!
meski ada serpihan bahagia yang perlahan luruh dalam benakku, meski ada sepenggal hati yang kini kosong, meski ada guratan perih dalam tawaku,
tak apalah, hal itu tak akan merubah diriku menjadi wanita yang tak berbentuk bukan?

aku sekali lagi mendapat pelajaran dari kehilangan,

aku sekali lagi mesti menguras habis air mataku,
aku sekali lagi harus menerima adanya perbedaan yang benar-benar tak dapat disatukan.
dan aku tak menampik perlu begitu besar hati yang lapang untuk menerima kenyataan yang mau tak mau harus kuhadapi.

meski kini langkahku masih terseok dan lukaku entah kapan akan sembuh benar
namun aku akan tetap berusaha melangkah, melangkah bersama mereka yang berdiri di sampingku,
meski aku sadar begitu terlukanya jiwa ini
namun tak akan ku padamkan mimpi mereka, mimpi orang-orang yang menyayangiku untuk melihat ku tetap kuat.
dan tak ingin lagi ada air mata yang mengalir menangisi hal yang tak ingin di tangisi, tak ingin ada lagi penyesalan untuk apa yang tak perlu disesali.

Kalau kau tak dapat tertawa berkali-kali untuk lelucon yang sama, Mengapa kau harus menangis berkali-kali untuk kebodohan yang sama?
masih ada yang menanti di depanmu, mungkin lebih baik tapi juga mungkin akan sama buruknya,
tak apa kan? itu mesti kau jalani dan akan menjadi kenangan indah yang akan kau nikmati kelak..

TERIMA KASIH



Makin hari sepertinya segala jenis amarah tak lagi bisa di elakkan

Perlahan-lahan semuanya terlihat salah, tak ada celah untuk membenarkan,  Bahkan otak mulai muak dengan keadaan yang menguras emosi



Hingga ia akhirnya menyerah, benar-benar menyerah dengan keadaan yang selama ini jatuh bangun kita pertahankan, ia menyerah dengan perbedaan yang tak tampak adanya penyatuan.



Tuhan kini aku benar-benar kecewa, Selama ini perbedaan selalu terlihat indah, selama ini perbedaan akan selalu melengkapi, Tapi kenapa perbedaan yang melingkupiku malah berbalik menyakitiku? Mengapa perbedaan yang kami miliki tak menjadikan kami indah?

Kenapa?

Kalau akhirnya adanya agama membuat sakit kenapa kau ciptakan begitu banyak agama yang tak bisa disatukan?



Sudahlah, cukup sampai disini
bukan Tuhan atau siapapun yang salah. Sadarkah kau?  terlalu banyak yang kau pertaruhkan untuknya, terlalu banyak yang kau tinggalkan untuknya, terlalu banyak yang telah kau korbankan, juga terlalu banyak orang-orang yang kau sakiti hatinya hanya untuk lelaki tak bertanggung jawab sepertinya?

Sekali lagi kau terjebak dengan janji nya, sekali lagi kau terjatuh kedalam lubang yang sama, sekali lagi kau biarkan hatimu tersakiti, dan sekali lagi kau tak sadar betapa banyak waktu dan air mata yang kau buang percuma.


     Tuhan, maafkan aku selama ini sudah terlalu jauh melangkah meninggalkanmu, sekali lagi aku lakukan kesalahan yang fatal, sekali lagi aku sia-siakan kau hanya untuk kebahagiaan duniawi.

Aku tau betapa banyak dan besar dosaku, tapi aku percaya Tuhan, kaulah satu-satunya yang mampu memahamiku, kaulah satu-satunya yang memiliki kasih yang begitu besar dan tak berkesudahan.


     Mama dan papa, maafkan anakmu yang selama ini tak segan membantah katamu, yang tak pernah enggan membohongi percayamu, maafkan aku yang terlalu nakal, yang merubah putri kecilmu menjadi wanita penuh ego dan keras kepala. Aku tau betapa selama ini kalian ingin masuk dalam duniaku tapi aku bahkan selalu melakukan penolakan keras dan tak membiarkan kalian menyentuhku, hingga akhirnya ketika semua telah seperti ini, ketika lelaki itu menyakitiku aku sadar kalian yang benar-benar tulus mencintaiku, kalian yang tak pernah berbalik pergi ketika aku kembali untuk mencari kekuatan, kalian tetap saja mau merangkul bahkan menggendongku kembali, kalian berikan pelukan. Kalianlah satu-satunya!


     Abang dan adik ku, maafkan saudari perempuanmu satu-satunya ini yang selalu bertindak kasar, berkata ketus, dan terkadang memarahi kalian tanpa sebab, terima kasih telah sabar menjadi saudara yang tak pernah mendendam bahkan membenci sebagaimanapun sikapku, sejahat apapun diriku pada kalian. Kini aku sadar seringkali kalian mencoba memasuki imajiku bahkan mengganggu kesendirianku karena kalian merasakan ada gejolak batin dalam diriku, karena kalian sadar ada yang tidak beres dalam hari-hariku, karena kalian tau ada air mata yang coba ku pendam sendiri, dan itu kalian lakukan semata-mata hanya ingin menghiburku, hanya ingin mengeluarkanku dari frustasi yang berlebihan, namun aku menanggapinya keterlaluan. Maaf dan Terima kasih.

Begitupun dengan semua orang yang tanpa sadar pernah aku sakiti bahkan abaikan, tapi mereka tetap berdiri disampingku.


Dan setelah terlalu jauh melayang, setelah terlalu angkuh dengan kesenanganku sendiri setelah terlalu jauh pergi tanpa mau berbalik, ketika aku terjatuh dan terluka kalianlah yang tetap menopangku agar aku tidak sampai tergeletak.TERIMA KASIH

dan semua telah benar-benar BERBEDA





“kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin, dan akan ku berikan lebih dan lebih sampai akhir hayat nanti”_abdul & the coffee theory_


Dan lagi Gema gelisah merajai nurani ketika alunan itu kembali mengalun lembut dalam indra pendengaran, terus saja mengalir tanpa jeda.
Mengingat beberapa waktu lampau ketika semuanya adalah awal, berharap setiap lirik menjadi realita, hingga akhirnya semuanya tampak samar, buram dan benar-benar gelap.
Betapa manis makna di balik setiap kata yang tak terungkap.

Terus saja merangkai kisah di balik cermin palsu, yang sekarang telah retak berubah menjadi serpihan kaca tajam yang pasti kan melukai.
Menyenangkan, indah, ada senyum simpul yang tercipta dari cerita itu, sebelum semua berubah menjadi tangis sendu menyesakkan.

Seperti inilah sandiwara yang kau sutradarai, dan kau memainkannya dengan begitu professional!
Hingga kau menampik kenyataan yang terus saja kau anggap naskah panggung murahan, tanpa tau semuanya seharusnya telah berakhir.
Dan ketika kau sadar, Yang akan ku lakukan adalah memulai untuk benar-benar mengakhirinya.

At least, aku berhasil! Aku memenangkan parodi ini, meski tak ku pungkiri beberapa kali aku harus terjatuh dan kembali menyusun pecahan-pecahan harapan yang sama sekali tidak ingin aku pupuskan, meski beberapa orang bahkan mencemooh harapanku yang mereka anggap mimpi siang bolong.
Dan
Sampai saat ini, Aku masih bisa menatapnya seperti dahulu, aku masih bisa menyentuhnya dengan ujung jemariku, namun kali ini dengan tatapan dan sentuhan yang BERBEDA!

bukan kah memang cukup seperti itu saja?



Ketika remah itu kembali jatuh dihadapanku, aku dengan sadarnya membuka pelepah tangan untuk kembali menangkap dan membekapnya erat.
Sesaat rasa hangat kembali menjalarkan rona merah bersemu menggambarkan berbagai macam rasa masa lalu.

Aku baru tau kalau ternyata diam-diam ia sering memperhatikan dan mengawasi dari jauh,
Aku baru tau kalau ia mengorek semua tentangku dari teman dekatku,
Aku baru tau kalau selama ini ia tak pernah menyapaku hanya karena ia enggan melihatku terusik,
Aku baru tau kalau selama ini begitu besar inginnya berbicara denganku namun angkuhku yang membuatnya menjadi begitu pengecut

Hingga bisikan lembut angin mengusik dan membuatku tersentak,
aku tak seharusnya seperti ini
Mataku seharusnya tak perlu berbinar penuh ketika membayangkan sepercik parasnya,
Bibirku tak seharusnya tersipu menyairkan lakunya,
Otakku tak seharusnya bergeming menyesap setiap kalimatnya
Dan Aku tak seharusnya menyamankan diri dengan hadirnya,
Lalu angin kembali berhembus tenang meninggalkan aku dengan berjuta ambigu dalam benak

Aku telah memilih, dia pun kelihatannya telah memilih.
Semuanya tak mungkin berubah semudah menyingkap sebuah tirai.
Telah berdiri dinding kokoh yang menyelubungi segalanya, meskipun berusaha melubanginya tetap saja tak akan pernah sama.
Aku pun enggan memutarnya lagi seperti semula, hanya saja tak dapat ku pungkiri dan harus ku akui ada sedikit sentuhan pada hati kecil ini,
Dan aku akhirnya mencoba mengangkat kepala, melihat ke depan, menatap mereka yang sekarang nyata di sekelilingku,
Ada rasa takjub yang mengundangku untuk menempatkanmu di antara mereka,
Yaa, sepertinya itulah tempat yang benar-benar tepat untukmu, di sekelilingku dan di antara mereka, tidak terlalu rapat begitupun renggang.
Jarak yang stabil.
Bukankah memang sepantasnya cukup seperti itu saja?