Gemuruh itu masih ada, bahkan nampak mencari makna
hanya sembilu yang mampu menyahut.
Tanya mengapa? Terus beradu dalam benak.
Bagai rumah tak berpenghuni yang mencoba mencari keramaian demi menghalau segalanya.
Yang terjadi kemudian hanya menyurat di atas genangan air keruh
Sembilu kembali mencoba menjawab,
Tak ada! Semua kosong!
Bukan sekedar omong kosong
Yang ada hanya suara parau sukma yang tak henti merintih
Bahkan ubun-ubun pun tak sanggup lagi
Rasa murka bertumpah ruah
Hingga akhirnya berusaha merangkak menjauh
Tapi kepingan itu kembali hadir,
Tak dapat dipungkiri, namun tak juga dianggap nyata
Jadi bagaiamana?
Itu saja yang tersisa, dengan berjuta tanda tak terjawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar