Sabtu, 14 Juni 2014

bukan kah memang cukup seperti itu saja?



Ketika remah itu kembali jatuh dihadapanku, aku dengan sadarnya membuka pelepah tangan untuk kembali menangkap dan membekapnya erat.
Sesaat rasa hangat kembali menjalarkan rona merah bersemu menggambarkan berbagai macam rasa masa lalu.

Aku baru tau kalau ternyata diam-diam ia sering memperhatikan dan mengawasi dari jauh,
Aku baru tau kalau ia mengorek semua tentangku dari teman dekatku,
Aku baru tau kalau selama ini ia tak pernah menyapaku hanya karena ia enggan melihatku terusik,
Aku baru tau kalau selama ini begitu besar inginnya berbicara denganku namun angkuhku yang membuatnya menjadi begitu pengecut

Hingga bisikan lembut angin mengusik dan membuatku tersentak,
aku tak seharusnya seperti ini
Mataku seharusnya tak perlu berbinar penuh ketika membayangkan sepercik parasnya,
Bibirku tak seharusnya tersipu menyairkan lakunya,
Otakku tak seharusnya bergeming menyesap setiap kalimatnya
Dan Aku tak seharusnya menyamankan diri dengan hadirnya,
Lalu angin kembali berhembus tenang meninggalkan aku dengan berjuta ambigu dalam benak

Aku telah memilih, dia pun kelihatannya telah memilih.
Semuanya tak mungkin berubah semudah menyingkap sebuah tirai.
Telah berdiri dinding kokoh yang menyelubungi segalanya, meskipun berusaha melubanginya tetap saja tak akan pernah sama.
Aku pun enggan memutarnya lagi seperti semula, hanya saja tak dapat ku pungkiri dan harus ku akui ada sedikit sentuhan pada hati kecil ini,
Dan aku akhirnya mencoba mengangkat kepala, melihat ke depan, menatap mereka yang sekarang nyata di sekelilingku,
Ada rasa takjub yang mengundangku untuk menempatkanmu di antara mereka,
Yaa, sepertinya itulah tempat yang benar-benar tepat untukmu, di sekelilingku dan di antara mereka, tidak terlalu rapat begitupun renggang.
Jarak yang stabil.
Bukankah memang sepantasnya cukup seperti itu saja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar