Ketika remah itu kembali
jatuh dihadapanku, aku dengan sadarnya membuka pelepah tangan untuk kembali
menangkap dan membekapnya erat.
Sesaat rasa hangat kembali
menjalarkan rona merah bersemu menggambarkan berbagai macam rasa masa lalu.
Aku baru tau kalau ternyata
diam-diam ia sering memperhatikan dan mengawasi dari jauh,
Aku baru tau kalau ia
mengorek semua tentangku dari teman dekatku,
Aku baru tau kalau selama
ini ia tak pernah menyapaku hanya karena ia enggan melihatku terusik,
Aku baru tau kalau selama
ini begitu besar inginnya berbicara denganku namun angkuhku yang membuatnya
menjadi begitu pengecut
Hingga bisikan lembut angin mengusik
dan membuatku tersentak,
aku tak seharusnya seperti ini
Mataku seharusnya tak perlu
berbinar penuh ketika membayangkan sepercik parasnya,
Bibirku tak seharusnya
tersipu menyairkan lakunya,
Otakku tak seharusnya
bergeming menyesap setiap kalimatnya
Dan Aku tak seharusnya
menyamankan diri dengan hadirnya,
Lalu angin kembali berhembus
tenang meninggalkan aku dengan berjuta ambigu dalam benak
Aku telah memilih, dia pun
kelihatannya telah memilih.
Semuanya tak mungkin berubah
semudah menyingkap sebuah tirai.
Telah berdiri dinding kokoh
yang menyelubungi segalanya, meskipun berusaha melubanginya tetap saja tak akan
pernah sama.
Aku pun enggan memutarnya
lagi seperti semula, hanya saja tak dapat ku pungkiri dan harus ku akui ada
sedikit sentuhan pada hati kecil ini,
Dan aku akhirnya mencoba
mengangkat kepala, melihat ke depan, menatap mereka yang sekarang nyata di sekelilingku,
Ada rasa takjub yang
mengundangku untuk menempatkanmu di antara mereka,
Yaa, sepertinya itulah
tempat yang benar-benar tepat untukmu, di sekelilingku dan di antara mereka,
tidak terlalu rapat begitupun renggang.
Jarak yang stabil.
Bukankah memang sepantasnya
cukup seperti itu saja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar