Tak akan ku sangkal lagi, kemarin aku sempat jatuh
pada lubang yang sama,
jatuh pada rasa sakit yang sama,
menangisi permasalahan
yang sama,
dan terperosok pada cerita yang sama.
Dalam kasus ini aku tak
benar-benar tau apakah kisah atau pemainnya yang salah,
aku juga tak bisa
pastikan kalau ini semua salah, hanya karena semua harus berhenti sekarang. Mungkin
Tuhan berkata sekarang belum waktunya kami untuk bersama,
mungkin besok,
lusa,
kelak
atau tidak sama sekali.
Aku tak akan pungkiri, aku pernah menangisinya dengan
tersedu-sedu,
aku pernah menyesalinya,
aku pernah kecewa bahkan sangat marah
pada Tuhan menanyakan hal yang lagi-lagi sama.
Tuhan,
Kau pasti tau saat itu aku benar-benar merasa lemah tak berdaya
dan tak berarti apa-apa lagi aku harap Kau memakluminya sekali lagi.
Dari awal sebenarnya aku sadar kalau kisah ini tak akan
pernah ada akhirnya,
dan aku sadar beberapa kali kau peringatkan aku dengan halus,
hanya
saja aku yang terlalu angkuh bahkan sengaja menutup mata dan hatiku untukmu.
Dari awal sebenarnya aku tau kalau kisah ini sekali lagi akan menyakitiku
namun
sekali lagi keangkuhan ku terlalu menganggap remeh rasa sakit itu.
Dan untuk kamu, Apakah kau ingat?
Kita pernah bercerita
tentang satu bintang di langit,
kita pernah bercerita tentang negeri impian
kita dengan istana kecil sederhana serta bidadari kecil yang meramaikannya
dengan kebahagiaan,
masihkah kau ingat?
Kita pernah bercerita tentang satu nada yang sama yang terus
berdentang di dalam hati kita.
Kita pernah bercerita tentang perjalanan panjang
yang mungkin akan sangat melelahkan tapi semua tidak akan terasa karena adanya
KITA.
Kau ingat?
Ketika salah satu dari kita mulai mencoba menyerah dan tak
ingin lagi berlari bersama namun uluran tangan yang lain masih ada untuk
menguatkannya kembali.
Adakah semua itu kau ingat lagi?
Penas yang menyengat, dingin yang mencekik bahkan badai yang
bergemuruh takkan jadi masalah asalkan kita masih bisa saling melihat satu sama
lain.
Ada tawa sejuk di setiap terik matahari,
ada genggaman hangat di setiap
rintik hujan dan semua itu pernah kita
jalani DULU.
Kau tau banyak hal yang ingin aku sesali,
namun aku tak akan
bisa menyesali semua kisah ini.
Kisah yang mungkin terlalu singkat dan terlalu
cepat bergulir.
Kisah yang Manis.
Aku tak ingin berbohong begitu banyak pelajaran yang ku
dapat dari sepotong kue manis kita,
namun semuanya terlalu cepat kita habiskan.
Sudahlah,
bukankah itulah akhir kisahnya?
Mengapa
menyesalinya?
Tak mengapa bila ingin kau tangisi,
tak ada yang salah dari kita
yang sudah mencoba menjadikan yang tak ada menjadi ada,
tak ada yang akan
sangsi bila kita kelak ingin mengenangnya,
bukankah cerita ini begitu unik?
Begitu tak terduga?
Penuh warna dan abstrak.
Sebuah perbedaan yang berusaha di
samakan,
air dan minyak yang berusaha menyatu,
hitam dan putih yang ingin
menjadi abu-abu.
Setelah beberapa hari berlalu,
bahkan ketika bayangmu
benar-benar hilang dari jangkauanku.
Aku rasa aku telah benar-benar bisa
berdiri sendiri.
Berdiri dengan satu kaki, meski perlahan dan dengan sedikit
terengah akhirnya aku berhasil.
Tak sepenuhnya berhasil mungkin, karena tak
dipungkiri semua organ masih merindukan sebagian dirinya yang kosong,
meski
mencoba menggantikan dengan yang lain namun tak akan sepenuhnya pulih bukan?
Ada begitu banyak yang hilang dan pergi,
ada begitu banyak
yang tak lagi bisa kembali.
Masihkah ada rasa yang tersisa?
Masihkah ada emosi yang
menyala?