Senin, 08 Agustus 2016

Maaf dan Terima Kasih untuk Kamu

Kini.....
Aku cuma rindu rumah,
Bukan kampus, bukan liburan, bukan apapun, bukan dia juga bukan siapapun
Karena dia tak lagi sama,
Karena dia tak lagi seperti dulu,
Karena dia tak lagi milikku

Maaf tak mampu terus berdiri di sisimu, menunggu dan terus mendampingi
Maaf aku hanya manusia sederhana yang begitu kerasnya memperjuangkan studi meski ku janji kau selalu jadi yang setelahnya ku perjuangkan
Maaf aku tak selalu mau kau mencampuri urusanku meski begitu kau salah satu urusan utama dalam rencanaku
Maaf aku begitu keras kepala ingin menyelesaikan semuanya sendiri meski diam-diam sebenarnya aku sangat berharap kau ada disini di sisiku meski hanya melihat dan menyemangatiku dengan senyum mu
Dan sekali lagi maaf kalau aku tak bisa jadi satu-satunya wanita yang kau harapkan mengisi hari-harimu lagi
Kau yang memilihnya, walaupun sekeras apapun aku mengusahakannya aku tetap KURANG untuk mu.
Terima Kasih menjadi satu yang paling ku banggakan dan ku percaya selama ini, meski hanya sampai waktu ini tertulis
Terima Kasih Kamu

Minggu, 07 Agustus 2016

Ketika rumah menjadi tempat terbaik melepas lelap

"pernah kita sama-sama susah terperangkap di dingin malam
terjerumus dalam lubang jalanan digilas kaki  sang waktu yang sombong,
terjerat mimpi yang indah lelah
pernah  kita sama-sama rasakan panasnya mentari hanguskan hati
sampai saat kita  nyaris tak percaya bahwa roda nasib memang berputar
sahabat, masih ingatkah kau?"

ada sendu yang mengena mendengar penggalan lirik itu,
lagu milik salah satu penyanyi legendaris begitu terkenal
tiba-tiba saja hati ingin mencurahkan isinya walau hanya sekilas
tiba-tiba saja jemari kembali ingin menari di atas tuts tak berirama
tiba-tiba saja rumah menjadi tempat yang paling kurindukan untuk pulang dan melepaskan lelap
tiba-tiba saja tempat perantauan menjadi tempat yang dipenuhi resah dan gelisah
tiba-tiba saja ada sosok yang terlintas ingin lekas bersua

entah gemuruh apa yang ingin tersampaikan
banyak hal yang ingin namun tak mampu untuk ku ceritakan
ada masalah yang menguasai, ada pribadi yang mengganggu,
ada yang begitu membuat nyaman, namun adapula tawa yang sengaja ditampilkan untuk menyembunyikan SEPI
sekali lagi banyak yang ingin tersampaikan namun tak tau harus memulainya darimana
rasanya bungkam dan menyatu dengan sepi akan membuatnya sedikit lebih baik

Senin, 23 Mei 2016

Tak Memungkirinya, Aku pernah benar-benar hampir TERGELETAK!

Tak akan ku sangkal lagi, kemarin aku sempat jatuh pada lubang yang sama,
jatuh pada rasa sakit yang sama,
menangisi permasalahan yang sama,
dan terperosok pada cerita yang sama.
Dalam kasus ini aku tak benar-benar tau apakah kisah atau pemainnya yang salah,
aku juga tak bisa pastikan kalau ini semua salah, hanya karena semua harus berhenti sekarang. Mungkin Tuhan berkata sekarang belum waktunya kami untuk bersama,
mungkin besok,
lusa,
kelak
atau tidak sama sekali.

Aku tak akan pungkiri, aku pernah menangisinya dengan tersedu-sedu,
aku pernah menyesalinya,
aku pernah kecewa bahkan sangat marah pada Tuhan menanyakan hal yang lagi-lagi sama.

Tuhan,
Kau pasti tau saat itu aku benar-benar merasa lemah tak berdaya dan tak berarti apa-apa lagi aku harap Kau memakluminya sekali lagi.

Dari awal sebenarnya aku sadar kalau kisah ini tak akan pernah ada akhirnya,
dan aku sadar beberapa kali kau peringatkan aku dengan halus,
hanya saja aku yang terlalu angkuh bahkan sengaja menutup mata dan hatiku untukmu.
Dari awal sebenarnya aku tau kalau kisah ini sekali lagi akan menyakitiku
namun sekali lagi keangkuhan ku terlalu menganggap remeh rasa sakit itu.

Dan untuk kamu, Apakah kau ingat?
Kita pernah bercerita tentang satu bintang di langit,
kita pernah bercerita tentang negeri impian kita dengan istana kecil sederhana serta bidadari kecil yang meramaikannya dengan kebahagiaan,
masihkah kau ingat?
Kita pernah bercerita tentang satu nada yang sama yang terus berdentang di dalam hati kita.
Kita pernah bercerita tentang perjalanan panjang yang mungkin akan sangat melelahkan tapi semua tidak akan terasa karena adanya KITA.
Kau ingat?
Ketika salah satu dari kita mulai mencoba menyerah dan tak ingin lagi berlari bersama namun uluran tangan yang lain masih ada untuk menguatkannya kembali.
Adakah semua itu kau ingat lagi?
Penas yang menyengat, dingin yang mencekik bahkan badai yang bergemuruh takkan jadi masalah asalkan kita masih bisa saling melihat satu sama lain.
Ada tawa sejuk di setiap terik matahari,
ada genggaman hangat di setiap rintik hujan dan semua itu pernah kita jalani DULU.

Kau tau banyak hal yang ingin aku sesali,
namun aku tak akan bisa menyesali semua kisah ini.
Kisah yang mungkin terlalu singkat dan terlalu cepat bergulir.
Kisah yang Manis.

Aku tak ingin berbohong begitu banyak pelajaran yang ku dapat dari sepotong kue manis kita,
namun semuanya terlalu cepat kita habiskan.
Sudahlah,
bukankah itulah akhir kisahnya?
Mengapa menyesalinya?
Tak mengapa bila ingin kau tangisi,
tak ada yang salah dari kita yang sudah mencoba menjadikan yang tak ada menjadi ada,
tak ada yang akan sangsi bila kita kelak ingin mengenangnya,
bukankah cerita ini begitu unik?
Begitu tak terduga?
Penuh warna dan abstrak.
Sebuah perbedaan yang berusaha di samakan,
air dan minyak yang berusaha menyatu,
hitam dan putih yang ingin menjadi abu-abu.
 
Setelah beberapa hari berlalu,
bahkan ketika bayangmu benar-benar hilang dari jangkauanku.
Aku rasa aku telah benar-benar bisa berdiri sendiri.
Berdiri dengan satu kaki, meski perlahan dan dengan sedikit terengah akhirnya aku berhasil.
Tak sepenuhnya berhasil mungkin, karena tak dipungkiri semua organ masih merindukan sebagian dirinya yang kosong,
meski mencoba menggantikan dengan yang lain namun tak akan sepenuhnya pulih bukan?

Ada begitu banyak yang hilang dan pergi,
ada begitu banyak yang tak lagi bisa kembali.
Masihkah ada  rasa yang tersisa?
Masihkah ada emosi yang menyala?

Rabu, 13 Januari 2016

Sapaku untukMu yang telah jauh kutinggalkan

Hai Tuhan,
Apa kabarmu disana? Aku yakin kau amat baik-baik saja, aku hanya ingin menyapamu dan mengucapkan "SELAMAT MALAM"
Bolehkah aku sedikit bercerita?
Yaaa... aku tak tau mau bercerita pada siapa lagi
Kau tau, Aku rindu padaMu!
Meski ku tau selama ini langkahku mengarah bukan kepadamu,
Aku tau jiwaku tak selalu berpegang kepadamu,
Aku tau laku dan haturku tak mampu lagi senangkan hatimu,
Aku rasa kau masih mengenaliku,
Kau masih mengetahui isi hatiku dengan baik meski asing tak urung menyelimutiku terhadapmu
Hingga akhirnya lagi-lagi aku terjatuh, terluka, berdarah, namun tak menangis kau tau mengapa?
Aku MALU! Aku terlalu malu menangis di hadapanmu, aku terlalu malu mengadu kepadamu, aku terlalu malu kembali berlari memelukmu. Aku malu Tuhan.
Kau tau Tuhan,
akhir-akhir ini banyak hal yang tak mampu aku pahami, hari yang aku jalani terasa tidak seberwarna kemarin, hidup yang aku rasakan tidak lagi setangguh waktu itu.
Kadang-kadang aku takut, takut sendiri, Takut sama mereka yang mengenalku maupun tidak, takut pada hal yang akan aku hadapi selanjutnya, takut pada masa lalu, takut pada masa kini, takut pada isi dunia.
Berkali mencari dan mengobatinya namun tetap saja jiwaku tak mampu benar-benar pulih, Banyak resah dan gelisah yang enggan beranjak dari hati ini, dan aku tak mengerti ada apa dengan diriku Tuhan.
Rasanya,
Aku sudah menghabiskan banyak waktu yang pasti sangat berharga buatmu,
Masih kah kau disana?
Masih kah kau mendengarku?
Masih kah kau bersamaku TUHAN?