Minggu, 07 Agustus 2016

Ketika rumah menjadi tempat terbaik melepas lelap

"pernah kita sama-sama susah terperangkap di dingin malam
terjerumus dalam lubang jalanan digilas kaki  sang waktu yang sombong,
terjerat mimpi yang indah lelah
pernah  kita sama-sama rasakan panasnya mentari hanguskan hati
sampai saat kita  nyaris tak percaya bahwa roda nasib memang berputar
sahabat, masih ingatkah kau?"

ada sendu yang mengena mendengar penggalan lirik itu,
lagu milik salah satu penyanyi legendaris begitu terkenal
tiba-tiba saja hati ingin mencurahkan isinya walau hanya sekilas
tiba-tiba saja jemari kembali ingin menari di atas tuts tak berirama
tiba-tiba saja rumah menjadi tempat yang paling kurindukan untuk pulang dan melepaskan lelap
tiba-tiba saja tempat perantauan menjadi tempat yang dipenuhi resah dan gelisah
tiba-tiba saja ada sosok yang terlintas ingin lekas bersua

entah gemuruh apa yang ingin tersampaikan
banyak hal yang ingin namun tak mampu untuk ku ceritakan
ada masalah yang menguasai, ada pribadi yang mengganggu,
ada yang begitu membuat nyaman, namun adapula tawa yang sengaja ditampilkan untuk menyembunyikan SEPI
sekali lagi banyak yang ingin tersampaikan namun tak tau harus memulainya darimana
rasanya bungkam dan menyatu dengan sepi akan membuatnya sedikit lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar