Senin, 23 Mei 2016

Tak Memungkirinya, Aku pernah benar-benar hampir TERGELETAK!

Tak akan ku sangkal lagi, kemarin aku sempat jatuh pada lubang yang sama,
jatuh pada rasa sakit yang sama,
menangisi permasalahan yang sama,
dan terperosok pada cerita yang sama.
Dalam kasus ini aku tak benar-benar tau apakah kisah atau pemainnya yang salah,
aku juga tak bisa pastikan kalau ini semua salah, hanya karena semua harus berhenti sekarang. Mungkin Tuhan berkata sekarang belum waktunya kami untuk bersama,
mungkin besok,
lusa,
kelak
atau tidak sama sekali.

Aku tak akan pungkiri, aku pernah menangisinya dengan tersedu-sedu,
aku pernah menyesalinya,
aku pernah kecewa bahkan sangat marah pada Tuhan menanyakan hal yang lagi-lagi sama.

Tuhan,
Kau pasti tau saat itu aku benar-benar merasa lemah tak berdaya dan tak berarti apa-apa lagi aku harap Kau memakluminya sekali lagi.

Dari awal sebenarnya aku sadar kalau kisah ini tak akan pernah ada akhirnya,
dan aku sadar beberapa kali kau peringatkan aku dengan halus,
hanya saja aku yang terlalu angkuh bahkan sengaja menutup mata dan hatiku untukmu.
Dari awal sebenarnya aku tau kalau kisah ini sekali lagi akan menyakitiku
namun sekali lagi keangkuhan ku terlalu menganggap remeh rasa sakit itu.

Dan untuk kamu, Apakah kau ingat?
Kita pernah bercerita tentang satu bintang di langit,
kita pernah bercerita tentang negeri impian kita dengan istana kecil sederhana serta bidadari kecil yang meramaikannya dengan kebahagiaan,
masihkah kau ingat?
Kita pernah bercerita tentang satu nada yang sama yang terus berdentang di dalam hati kita.
Kita pernah bercerita tentang perjalanan panjang yang mungkin akan sangat melelahkan tapi semua tidak akan terasa karena adanya KITA.
Kau ingat?
Ketika salah satu dari kita mulai mencoba menyerah dan tak ingin lagi berlari bersama namun uluran tangan yang lain masih ada untuk menguatkannya kembali.
Adakah semua itu kau ingat lagi?
Penas yang menyengat, dingin yang mencekik bahkan badai yang bergemuruh takkan jadi masalah asalkan kita masih bisa saling melihat satu sama lain.
Ada tawa sejuk di setiap terik matahari,
ada genggaman hangat di setiap rintik hujan dan semua itu pernah kita jalani DULU.

Kau tau banyak hal yang ingin aku sesali,
namun aku tak akan bisa menyesali semua kisah ini.
Kisah yang mungkin terlalu singkat dan terlalu cepat bergulir.
Kisah yang Manis.

Aku tak ingin berbohong begitu banyak pelajaran yang ku dapat dari sepotong kue manis kita,
namun semuanya terlalu cepat kita habiskan.
Sudahlah,
bukankah itulah akhir kisahnya?
Mengapa menyesalinya?
Tak mengapa bila ingin kau tangisi,
tak ada yang salah dari kita yang sudah mencoba menjadikan yang tak ada menjadi ada,
tak ada yang akan sangsi bila kita kelak ingin mengenangnya,
bukankah cerita ini begitu unik?
Begitu tak terduga?
Penuh warna dan abstrak.
Sebuah perbedaan yang berusaha di samakan,
air dan minyak yang berusaha menyatu,
hitam dan putih yang ingin menjadi abu-abu.
 
Setelah beberapa hari berlalu,
bahkan ketika bayangmu benar-benar hilang dari jangkauanku.
Aku rasa aku telah benar-benar bisa berdiri sendiri.
Berdiri dengan satu kaki, meski perlahan dan dengan sedikit terengah akhirnya aku berhasil.
Tak sepenuhnya berhasil mungkin, karena tak dipungkiri semua organ masih merindukan sebagian dirinya yang kosong,
meski mencoba menggantikan dengan yang lain namun tak akan sepenuhnya pulih bukan?

Ada begitu banyak yang hilang dan pergi,
ada begitu banyak yang tak lagi bisa kembali.
Masihkah ada  rasa yang tersisa?
Masihkah ada emosi yang menyala?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar