Selasa, 11 November 2014

Inginku menjadi!

torehan rintik hujan sore itu masih saja menggantung bergelayut bersama awan,
tak cukup mampu untuk menjatuhkan jiwanya
melukiskan serpihan senja yang enggan meronakan percikan jingga yang dimilikinya
aroma tanah basah merasuk ke indra pernapasan, pekatnya suhu lembab membelai lembut pada indra perasa.

hingga tanpa sadar ada putaran-putaran rasa hangat yang menjalar pada hati kecil ini, ada gejolak-gejolak yang tak lagi asing pada benak ini.
selalu saja ada tempat yang terlintas sebab oleh situasi yang tak sengaja terlewat.
membuat paras membeku, memaksa raga tersentak, menjadikan nurani terenyuh olehnya.

kala itu indah, kala itu syahdu, namun kala itu telah pergi.
kala dimana hidup tak nampak beban,
kala dimana senja menjadi teman,
kala dimana setiap nafas adalah senyuman.
masihkah ia membekas?
sedikit jejak hangat meski tak nampak
sedikit pelangi berwarna meski tak megah

inginku menjadi penyair puisi kala itu,
menuliskan setiap skenario drama indah yang akan terlakoni secara manis, menampakkan peran setiap pelakunya yang penuh sukacita tanpa perlu ada deru air mata, dan perih hati yang terluka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar