Dan ketika melihatmu bahagia dengan yang lain, sungguh membuatku terhentak, terpaku tak mampu memberi ekspresi apapun.
Cukup tau, diam dan menguatkan hati.
Iya, tak perlu menangis atau menyesalinya bukan?
Meski rongga dada tak mampu berdusta ia begitu terpukul dan belum cukup siap menerimanya.
Meski mulut tak cukup kuat untuk terus bungkam seperti ini.
Meski nalar tak tau harus merespon seperti apa lagi, terlalu terhimpit oleh berjuta pecahan yang perlahan-lahan merefleksikan bayang-bayang itu.
Kau tau? Aku belum bisa membayangkan rangkulan itu kau berikan pada sosoknya.
Aku tak sempat membayangkan hangat genggamanmu kini miliknya.
Aku tidak pernah membayangkan kau, iya kau kini jadi milik wanita lain.
Wanita yang aku tau mungkin tak sebanding denganku, wanita yang aku tau mungkin melebihi diriku.
Betapa ingin diriku menghempaskan hati ini yang telah remuk luluh lantah olehmu.
Betapa ingin diriku membunuh semua rasa yang masih tertinggal dan tertanam dalam hatiku.
Betapa aku ingin menghilangkan semua memori itu.
Dan betapa sesungguhnya aku ingin sekali menyerah dan berhenti berjuang untuk hidupku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar