Kekacauan hati kembali menyerang jiwa dan pikiranku,
Aku sadar betul aku terlalu lemah untuk dapat begitu saja melepaskanmu, yang aku kira akan semudah yang aku pikirkan.
Namun resah tetap saja tak henti terus menerus mengganggu ku.
Menjerumuskan pada flashback memori yang tak aku inginkan.
Angin sepoi pun akhirnya merontokkan daun terakhir yang susah payah bertahan pada ranting kecil rapuh, menerbangkannya tanpa arah dan tujuan. Dan ia tak lagi dapat mengelaknya, ia tak mampu lagi melawannya, karena ia sesungguhnya tau ia tak mampu lagi terus berdusta.
Sudah terlalu banyak dusta dan luka yang ia lewati dengan angkuhnya, namun betapa sebenarnya hati kecil pun tak mampu menghadapinya.
Bahkan ejaannya membuat semuanya terasa begitu ambigu, mengalunkan hal yang tak terkendali lagi.
Aku sadar, dulu pernah begitu angkuh menyanggupi segalanya,
Mengiyakan setiap tetes drama yang harus dilakoni dengan hati-hati,
Dan bodohnya organ itu kembali turut serta bekerja memasuki dunia yang bukan miliknya.
Begitu banyak rasa yang ingin kubunuh, kumatikan dan kukubur dalam-dalam.
Hampa,
Hilang,
Putus asa,
Begitu merajai duniaku kini.
Hingga pelarian terus saja ku ciptakan begitu megah.
Membuatku semakin nampak menjadi sosok yang menyedihkan, membuat ku jadi sosok yang nampak tak mampu berdiri dengan kedua kakiku.
Sebenarnya, mengapa ia begitu lemah?
Selemah itu kah? Tak ada lagikah sumber energi yang ia miliki?
Terlalu redup, remang, samar!
Dentingan lonceng jiwa tak lagi terdengar meski samar.
Petikan dawai sanubari pun telah benar-benar berhenti mengalun.
Hanya ruangan kosong penuh debu dan tak lagi terjamah, menggambarkan rasa frustasi yang tak lagi terkendali.
Mencoba terus menggapai-gapai apapun yang ada di sekitarnya.
Mengerang layaknya binatang jalang yang kehilangan arah pulang.
Menoreh tabir-tabir luka yang tak mampu lagi tersembuhkan.
Membuat sosoknya tak lagi berjiwa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar