Kau tau? Bahkan ketika langkahku tak mampu lagi mengejar bayangmu, relung hatiku masih saja dipenuhi oleh semua jejakmu.
Batin dan anganku tak lagi mampu berkata indah layaknya penyair, karena kau tau saat ini betapa ia hanya dipenuhi oleh kerinduan pada kenangan dan ceritanya.
Betapa saat ini ia berusaha keras untuk menahan dan meredam bulir-bulir hangat agar tak pergi meninggalkan tempat seharusnya dimana ia berada, layaknya kau yang dengan mudahnya terbang melayang dari tempat ternyaman yang dahulu telah aku berikan dengan sepenuh hati.
Aku tau tak seharusnya ia kembali seperti ini lagi, tak pantas diriku menangisi hal yang memang bukan untuk ku.
Tapi betapa logika memang tak pernah sejalan dengan hati. Betapa hati terkadang menolak teguran nurani untuk menghentikan semuanya.
Betapa mata dan hati terus saja mengacuhkan akal dan mulut yang menggebu menegaskan jiwanya tak terluka!
Begitu banyak ketukan jam yang kuhabiskan untuk berusaha bangkit dari hempasan yang kau ciptakan. Namun tetap saja hitungan kuantitatif tak manpu mengukur berapa banyak luka yang kau akibatkan.
Aku tau dengan sangat sadar jika saat ini aku begitu merindukannya, dan tak mampu lagi bibirku menghindari rasa itu.
Aku hanya tak ingin terus memaksa menghentikannya, seperti dahulu ketika aku harus memaksa menerima keadaan kalau tak ada KITA lagi, yang ada hanya kau dan aku yang berjalan saling berjauhan. Iya. Aku tak ingin memaksanya. Aku tak ingin terus menyakitinya. Tak lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar