Hembusan angin malam tak pernah terasa sepekat ini,
Ada beberapa hal yang telah hilang tak seharusnya kembali.
Ada beberapa waktu yang terlewati tak mesti diulang kembali
Meski sesungguhnya betapa kebiasaan itu tak pernah pudar dari langkah kaki ini.
Hanya saja, bukankah akan terasa semakin asing jika mencoba memaksakan kehendak?
Bukankah tak ingin lagi menyakiti organ sensitif itu?
Bukankah telah cukup banyak rasa yang telah ia kecap?
Lalu? Apalagi yang diinginkannya?
Tak ada! Seharusnya jawaban itu sudah cukup!
Meski mata lagi-lagi tak mampu berdusta bahwa baranya tak lagi menyala, telah pudar menjadi debu tersiram oleh bulir-bulir yang tak hentinya tercurah.
Tangan yang erat mendekap dada terus meyakinkan kalau dirinya akan baik saja.
Bibir yang berusaha keras tersenyum dalam curahan pedihnya napas yang menderu.
Dan seluruh organ yang tak hentinya mencoba untuk tetap bekerja sebagaimana adanya. Menunjukkan jika tak ada apa-apa.
Namun tanpa satu jiwapun tahu bagaimana remuknya seluruh tubuh ini jika larut menjelang, bagaimana ia mencoba menyusun dan merekatkannya lagi jika fajar menjelang. Tak ada yang tahu.
Seharusnya aku tak perlu menjadi seprofesional ini untuk dapat mendustai mereka juga diriku sendiri. Dengan topeng titanium yang terus menerus melekat menghiasi senyuman.
Dan rasanya belum miliki keberanian yang cukup untuk membuat sedikit celahnya.
Aku sendiripun sebenarnya tak begitu tahu kapan semua rasa yang tercampur dengan bubuk-bubuk abstraksi ini akan berakhir dan kembali menjadi stabil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar