Sabtu, 07 Juni 2014

Ketika kau mencintai awan

sesulit inikah mencintai awan?
hanya berharap ia akan mengerti, melihat dan peduli
sebegitu tinggi mencapai angkasa
tak sanggup mengejar bahkan meraihnya
sempat tergapai tapi sulit untuk menjaganya tetap di genggaman
hanya dapat menyimpan rapi di dalam kalbu, melihat langit yang telah merebutnya,
yang tak mungkin akan tersentuh lagi walau di ujung jari.
cukup menerima setiap tetesan-tetesannya,
gema raungan halilintar dan terpaan hembusan badainya.
hanya untuk bisa menjadi penonton indahnya serpihan cahaya matahari ketika kau bergayut dengan langit,
setidaknya bisa menerima kehangatan itu,
walau amarah telah bergemuruh di selangsang dada, membuncah ingin memilikinya.
tapi semuanya semakin menambah metamorfosa bayangan yang tak nyata, mosaik mimpi yang tak bisa terbentuk.
merunduk, meratapi hati!
bahkan hati tak rela mengasihani diri.
Mengapa terus meratapinya? sebuah tanya abadi berputar dalam otak kecil tak berdaya.
sungguh tragis, dan sukma tak tega terus mengelak menambah kebohongan.
Sampai kapan?

2 komentar: