Rabu, 15 Oktober 2014

Hanya sekeping partikel, tak lebih!

Sesungguhnya moral tak lagi benar-benar miliki esensinya, meski ada sedikit penyesalan yang mengalir,
Bayang itu tak pernah benar abadi, kelak akan tiba malam mendekapnya erat dalam aromanya
Sejuta galaksi berpendar kembali merasuki sekeping debu tak berarti, mencoba memahami setiap detail partikelnya.
begitu rumit dan kompleks.
Masih saja ada setitik embrio kehidupan yang berjuang keras melibatkan eksistensinya
Terus saja memaparkan kebajikan di setiap arusnya,
Memuncak! menggema!
Mengembalikan frekuensi yang tak lagi nampak sama, walaupun alunannya merayu tetap saja tak akan menghentikan reaksinya.
Lebur! berbaur dalam lautan ledakan supernova.
Terus mengambang dalam ruang hampa, tanpa gravitasi, tanpa rotasi,
Tanpa arah dan tujuan!

akan kah senja sedikit melambat untuk membiarkan keelokan sinarnya kekal? Aku rasa tidak!

Kamis, 09 Oktober 2014

Apa lagi?

Entah apa lagi sekarang,
Jiwa yang telah membumi, dan raga yang telah menari bersama alam belum cukup tegas menopangkan massanya.
Mengulang pertanyaan sama yang bahkan telah membeku.
Meski benak sesungguhnya telah lelah meniup helanya
Sungguh, tak mampu lagi membiarkannya seperti itu, hatinya terlalu keras bekerja menganggap semuanya sudah sepantasnya meski yang terlihat nampaknya tidak baik-baik saja
Meski tak terdengar dirinya meraung menangisi perihnya goresan yang belum sembuh benar

Lantas!
Apakah bungkam akan membantunya?
Apakah senyap akan mengakhirinya?
Mengapa sendu terus merajainya?
Kembali terperosok ke dalam lautan resah,
Tetesan-tetesan peluh tak lagi bekerja cukup baik menghapus setiap bulir keangkuhan
Gemerisik nyiur yang bersahutan tak lagi mampu membawa damai,
Ranting pohon ketapang perlahan meluruh termakan terik matahari
Berkas-berkas madu kini terasa hambar
Meski terus mencarinya, tak lagi ada yang mampu mengembalikannya, terlalu banyak usaha yang ia curahkan.
Namun tetap saja, akhirnya hampa.
Kosong!
Sebegitu kuatnya kah pengaruh sosok itu dalam benaknya?
Hingga ketika bayangnya pergi, kau tak mampu lagi mengisi kekosongan yg tercipta.
Bodoh!

Selasa, 30 September 2014

Ambigu?

Untuk kesekian kalinya, beberapa hal yang akhirnya membuat ku ambigu.
Meski ku sadari diriku sebenarnya masih saja terus terluka,
Meski terus saja ada bulir merebak yang tak tertahankan,
Meski tetap ada tangisan di balik topeng imaji yang ku buat,
Meski berjuta peran ku mainkan dari cerita yang juga berbeda.
Namun tetap saja banyak hal yang tak mampu meredakannya.
Tak lelahkah hati terus menyesak?
Mengapa pertanyaan yang sama terus menerus memenuhi.

Seberapa salahkah jiwa ini sebenarnya? Hingga untuk menebusnya butuh perjuangan yang tak sedikit.
Seberapa jauhkah kaki ini telah melangkah, hingga untuk berbalik pun ia tak tau arah lagi.
Tak ada jalan lagi kah untuk membuatnya mampu menjawab? Butuhkah ia sosok untuk membantunya?

Sesungguhnya telah ada sosok yang bersedia membantu menopangnya, namun masih saja ada ragu yang menguasai organ pikirannya. Terlalu banyak percakapan yang tak hentinya saling meyakinkan. Dan akhirnya kembali tercipta ambigu yang meradang!

Sabtu, 20 September 2014

Ketika putus asa kembali merajai, banyak kalimat yang ingin tersampaikan!

Kekacauan hati kembali menyerang jiwa dan pikiranku,
Aku sadar betul aku terlalu lemah untuk dapat begitu saja melepaskanmu, yang aku kira akan semudah yang aku pikirkan.
Namun resah tetap saja tak henti terus menerus mengganggu ku.
Menjerumuskan pada flashback memori yang tak aku inginkan.

Angin sepoi pun akhirnya merontokkan daun terakhir yang susah payah bertahan pada ranting kecil rapuh, menerbangkannya tanpa arah dan tujuan. Dan ia tak lagi dapat mengelaknya, ia tak mampu lagi melawannya, karena ia sesungguhnya tau ia tak mampu lagi terus berdusta.
Sudah terlalu banyak dusta dan luka yang ia lewati dengan angkuhnya, namun betapa sebenarnya hati kecil pun tak mampu menghadapinya.
Bahkan ejaannya membuat semuanya terasa begitu ambigu, mengalunkan hal yang tak terkendali lagi.

Aku sadar, dulu pernah begitu angkuh menyanggupi segalanya,
Mengiyakan setiap tetes drama yang harus dilakoni dengan hati-hati,
Dan bodohnya organ itu kembali turut serta bekerja memasuki dunia yang bukan miliknya.
Begitu banyak rasa yang ingin kubunuh, kumatikan dan kukubur dalam-dalam.
Hampa,
Hilang,
Putus asa,
Begitu merajai duniaku kini.
Hingga pelarian terus saja ku ciptakan begitu megah.
Membuatku semakin nampak menjadi sosok yang menyedihkan, membuat ku jadi sosok yang nampak tak mampu berdiri dengan kedua kakiku.
Sebenarnya, mengapa ia begitu lemah?
Selemah itu kah? Tak ada lagikah sumber energi yang ia miliki?

Terlalu redup, remang, samar!
Dentingan lonceng jiwa tak lagi terdengar meski samar.
Petikan dawai sanubari pun telah benar-benar berhenti mengalun.
Hanya ruangan kosong penuh debu dan tak lagi terjamah, menggambarkan rasa frustasi yang tak lagi terkendali.
Mencoba terus menggapai-gapai apapun yang ada di sekitarnya.
Mengerang layaknya binatang jalang yang kehilangan arah pulang.
Menoreh tabir-tabir luka yang tak mampu lagi tersembuhkan.
Membuat sosoknya tak lagi berjiwa!

Rabu, 10 September 2014

Tak satupun!

Hembusan angin malam tak pernah terasa sepekat ini,
Ada beberapa hal yang telah hilang tak seharusnya kembali.
Ada beberapa waktu yang terlewati tak mesti diulang kembali
Meski sesungguhnya betapa kebiasaan itu tak pernah pudar dari langkah kaki ini.
Hanya saja, bukankah akan terasa semakin asing jika mencoba memaksakan kehendak?
Bukankah tak ingin lagi menyakiti organ sensitif itu?
Bukankah telah cukup banyak rasa yang telah ia kecap?

Lalu? Apalagi yang diinginkannya?
Tak ada! Seharusnya jawaban itu sudah cukup!
Meski mata lagi-lagi tak mampu berdusta bahwa baranya tak lagi menyala, telah pudar menjadi debu tersiram oleh bulir-bulir yang tak hentinya tercurah.
Tangan yang erat mendekap dada terus meyakinkan kalau dirinya akan baik saja.
Bibir yang berusaha keras tersenyum dalam curahan pedihnya napas yang menderu.
Dan seluruh organ yang tak hentinya mencoba untuk tetap bekerja sebagaimana adanya. Menunjukkan jika tak ada apa-apa.

Namun tanpa satu jiwapun tahu bagaimana remuknya seluruh tubuh ini jika larut menjelang, bagaimana ia mencoba menyusun dan merekatkannya lagi jika fajar menjelang. Tak ada yang tahu.

Seharusnya aku tak perlu menjadi seprofesional ini untuk dapat mendustai mereka juga diriku sendiri. Dengan topeng titanium yang terus menerus melekat menghiasi senyuman.
Dan rasanya belum miliki keberanian yang cukup untuk membuat sedikit celahnya.
Aku sendiripun sebenarnya tak begitu tahu kapan semua rasa yang tercampur dengan bubuk-bubuk abstraksi ini akan berakhir dan kembali menjadi stabil.

Selasa, 02 September 2014

Menangislah!

Rangka dalam daging akhirnya meluruh, menghancurkan bentuknya.
Mengapa ia terus berharap? Mengapa tak bisa berdiri sendiri tanpa tergantung dan kembali mengemis padanya.
Lihat kan? Dia tak sedikitpun punya niat untuk berbalik padamu. Kenapa?
Kenapa tak jemu-jemunya kau berjuang!
Tak sepantasnya kau miliki harapan untuk sosok yang tak menginginkanmu lagi sedikitpun.

Menangislah, tangisi penolakan yang kau terima.
Tangisi kelalaianmu yang tak mampu menghindar darinya
Tangisi ketololanmu yang terus berharap tanpa henti. Tangisilah itu dan jadilah cukup terluka untuk itu.
Tak mengapa itu pelajaran yang kelak akan menyadarkanmu, meski mungkin kau akan lakukan kebodohan yang sama lagi.
Pelajarilah, dan tanyakan jika ada yang tak kau mengerti, bukan bertanya padanya. Tapi bertanyalah pada Tuhan, bertanyalah orang disekitarmu yang kau tau tak akan pernah menyakitimu.
Beranilah berbuat salah, dan beranilah berlaku bodoh untuk kembali menyadarkanmu kalau kau sudah cukup untuk terus mengejarnya dengan hatimu!

Tak ingin memaksanya!

Kau tau? Bahkan ketika langkahku tak mampu lagi mengejar bayangmu, relung hatiku masih saja dipenuhi oleh semua jejakmu.
Batin dan anganku tak lagi mampu berkata indah layaknya penyair, karena kau tau saat ini betapa ia hanya dipenuhi oleh kerinduan pada kenangan dan ceritanya.
Betapa saat ini ia berusaha keras untuk menahan dan meredam bulir-bulir hangat agar tak pergi meninggalkan tempat seharusnya dimana ia berada, layaknya kau yang dengan mudahnya terbang melayang dari tempat ternyaman yang dahulu telah aku berikan dengan sepenuh hati.

Aku tau tak seharusnya ia kembali seperti ini lagi, tak pantas diriku menangisi hal yang memang bukan untuk ku.
Tapi betapa logika memang tak pernah sejalan dengan hati. Betapa hati terkadang menolak teguran nurani untuk menghentikan semuanya.
Betapa mata dan hati terus saja mengacuhkan akal dan mulut yang menggebu menegaskan jiwanya tak terluka!

Begitu banyak ketukan jam yang kuhabiskan untuk berusaha bangkit dari hempasan yang kau ciptakan. Namun tetap saja hitungan kuantitatif tak manpu mengukur berapa banyak luka yang kau akibatkan.
Aku tau dengan sangat sadar jika saat ini aku begitu merindukannya, dan tak mampu lagi bibirku menghindari rasa itu.
Aku hanya tak ingin terus memaksa menghentikannya, seperti dahulu ketika aku harus memaksa menerima keadaan kalau tak ada KITA lagi, yang ada hanya kau dan aku yang berjalan saling berjauhan. Iya. Aku tak ingin memaksanya. Aku tak ingin terus menyakitinya. Tak lagi!