12:21 AM
Baru ingat hari ini tanggal 13 yaa?
😁 haha tertawaan yang sekali lagi sama tiap harinya.
Tepat sebulan setelah lelucon itu terjadi.
Akhirnya aku telah benar-benar bisa menerima berakhirnya semua cerita lucu yang tak bisa membuatku tertawa berkali-kali.
Menyenangkan bila mengingatnya kembali mulainya cerita itu yang berakhir menjadi lelucon perih yang menertawakan diri dalam tangis.
Sudahlah, aku tak ingin memutarnya kembali, aku bahkan tak akan memilih untuk merangkainya lagi.
Yang bisa kita lakukan sekarang yaitu cukup kuat dan sabar untuk menerima kenyataan yg demikian adanya.
Aku harap kau bahagia dengan dunia dan mimpimu, begitupun aku disini telah berusaha sedemikian kerasnya untuk merangkai cerita baru walaupun tak denganmu lagi kawan!
Meskipun sebenarnya hati dan raga belum sepenuhnya pulih untuk melihatmu bersama sosok baru yang menggantikan tempatku, aku harap semua rasa itu hanya sementara, aku yakin kelak akan cukup kuat untuk tetap menatapmu namun tanpa perasaan goyah sedikitpun. Yaa kelak! Aku bisa pastikan!
Selamat 1 bulan, yaa bukan lagi 11 bulan! 😊
Jumat, 18 Juli 2014
Rabu, 18 Juni 2014
hitam yang pudar
sekali lagi sosokku melemah,
aku terus saja tak henti menyesali,
mengapa dunia begitu menentang kesatuan ini?
bahkan kaupun perlahan menyerah dengan semua pertentangan ini,
bahagiakah kau?
tak taukah dirimu aku disini terus mengelus dada,
aku terus berusaha menahan dentuman-dentuman palu godam yang terus menghantam ku,
aku terus menahan bulir air yang telah menggantung di pelupuk mata.
mengapa aku tak bisa mengalihkan semuanya dari tatapan nanarku?
semuanya seolah-olah terus berpendar memenuhi benak, meski aku telah berusaha keras untuk menghalaunya.
mengapa ketika kau harus pergi, kau tak bisa pergi begitu saja?
mengapa kau mesti meninggalkan luka yang tak bisa sembuh?
aku harap semua ini hanya mimpi buruk, dan ketika aku bangun aku tak lagi tertekan dengan ketakutanku.
namun rasa sakit ini benar-benar nyata, dia bukan mimpi, dialah realita!
berulang kali ku coba untuk berlari pergi, namun bayanganmu terus menghantui nyataku.
salahkah aku berusaha menghindari bahagiamu?
hingga tak mampu lagi lidah ini bergumam, hanya mampu memaki dalam hati,
makian kasar untuk pertemuan yang sama sekali tak kuharapkan.
aku tak peduli lagi dengan diriku, bahkan pelangi ku kini kau hitamkan.
aku terus saja tak henti menyesali,
mengapa dunia begitu menentang kesatuan ini?
bahkan kaupun perlahan menyerah dengan semua pertentangan ini,
bahagiakah kau?
tak taukah dirimu aku disini terus mengelus dada,
aku terus berusaha menahan dentuman-dentuman palu godam yang terus menghantam ku,
aku terus menahan bulir air yang telah menggantung di pelupuk mata.
mengapa aku tak bisa mengalihkan semuanya dari tatapan nanarku?
semuanya seolah-olah terus berpendar memenuhi benak, meski aku telah berusaha keras untuk menghalaunya.
mengapa ketika kau harus pergi, kau tak bisa pergi begitu saja?
mengapa kau mesti meninggalkan luka yang tak bisa sembuh?
aku harap semua ini hanya mimpi buruk, dan ketika aku bangun aku tak lagi tertekan dengan ketakutanku.
namun rasa sakit ini benar-benar nyata, dia bukan mimpi, dialah realita!
berulang kali ku coba untuk berlari pergi, namun bayanganmu terus menghantui nyataku.
salahkah aku berusaha menghindari bahagiamu?
hingga tak mampu lagi lidah ini bergumam, hanya mampu memaki dalam hati,
makian kasar untuk pertemuan yang sama sekali tak kuharapkan.
aku tak peduli lagi dengan diriku, bahkan pelangi ku kini kau hitamkan.
warna hitam yang pudar, bagai malaikat miliki sayap yang rapuh.
![]() |
| only true love can change the black angel with her broken wings! |
Selasa, 17 Juni 2014
sekali lagi
Sekali lagi,
Tak sadarkah kau seberapa
kuat aku berusaha menahan deru jantung yang ingin melompat keluar dari
persembunyiannya?
Hingga akhirnya pelukan itu,
menjadi pelukan terakhir yang tidak perlu aku maknai apa-apa, sama sekali
JANGAN!
Karena seharusnya itu
hanyalah pelukan persahabatan, pelukan menguatkan untuk menghadapi dunia yang
berat.
Meski demikian,
Hangatnya masih sama,
aromanya masih sama, dan nyamannya masih seperti dulu.
Akankah hati rela bila kelak
semuanya bukan untuknya lagi? Melainkan untuk jiwa lain?
Mungkin ia akan berteriak
dan memaki,
Karenanya ia tak perlu tau,
Karenanya ia harus pergi,
Karenanya ia harus
mempersiapkan diri suatu hari kelak.
Tak ingin memaknainya
terlalu dalam, namun justru telah terlanjur membekas penuh. Entah luka ataupun
tangis.
Yang aku tau, hati ini sudah
pasti kehilangan!
Kehilangan tempat ternyaman
yang pernah ia miliki beberapa saat yang lalu!
Sabtu, 14 Juni 2014
abu-abu
lagi..
dentang itu dan nada itu tak pernah terasa asing dalam dada,
tak pernah lupa akan makna.
kisah tentang perbedaan,
kisah tentang keyakinan,
kisah tentang perpisahan, mungkin tak pernah ada penyatuan.
sesulit ini kah perpisahan ini?
jawablah Tuhan!
tak adakah cara menjadikannya tetap sama? tak adakah kuasamu tuk menyatukannya?
Mengapa Kau terus diam?
mengapa begitu rumit mengerti kata-Mu?
dan akhirnya kurasa jawaban-Mu takkan pernah adil untukku juga untuknya.
sudahlah,
takkan pernah ada penyesalan atas apa yang telah terjadi,
takkan pernah ada air mata untuk hati yang terluka,
takkan pernah ada lagi mulut dan lidah beradu berkata.
demikianlah akhirnya.
Abu-abu.
dentang itu dan nada itu tak pernah terasa asing dalam dada,
tak pernah lupa akan makna.
kisah tentang perbedaan,
kisah tentang keyakinan,
kisah tentang perpisahan, mungkin tak pernah ada penyatuan.
sesulit ini kah perpisahan ini?
jawablah Tuhan!
tak adakah cara menjadikannya tetap sama? tak adakah kuasamu tuk menyatukannya?
Mengapa Kau terus diam?
mengapa begitu rumit mengerti kata-Mu?
dan akhirnya kurasa jawaban-Mu takkan pernah adil untukku juga untuknya.
sudahlah,
takkan pernah ada penyesalan atas apa yang telah terjadi,
takkan pernah ada air mata untuk hati yang terluka,
takkan pernah ada lagi mulut dan lidah beradu berkata.
demikianlah akhirnya.
Abu-abu.
Masih saja aku
lagi-lagi aku masih menapak di bumi ini,
sekali lagi aku masih bangun di pagi yang nampak sama dengan biasanya,
dan sekali lagi aku bisa menikmati nafas hidup yang ditiupkan sang Maha Kuasa kepadaku,
aku masih tetap anak perempuan sederhana,
aku masih teman dari kalian yang mengenalku dengan baik,
aku masih diriku yang dulu,
aku masih ada dalam pikiranku yang terkadang tak dapat dipahami oleh beberapa orang.
dan aku masih tetap AKU!
meski ada serpihan bahagia yang perlahan luruh dalam benakku, meski ada sepenggal hati yang kini kosong, meski ada guratan perih dalam tawaku,
tak apalah, hal itu tak akan merubah diriku menjadi wanita yang tak berbentuk bukan?
aku sekali lagi mendapat pelajaran dari kehilangan,
aku sekali lagi mesti menguras habis air mataku,
aku sekali lagi harus menerima adanya perbedaan yang benar-benar tak dapat disatukan.
dan aku tak menampik perlu begitu besar hati yang lapang untuk menerima kenyataan yang mau tak mau harus kuhadapi.
meski kini langkahku masih terseok dan lukaku entah kapan akan sembuh benar
namun aku akan tetap berusaha melangkah, melangkah bersama mereka yang berdiri di sampingku,
meski aku sadar begitu terlukanya jiwa ini
namun tak akan ku padamkan mimpi mereka, mimpi orang-orang yang menyayangiku untuk melihat ku tetap kuat.
dan tak ingin lagi ada air mata yang mengalir menangisi hal yang tak ingin di tangisi, tak ingin ada lagi penyesalan untuk apa yang tak perlu disesali.
tak apa kan? itu mesti kau jalani dan akan menjadi kenangan indah yang akan kau nikmati kelak..
sekali lagi aku masih bangun di pagi yang nampak sama dengan biasanya,
dan sekali lagi aku bisa menikmati nafas hidup yang ditiupkan sang Maha Kuasa kepadaku,
aku masih tetap anak perempuan sederhana,
aku masih teman dari kalian yang mengenalku dengan baik,
aku masih diriku yang dulu,
aku masih ada dalam pikiranku yang terkadang tak dapat dipahami oleh beberapa orang.
dan aku masih tetap AKU!
meski ada serpihan bahagia yang perlahan luruh dalam benakku, meski ada sepenggal hati yang kini kosong, meski ada guratan perih dalam tawaku,
tak apalah, hal itu tak akan merubah diriku menjadi wanita yang tak berbentuk bukan?
aku sekali lagi mendapat pelajaran dari kehilangan,
aku sekali lagi mesti menguras habis air mataku,
aku sekali lagi harus menerima adanya perbedaan yang benar-benar tak dapat disatukan.
dan aku tak menampik perlu begitu besar hati yang lapang untuk menerima kenyataan yang mau tak mau harus kuhadapi.
meski kini langkahku masih terseok dan lukaku entah kapan akan sembuh benar
namun aku akan tetap berusaha melangkah, melangkah bersama mereka yang berdiri di sampingku,
meski aku sadar begitu terlukanya jiwa ini
namun tak akan ku padamkan mimpi mereka, mimpi orang-orang yang menyayangiku untuk melihat ku tetap kuat.
dan tak ingin lagi ada air mata yang mengalir menangisi hal yang tak ingin di tangisi, tak ingin ada lagi penyesalan untuk apa yang tak perlu disesali.
Kalau kau tak dapat tertawa berkali-kali untuk lelucon yang sama, Mengapa kau harus menangis berkali-kali untuk kebodohan yang sama?masih ada yang menanti di depanmu, mungkin lebih baik tapi juga mungkin akan sama buruknya,
tak apa kan? itu mesti kau jalani dan akan menjadi kenangan indah yang akan kau nikmati kelak..
TERIMA KASIH
Makin hari sepertinya segala
jenis amarah tak lagi bisa di elakkan
Perlahan-lahan semuanya
terlihat salah, tak ada celah untuk membenarkan, Bahkan otak mulai muak
dengan keadaan yang menguras emosi
Hingga ia akhirnya menyerah,
benar-benar menyerah dengan keadaan yang selama ini jatuh bangun kita
pertahankan, ia menyerah dengan perbedaan yang tak tampak adanya penyatuan.
Tuhan kini aku benar-benar
kecewa, Selama ini perbedaan selalu
terlihat indah, selama ini perbedaan akan selalu melengkapi, Tapi kenapa perbedaan yang
melingkupiku malah berbalik menyakitiku? Mengapa perbedaan yang kami miliki tak
menjadikan kami indah?
Kenapa?
Kalau akhirnya adanya agama
membuat sakit kenapa kau ciptakan begitu banyak agama yang tak bisa disatukan?
Sudahlah, cukup sampai
disini
bukan Tuhan atau siapapun yang salah. Sadarkah kau? terlalu banyak yang kau pertaruhkan untuknya, terlalu banyak yang kau tinggalkan untuknya, terlalu banyak yang telah kau korbankan, juga terlalu banyak orang-orang yang kau sakiti hatinya hanya untuk lelaki tak bertanggung jawab sepertinya?
bukan Tuhan atau siapapun yang salah. Sadarkah kau? terlalu banyak yang kau pertaruhkan untuknya, terlalu banyak yang kau tinggalkan untuknya, terlalu banyak yang telah kau korbankan, juga terlalu banyak orang-orang yang kau sakiti hatinya hanya untuk lelaki tak bertanggung jawab sepertinya?
Sekali lagi kau terjebak
dengan janji nya, sekali lagi kau terjatuh kedalam lubang yang sama, sekali
lagi kau biarkan hatimu tersakiti, dan sekali lagi kau tak sadar betapa banyak
waktu dan air mata yang kau buang percuma.
Tuhan, maafkan aku selama
ini sudah terlalu jauh melangkah meninggalkanmu, sekali lagi aku lakukan
kesalahan yang fatal, sekali lagi aku sia-siakan kau hanya untuk kebahagiaan
duniawi.
Aku tau betapa banyak dan
besar dosaku, tapi aku percaya Tuhan, kaulah satu-satunya yang mampu
memahamiku, kaulah satu-satunya yang memiliki kasih yang begitu besar dan tak
berkesudahan.
Mama dan papa, maafkan
anakmu yang selama ini tak segan membantah katamu, yang tak pernah enggan
membohongi percayamu, maafkan aku yang terlalu nakal, yang merubah putri kecilmu
menjadi wanita penuh ego dan keras kepala. Aku tau betapa selama ini kalian
ingin masuk dalam duniaku tapi aku bahkan selalu melakukan penolakan keras dan
tak membiarkan kalian menyentuhku, hingga akhirnya ketika semua telah seperti
ini, ketika lelaki itu menyakitiku aku sadar kalian yang benar-benar tulus
mencintaiku, kalian yang tak pernah berbalik pergi ketika aku kembali untuk
mencari kekuatan, kalian tetap saja mau merangkul bahkan menggendongku kembali, kalian berikan pelukan. Kalianlah satu-satunya!
Abang dan adik ku, maafkan
saudari perempuanmu satu-satunya ini yang selalu bertindak kasar, berkata
ketus, dan terkadang memarahi kalian tanpa sebab, terima kasih telah sabar
menjadi saudara yang tak pernah mendendam bahkan membenci sebagaimanapun
sikapku, sejahat apapun diriku pada kalian. Kini aku sadar seringkali kalian
mencoba memasuki imajiku bahkan mengganggu kesendirianku karena kalian
merasakan ada gejolak batin dalam diriku, karena kalian sadar ada yang tidak
beres dalam hari-hariku, karena kalian tau ada air mata yang coba ku pendam
sendiri, dan itu kalian lakukan semata-mata hanya ingin menghiburku, hanya
ingin mengeluarkanku dari frustasi yang berlebihan, namun aku menanggapinya
keterlaluan. Maaf dan Terima kasih.
Begitupun dengan semua orang
yang tanpa sadar pernah aku sakiti bahkan abaikan, tapi mereka tetap berdiri
disampingku.
Dan setelah terlalu jauh
melayang, setelah terlalu angkuh dengan kesenanganku sendiri setelah terlalu jauh pergi tanpa mau berbalik, ketika aku
terjatuh dan terluka kalianlah yang tetap menopangku agar aku tidak sampai
tergeletak.TERIMA KASIH
dan semua telah benar-benar BERBEDA
“kucinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin, dan akan ku berikan lebih dan lebih sampai akhir hayat nanti”_abdul & the coffee theory_
Dan lagi
Gema gelisah merajai nurani ketika alunan itu kembali mengalun lembut dalam
indra pendengaran, terus saja mengalir tanpa jeda.
Mengingat beberapa waktu
lampau ketika semuanya adalah awal, berharap setiap lirik menjadi realita,
hingga akhirnya semuanya tampak samar, buram dan benar-benar gelap.
Betapa manis makna di balik
setiap kata yang tak terungkap.
Terus saja merangkai kisah
di balik cermin palsu, yang sekarang telah retak berubah menjadi serpihan kaca
tajam yang pasti kan melukai.
Menyenangkan, indah, ada
senyum simpul yang tercipta dari cerita itu, sebelum semua berubah menjadi
tangis sendu menyesakkan.
Seperti inilah sandiwara
yang kau sutradarai, dan kau memainkannya dengan begitu professional!
Hingga kau menampik
kenyataan yang terus saja kau anggap naskah panggung murahan, tanpa tau semuanya
seharusnya telah berakhir.
Dan ketika kau sadar, Yang akan
ku lakukan adalah memulai untuk benar-benar mengakhirinya.
At least, aku berhasil! Aku
memenangkan parodi ini, meski tak ku pungkiri beberapa kali aku harus terjatuh
dan kembali menyusun pecahan-pecahan harapan yang sama sekali tidak ingin aku
pupuskan, meski beberapa orang bahkan mencemooh harapanku yang mereka anggap
mimpi siang bolong.
Dan
Sampai saat ini, Aku masih
bisa menatapnya seperti dahulu, aku masih bisa menyentuhnya dengan ujung
jemariku, namun kali ini dengan tatapan dan sentuhan yang BERBEDA!
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)