Kamis, 04 Desember 2014

tidakkah kalian sadar akan esensinya?

elok sinarmu masihkah akan bisa ku nikmati esok?
mungkin saja ini yang terakhir
dan mungkin saja tidak!
Aku berdiri disini sebagai sosok sederhana yang terus mengagumimu,
memegahkan pesonamu,
mengagungkan penciptamu.
akan kah kelak kau takkan seperti itu lagi?
tak lagi berpijar, meronakan warna keemasan yang kau miliki
tak lagi berpendar, mengantarkan peri kecil mimpi dalam pembaringan.

meski, tak ada tangisan yang mengantarkan kepergianmu,
tak ada sorak tawa yang menyambut kehadiranmu
namun kau tetap setia tak pernah berkhianat.
sirat tulusmu bukanlah hal yang luar biasa bagi mereka, karena keangkuhan yang merendahkan kepolosan esensimu.

Rabu, 26 November 2014

saat ia benar tak mampu

ada saat ketika hati tak mampu berbicara,
ketika jiwa tak mampu melawan hingga makna tak lagi terjawab,
terus saja merangkak, mengalunkan egonya yang tak juga terelukan.
mungkin mereka tak sedikitpun benar,
mungkin benar dunia tak lagi berbalik merengkuh hatinya
mungkin Ia kini benar-benar sendiri, bahkan bayang pun lelah mendampinginya

sudah sangat tentu mereka hidup untuk dirinya saja, tak lagi ada royalitas yg terbagi.
bahkan bertahan mendampingi rasanya terlalu berat untuknya.
haruskah hati juga menyerah bertahan? atau haruskah ia terus berdiri menunggu tanpa pengharapan?

Selasa, 11 November 2014

Inginku menjadi!

torehan rintik hujan sore itu masih saja menggantung bergelayut bersama awan,
tak cukup mampu untuk menjatuhkan jiwanya
melukiskan serpihan senja yang enggan meronakan percikan jingga yang dimilikinya
aroma tanah basah merasuk ke indra pernapasan, pekatnya suhu lembab membelai lembut pada indra perasa.

hingga tanpa sadar ada putaran-putaran rasa hangat yang menjalar pada hati kecil ini, ada gejolak-gejolak yang tak lagi asing pada benak ini.
selalu saja ada tempat yang terlintas sebab oleh situasi yang tak sengaja terlewat.
membuat paras membeku, memaksa raga tersentak, menjadikan nurani terenyuh olehnya.

kala itu indah, kala itu syahdu, namun kala itu telah pergi.
kala dimana hidup tak nampak beban,
kala dimana senja menjadi teman,
kala dimana setiap nafas adalah senyuman.
masihkah ia membekas?
sedikit jejak hangat meski tak nampak
sedikit pelangi berwarna meski tak megah

inginku menjadi penyair puisi kala itu,
menuliskan setiap skenario drama indah yang akan terlakoni secara manis, menampakkan peran setiap pelakunya yang penuh sukacita tanpa perlu ada deru air mata, dan perih hati yang terluka.

Selasa, 28 Oktober 2014

Masihkah akan ada?

Ketika bumi berputar sebagaimana mestinya, dan daun mendayu tersapu lembutnya angin,
Mengapa tanya itu masih terlontar dari hatimu?
Ketika tawa itu mulai merebak, dan air mata tak lagi tertumpah ruah.
Mengapa jiwa kembali ambigu dengan kalimat sederhana itu?
Haruskah luka itu kembali basah oleh cerita masa lalu?
Haruskah kau mengungkit dan menoreh kembali memar yang kau buat?

Sesaat semuanya seolah berhenti mengalun,
Menampar pipi yang tak lagi memancarkan kehangatan, meninggalkan jejak merah pahit tak terelakkan.
Betapapun sesungguhnya hati tak lagi merespon, namun luka yang ada kembali terkuak, membiarkannya menganga.
Menampilkan urat syaraf yang pernah putus, tulang yang pernah remuk dan darah yang pernah mengucur deras.

Masihkah akan ada hal-hal yang murni biasa? Tanpa gelombang dan reaksi dari berbagai senyawa lain?
Masihkah akan ada hari biasa tanpa setitik pun gema yang menggaung dalam nurani?
Masihkah akan ada ribuan kupu cantik tanpa taman bunga di sekitarnya?
Masihkah akan ada?

Rabu, 15 Oktober 2014

Hanya sekeping partikel, tak lebih!

Sesungguhnya moral tak lagi benar-benar miliki esensinya, meski ada sedikit penyesalan yang mengalir,
Bayang itu tak pernah benar abadi, kelak akan tiba malam mendekapnya erat dalam aromanya
Sejuta galaksi berpendar kembali merasuki sekeping debu tak berarti, mencoba memahami setiap detail partikelnya.
begitu rumit dan kompleks.
Masih saja ada setitik embrio kehidupan yang berjuang keras melibatkan eksistensinya
Terus saja memaparkan kebajikan di setiap arusnya,
Memuncak! menggema!
Mengembalikan frekuensi yang tak lagi nampak sama, walaupun alunannya merayu tetap saja tak akan menghentikan reaksinya.
Lebur! berbaur dalam lautan ledakan supernova.
Terus mengambang dalam ruang hampa, tanpa gravitasi, tanpa rotasi,
Tanpa arah dan tujuan!

akan kah senja sedikit melambat untuk membiarkan keelokan sinarnya kekal? Aku rasa tidak!

Kamis, 09 Oktober 2014

Apa lagi?

Entah apa lagi sekarang,
Jiwa yang telah membumi, dan raga yang telah menari bersama alam belum cukup tegas menopangkan massanya.
Mengulang pertanyaan sama yang bahkan telah membeku.
Meski benak sesungguhnya telah lelah meniup helanya
Sungguh, tak mampu lagi membiarkannya seperti itu, hatinya terlalu keras bekerja menganggap semuanya sudah sepantasnya meski yang terlihat nampaknya tidak baik-baik saja
Meski tak terdengar dirinya meraung menangisi perihnya goresan yang belum sembuh benar

Lantas!
Apakah bungkam akan membantunya?
Apakah senyap akan mengakhirinya?
Mengapa sendu terus merajainya?
Kembali terperosok ke dalam lautan resah,
Tetesan-tetesan peluh tak lagi bekerja cukup baik menghapus setiap bulir keangkuhan
Gemerisik nyiur yang bersahutan tak lagi mampu membawa damai,
Ranting pohon ketapang perlahan meluruh termakan terik matahari
Berkas-berkas madu kini terasa hambar
Meski terus mencarinya, tak lagi ada yang mampu mengembalikannya, terlalu banyak usaha yang ia curahkan.
Namun tetap saja, akhirnya hampa.
Kosong!
Sebegitu kuatnya kah pengaruh sosok itu dalam benaknya?
Hingga ketika bayangnya pergi, kau tak mampu lagi mengisi kekosongan yg tercipta.
Bodoh!

Selasa, 30 September 2014

Ambigu?

Untuk kesekian kalinya, beberapa hal yang akhirnya membuat ku ambigu.
Meski ku sadari diriku sebenarnya masih saja terus terluka,
Meski terus saja ada bulir merebak yang tak tertahankan,
Meski tetap ada tangisan di balik topeng imaji yang ku buat,
Meski berjuta peran ku mainkan dari cerita yang juga berbeda.
Namun tetap saja banyak hal yang tak mampu meredakannya.
Tak lelahkah hati terus menyesak?
Mengapa pertanyaan yang sama terus menerus memenuhi.

Seberapa salahkah jiwa ini sebenarnya? Hingga untuk menebusnya butuh perjuangan yang tak sedikit.
Seberapa jauhkah kaki ini telah melangkah, hingga untuk berbalik pun ia tak tau arah lagi.
Tak ada jalan lagi kah untuk membuatnya mampu menjawab? Butuhkah ia sosok untuk membantunya?

Sesungguhnya telah ada sosok yang bersedia membantu menopangnya, namun masih saja ada ragu yang menguasai organ pikirannya. Terlalu banyak percakapan yang tak hentinya saling meyakinkan. Dan akhirnya kembali tercipta ambigu yang meradang!