Selasa, 20 Januari 2026

aku yang bukan AKU

Sudah lama tidak merenungi perjalanan yang sudah ku jalani

Menanjak berliku jatuh bangun bahkan di tahun 2025 ini kurasa adalah Tahun paling mengerikan dan kejam sepanjang kehidupanku di dunia ini

Aku sangat membenci diriku, bahkan entah berapa kali ingin ku akhiri hidupku 


Aku membenci diriku yang menjadi sosok paling mengerikan

Kemana aku yang dulu? Yang selalu mengasihi walaupun disakiti,

Kemana aku yang dulu? Yang tidak begitu tergantung pada orang lain.

Lihat apa yang kau perbuat bahkan pada dirimu sendiri, kau bahkan membenci setiap detail hidupmu

Sinarmu bukan lagi redup tapi padam

Harapanmu tidak ada lagi sumbu yan tersisa untuk dinyalakan kembali, semuanya habis terbakar dengan segala kerasnya masalah yang kau hadapi


Aku sadar semua karena ulahku,

Aku sadar tidak seharusnya menjadi arogan dan habis sabar 

Aku sadar tidak seharusnya jiwaku dipenuhi amarah seperti ini

Namun, 

Aku capek Tuhan!

Aku capek menata segala sesuatu yang dikacaukan orang lain

Aku capek menjadi batu pijakan agar orang lain bisa berdiri tegak

Aku capek membereskan setiap persoalan yang aku sendiri tidak mengerti

Aku capek pura2 tegar, harus memoles wajah agar nampak tidak ada yang salah dalam hidupku

Aku capek menjadi tempat pelarian terakhir

Aku capek menjadi AKU


Boleh kah sehari saja aku menghargai, mencintai bahkan memeluk jiwaku yang sudah lama mati? 

Aku rindu AKU yang dulu~

Senin, 04 Agustus 2025

Mereka hanya dua orang keras kepala yang memiliki ego masing-masing

Pada akhirnya kehidupan sebuah pernikahan adalah tentang memaafkan

memaafkan untuk semua kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja
Memaafkan untuk sikap buruk, kasar dan menyakitkan hati
memaafkan untuk semua kenyataan pahit
memaafkan untuk merusak idealisme yang telah kau pegang erat selama ini
memaafkan untuk setiap kerugian moriil ataupun materil
memaafkan untuk setiap kesialan yang kau lalui untuknya
memaafkan untuk setiap air mata yang telah kau habiskan

Memaafkan, kemudian mengasihi kembali

Orangtua ku bukanlah manusia sempurna yang tanpa celah, debat ringan smpai berat tak elak terjadi di rumah kecil kami
namun banyak yang bisa kupelajari dari mereka
Ibuku bukan sosok perempuan yang lemah lembut dan bertutur kata halus
dia memiliki hati yang teguh dan gigih, serta sangat vocal dalam mengemukakan pendapatnya
tapi aku belajar pemaafan yang sempurna darinya, kasih yang begitu besar tanpa pamrih
Ayahku bukan sosok laki-laki yang penuh perhatian dan punya banyak waktu untuk anaknya
dia sangat idealis dan tekun dalam pekerjaannya, tegas dalam aturan di rumah
tapi aku belajar penerimaan dan hati yang besar, belajar memberi dan mengasihi dalam diam, belajar merendah tidak menjadikan kita rendahan, belajar mengalah bukan untuk kalah
dari dua orang keras kepala dan punya idealisme masing-masing itulah yang membentuk diriku

Minggu, 26 Desember 2021

Bukankah yang Berlebihan Selalu Tak Berakhir Baik?

Semakin dewasa manusia, 

Permasalahan yang kita alami akan semakin kompleks

Bahkan ada beberapa hal yang tidak mampu kita pahami, 

Terkadang beberapa saat bahagia kemudian sesak, beberapa waktu tersenyum kemudian derai tangis memburai

Hingga akhirnya kita tak mampu memahami isi hati kita sendiri

Beberapa waktu terasa penuh tiba-tiba begitu kosong, hampa dan dingin

Beberapa waktu penuh kupu-kupu menggelitiki perut

seketika beban di dada bagai dihantam palu godam

Tak pernah tertebak.

 

Kita hanya perlu berharap pada diri sendiri,

Jangan bergantung pada siapa pun

Karena tak satu pun orang yang dapat benar-benar dipercaya

Terdengar naif mungkin,

Tapi inilah kenyataan!

Kau takkan bisa mengontrol hati manusia jika Sang Kuasa ingin mengobrak-abriknya.

 

Lantas?

Boleh percaya,

Boleh dekat,

Boleh bersama

Hanya saja jangan terlalu

Bukankah yang berlebihan selalu tak berakhir baik?

 

Karena kelak pun kau harus paham,

Bahwa semua yang kita miliki hanya titipan,

Bahwa semua yang kita lihat hanya bayangan

Bahwa semua yang kita dengar hanya suara

Dan semua yang ada tidak abadi.

Jangan egois!

Jangan serakah!

Belajar dari apa adanya, bukan seadanya.

Belajar dari sederhana sudah lebih dari cukup.

Belajar dari syukur menerima, dan ikhlas jika suatu waktu diambil kembali.

Bukankah semua hanya sementara?

Tak ada yang tau akan sampai kapan, 

Bahkan semesta pun menyembunyikannya.

 

#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day6

Sabtu, 25 Desember 2021

25 Desember 2021

25 Desember 2021

Damai natal kiranya menyertai,

Hal yang begitu kutakutkan nyatanya tidak terjadi

Hal yang terlalu ku khawatirkan ternyata tak seburuk imajinasi


Aku takut aku akan menghabiskan natal sendirian

Aku takut kembali menangis seperti kemarin

Aku takut merasa sendiri ditengah euphoria dunia

Ternyata memang damai dan keajaibannya melingkupi semuanya, 

Indah, hanya saja terkadang kita yang terlalu angkuh membuatnya tampak tak berharga

Indah, hanya saja beberapa orang sengaja menutup mata bahkan hatinya.

Indah, menyambut Sang Juruselamat lahir ke dunia.


Ada teman, yang diberi untuk menemani, memberi tawa dan memberi cerita

Mereka sudah lama ada namun aku yang terlalu abai

Mereka disini namun aku yang selalu melewatkannya

Hingga akhirnya kucoba membuka hati, hangat, akrab terasa seperti keluarga

Aku bahkan tak merasa sendiri melewatkan ini, aku merasa seperti di rumah


Ada rumah lain yang dihadirkan, entah untuk menemaniku atau menemani mereka

Meski seringkali lebih terasa merepotkan

Namun, pada akhirnya keluarga hanyalah keluarga.

Bukan tentang siapa dan dimana? Tapi tentang kasih tulus yang tak berkesudahan.


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day5

Jumat, 24 Desember 2021

Entah Sebenarnya Aku Kenapa?

24 Desember 2021

Christmas Eve!

Di kota orang, sunyi dan sendiri

Seharusnya aku pulang, bersama keluarga, bernyanyi, bersaat teduh, makan makanan enak

Seharusnya aku pulang, memakai pakaian natal, berselimut lembut, ditemani segelas cokelat panas

Seharusnya aku pulang, Pulang ke Rumah, ke tempat ternyaman untuk meletakkan kepala


Banyak yang berlalu, banyak yang terlewat

Ketika semua beranjak dewasa,

Hal yang dulu riskan tak lagi menjadi begitu penting

Hal yang dulu penting bukan lagi hal yang menuntut perhatian

Risau? Tidak juga

Hanya sudah dingin hati


Aku bisa tertawa terbahak-bahak di kerumunan hiruk pikuk duniawi

Aku bisa menangis tersedu-sedu di tengah malam ketika semua harusnya sudah terlelap

Aku bisa tak berekspresi di antara euphoria pesta

Aku bisa penuh semangat ketika semua sedang berduka


Mungkin aku sudah mati rasa

Ketika banyak rasa yang terbuang sia-sia

Mungkin aku sudah hilang arah

Ketika hati hanya dipenuhi amarah

Mungkin aku lagi dilema

Ketika usaha pupus percuma

Entah sebenarnya aku kenapa?


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day4


Kamis, 23 Desember 2021

Haruskah Aku Membenci Hujan?

Sore ini setelah suntuk seharian bekerja aku menghampiri jendela yang ada di depan meja kerjaku

Jendela lebar dilantai dua gedung perkantoran yang terletak di pusat kota

Sunyi Tenang,

Beberapa orang tampak berjalan menjauhi lapangan parkir, sekedar bertegur sapa berpesan sampai jumpa besok di hari terakhir bekerja pekan ini,

Atau sekedar tersenyum simpul yang hanya tampak dari guratan sudut mata di balik wajah yang tentunya tertutup masker.

Sore yang hangat dibanding sore-sore sebelumnya yang selalu dilingkupi hujan Lebat,

Tak salah jika kota ini disebut "Kota Hujan"

Hujan bahkan seringkali turun dimomen-momen yang tak tepat


Akhir-akhir ini banyak kerjaan,

Harus tutup buku, penyerapan anggaran, perpanjangan waktu kontrak atau hanya sekedar memantau progres pekerjaan

Tapi aku mulai tidak fokus

Entah suasananya yang kurang kondusif ataukah suasana hatiku yang kurang mendukung

Jangan tanya kenapa?

Sulit rasanya menghapus kebiasaan yang telah melekat bertahun-tahun,

Yang dulunya hanya dianggap sepele

Rupanya justru itu yang membuatnya sempurna.


Perlahan rintik hujan mulai membasahi jendela besar ini,

rasa hangatnya masih ada namun perlahan pudar digantikan dingin dan deru hujan bersahutan, benar kan kataku? Momennya tidak tepat!


Aku suka hujan,

Aku bahkan rela berlama-lama memandanginya

Menghirup aroma tanah bercampur air, 

"Petrichor" istilah kerennya.

Aku suka hujan,

Aku sering sengaja keluar saat hujan turun

Hanya untuk menyentuh tetesannya

Atau kah menatapnya nanar seperti saat ini.

Aku suka hujan

Apalagi saat kau masih bersamaku. Dulu.


#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day3

Rabu, 22 Desember 2021

Manusia Egosentris!

Entah sudah malam keberapa aku insomnia

Bukan tanpa sebab, aku yg terlalu overthinking

Memikirkan hal yang berulang-ulang 

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Ketika aku bukanlah satu-satunya

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Membedaki cerita dengan retorika manis

Seharusnya sudah lama kuhentikan

Masih saja menjadi candu yang syahdu

 

Jelas sekali semua hanyalah fiktif

Terlalu kontradiktif bagai zat aditif

Memuai, melebur pada seorang yang naif

 

Sekali lagi aku bodoh!

Terlalu mementingkan ego, berharap pada ketidakpastian, berusaha keras menggenggam luka membaluri dengan angan-angan semu.

Sekali lagi aku bodoh!

Bergantung pada kepahitan, tanpa upaya mengelak dari fakta ambigu.

Sekali lagi aku bodoh!

Menutup mata akan kenyataan pelik, terbuai oleh kebohongan yang manis.

Sekali lagi aku bodoh!

Percaya pada Dia! Manusia Egosentris yang tidak memiliki rasa setitik pun! Bajingan!

Sudah jera aku merutuki diri berkali-kali yang akhirnya jatuh berkali-kali juga

Entah magnet seperti apa yang dia pakai untuk menarikku dengan paksa,

Entah virus apa yang dia sebarkan untuk mengekang tanpa harus menggenggamku.

Payah! Bodoh!



#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day2

Selasa, 21 Desember 2021

It's Okay If You...

355 hari telah terlewati

Banyak target yang telah tercapai

Namun banyak juga yang tak tergapai.

Di sudut ruangan aku terdiam sendiri

Meracau penuh, namun masih saja sepi

Karena semua hanya ku utarakan dalam hati

 

Segudang cerita berlalu,

Kenangan pahit dan manis membaur jadi Satu

Bermetamorfosa membentuk pribadimu kini

Semua tergenapi sesuai rencanaNya, meski sering terbersit kecewa

Saya paham ini bukanlah hal yang mudah untuk dimengerti

Saya tau hatimu tidak baik-baik saja

Saya tau betapa keras kau mengikis air mata di balik tawamu

Saya tau kau berupaya tampak baik-baik saja disela-sela tangisan yang selalu kau sembunyikan di ujung malam.

Bahkan saya tau betapa dunia mencoba untuk menghancurkanmu lebih keras dibanding usahamu untuk mencoba mengangkat kepalamu,

Merenggut jati dirimu, memporak-porandakan hatimu hingga kau bahkan tidak mengenalinya lagi sama sekali.

 

Tidak apa, jika kau sangat ingin menangis

Tidak apa, untuk berhenti sejenak ketika kau merasa sangat lelah

Tidak apa, melakukan kebodohan ketika semua melakukan hal benar

Tidak apa, berjalan ke arah yang berbeda meski tak ada yang bersamamu

Tidak apa, berdiri dan membela dirimu

Tidak apa, berlaku egois untuk kesenangan dirimu

Dan tidak apa bahkan jika kehadiranmu terasa sangat salah

Percayalah ada orang lain yang beruntung  dan bersyukur telah mengenalmu

Jiwamu butuh untuk diapresiasi

 

#30DWC

#30DWCjilid34

#Squad4

#Day1


Rabu, 21 Juli 2021

Aku Ingin Mencintai dengan Sederhana~

Aku ingin mencintai dengan sederhana,
Menginginkan orang yang mencintaiku
dan diinginkan orang yang aku cintai.

Aku ingin mencintai dengan sederhana,
Mengatakan semua yang kurindukan
dan menerima pernyataan rindu dengan tepat.

Aku ingin mencintai dengan sederhana,
Menggenggam dan digenggam erat,
merengkuh dan didekap dengan dalam.

Aku ingin mencintai dengan sederhana,
tanpa peduli ruang dan waktu,
rasional dan logika yang terbatas

Aku ingin mencintai dengan sederhana,
Kamu yang sulit untuk dicintai dan mencintai.

Kisah hari Kemarin

Cukup banyak waktu untuk berpikir
untuk tidak bertindak gegabah
Cukup banyak cerita yang terbungkam,
yang akhirnya tersimpan rapat
Beberapa hal begitu mudah untuk berubah
seperti halnya keadaan, berotasi dan bertransformasi

Kemarin selalu ada canda disela penat
terselip tawa dibalik beban
Kemarin selalu ada cerita meskipun singkat
tentang takdir terbalut tempaan
kemarin tiba-tiba saja teringat
ada hadir disetiap pertemuan dan pelukan

Selasa, 23 Juni 2020

In The End of The Day, Sometimes

Pada akhir sebuah hari,
kita hanya ingin melepas penat, melepas jeda, melepas tangis
Pada akhir sebuah hari,
kita hanya ingin merebah, tertidur dan melupakan
Pada akhir sebuah hari,
ada hal berat yang ingin dilepaskan
Pada akhir sebuah hari,
ada cerita yang ingin dilupakan

Mungkin, bukan kisahnya yang salah,
bukan juga raganya,
terkadang waktunya saja yang kurang tepat,
terlalu cepatkah ataukah terlalu lambat
Mungkin, kita yang terlalu memaksa
memaksakan kehendak, yang bukan kehendak-Nya
Mungkin, kita bukanlah KITA seutuhnya
hanya kamu dan aku yang buta sesaat

Minggu, 14 Juni 2020

Ketika Ku Pikir Aku Rumahmu

Ketika ku pikir aku rumahmu,
Merombak cerita menjadi harapan
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada jeda panjang disetiap pertemuan yang tergenapi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Berjalan tak lagi sendiri, bersandar tak lagi sepi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada hangat yang berdesir memenuhi hati
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Kini prioritas bukan hanya aku, tapi Kita
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Nyatanya kau berpikir BEDA

Aku bukan rumahmu,
Aku hanya selingan
Aku hanya persinggahan sesaat ketika rumahmu sedang kau benahi
Nyatanya,
Aku hanya akan ada hingga kau kembali PULANG ke rumahmu

Rabu, 10 Juni 2020

Apakah KITA hanya harapan?

Beberapa kisah mungkin tak berujung pada kata selesai
Ada yang ditengah jalan harus usai
Ada yang diwarnai sorak sorai
Ada juga yang dipenuhi airmata yg berderai

Tak semua kisah berakhir hangat dengan tawa ringan
Seringkali justru sesak yang menggambarkan
Berharap pada hal yang hanya bayangan
Membuatmu hidup dalam angan

Banyak orang hanya bisa memberi perhatian
Seolah KITA bisa jadi harapan
Namun,
Apakah dirimu sadar kau hanya cadangan?

beberapa kisah berakhir cukup menjadi kisah
Meninggalkan resah
Memberi bercak merah
berdarah
Pada dada yang terus membuncah

Sabtu, 23 Mei 2020

Rasa bernama Luka


Hadir dalam gema gelisah,
Dalam kegamangan yang kupikir tak bertepi
Berbaur dalam keputusasaan dan ketidakpastian
Begitu asing, namun nyata
Sederhana menyentuhku perlahan,
membuatku terperangkap tanpa sempat aku mengelak
merasuk dan membuatku terbuai, tersenyum dan menjadikanku candu

sekali lagi mataku tertutup,
mengabaikan perbedaan yang seharusnya tak kau paksakan
tak mungkin memaksakan perbedaan yang selamanya akan mengingkari kebersamaan
tak usah menggenggam perih yang tak mungkin sembuh
melepaskan penat dan hela  yang nyatanya
sudah jelas semua rasa ini hanya menghadirkan LUKA


Jumat, 20 Maret 2020

Ketika Dunia Tak Lagi Baik-Baik Saja

Ada apa dengan Dunia?
Ada apa dengan Negeriku?
apa kabarmu? apa kabarnya mereka?
masihkah ada senyum ditengah kenyataan yang pelik ini?

Kami bimbang,
kami goyah, bahkan terombang-ambing
aku disini, berdiri sendiri atas diriku
kabar yang tak kunjung usai,
berita yang tak juga reda
ada apa dengan Negeriku?
adakah harap ditengah asa yang nyaris putus?

Kalau boleh bertanya,
apa maksudMu dengan keadaan ini?
apa rencanaMu dibalik gema yang membisingkan?

Kami Gentar,
Kami takut, kami gamang, nyaris tawar hati.
apakah Kau mulai melepas kami perlahan?
menunjukkan bahwa kami hanya serpihan debu dihadapanmu?

Betapa selama ini keangkuhan dan keegoisan kami
mulai tak terbendung dan kau muak dengan bau busuknya?

Tidak!
Kau tidak seperti itu,
bahkan sampai sekarang aku masih percaya
kau menggenggam dan menggendongku
mendengar ratapan kami, melihat air mata kami
bersama kami, bahkan ketika kami tak berharap padamu...
perih....

Sabtu, 19 Januari 2019

Kita yang bukan KITA

Aku hampir saja terjebak,
Merasa kalau perbedaan pasti bisa menyatukan
Berpikir jika menjadi berbeda tidak ada yang salah
Selama aku dan kamu mau menjadi kita maka semua akan baik-baik saja

Nyatanya,
Kita yang sudah ada tidak akan terwujud menjadi Kita masa depan
Nyatanya,
Kita yang sekarang tidak seperti kita yang dimimpikan
Nyatanya,
Kita tidak akan jadi KITA karena perbedaan

Minggu, 06 Januari 2019

Aku KEHILANGAN!

Hari ke-7 di awal tahun 2019

Betapa mencintai ditengah kebencian tak pernah mudah,
Betapa memuaskan dahaga tak bermuara terasa mustahil,
Betapa membuka hati yang tertutupi amarah terasa sia-sia,
Betapa aku dan kau nyatanya hanya berjalan beriringan selama ini namun tak sama sekali menyatu.

Aku belajar kehilangan setelah berusaha keras mempertahankan segalanya
Aku belajar kehilangan pada apa yang selama ini menjadi biasa
Aku belajar kehilangan pada hal yang aku anggap tak akan pernah terjadi
Aku belajar kehilangan janji yang kupegang teguh
Aku belajar kehilangan tak pernah terasa mudah
Aku belajar selalu ada harga yang harus dibayar pada apa yang kau anggap benar,
KEHILANGAN!


Rabu, 10 Oktober 2018

Kau Bukan Mereka!

Ada aroma familiar yang kelak akan membuatmu rindu
Aroma tanah basah sehabis hujan
Aroma embun berhembuskan angin pagi,
Aroma pohon sore hari disertai sorak kicauan burung,
Aroma malam senyap yang terbalut langit penuh bintang

Kelak itu akan mendistraksi pikiranmu mundur beberapa waktu sebelumnya,
entah seminggu yang lalu, sebulan, setahun atau bahkan 10 tahun yang lalu
ketika umurmu belum sebanyak ini,
ketika wajahmu belum setegas ini,
ketika pikiranmu belum sekalut ini,
ketika hati dan dirimu masih milikmu.

Terkadang tanpa sadar,
seiring berjalannya waktu
ada beberapa pribadi yang kemudian memaksa mengubahmu menjadi seperti mereka
menghantammu dengan kebiasaan mereka terus menerus hingga kau tak cukup kuat
dan akhirnya memilih untuk beradaptasi dengan menjadi Mereka
Kau tau tidak,
Dia yang menciptakanmu sengaja membuatmu berbeda dengan mereka,
bukan untuk kemudian ketika kalian bertemu kau boleh mengubahnya terpengaruh oleh mereka
mungkin benar ketika bertumbuh kau pun harus berkembang,
namun sebuah tanaman yang tumbuh tinggi dan berkembang masih memiliki bakal bibit awal mula Ia ditanam, tidak hilang, ada tersimpan rapat-rapat terlindungi di bawah tanah.
Tau kenapa?
Karena tanaman pun tau, eksistensinya tidak boleh tergantikan oleh tumbuhan lain,
bahkan tiap bibit sekecil biji sesawi pun diciptakan berbeda tiap butirnya.
lantas kau?
Kau adalah Kau,
Kau Bukan Mereka!

Sabtu, 16 Juni 2018

Apakah benar Salah?

Saya tak paham, tak juga mengerti ada apa dengan ini?
ada apa dengan keadaan, ada apa dengan situasinya.
kenapa begitu membingungkan? mendilemakan dan membuat resah?

Saya lupa sejak kapan dan akan sampai kapan?
haruskah akan seperti ini terus?
mungkin dari awal memang salah untuk kita
tapi tak begitu terasa salah untukku,
Untukku yang terus kau paksa sabar,
untukku yang selalu kau biarkan menunggu,
untukku yang kau haruskan menyibukkan diri dan mengabaikanmu yang juga
SIBUK!
untukku yang kemudian jadi terbiasa dengan keTIADAan mu
hanya karena DIA hadir, dan dengan lantangnya tak keberatan dengan keberadaanmu.

Mengapa ada yang ingin datang ketika yang lain membiarkan?
Mengapa ada yang ingin merengkuh ketika yang lain seolah ingin melepas?
Mengapa ada yang begitu keras memperjuangkan ketika diri sudah lelah berjuang?

Ada rasa bersalah yang besar, tau ini semua SALAH!
sadar akan betapa besar ego yang aku miliki mempengaruhi semua ini
hingga akhirnya terjebak pada situasi yang tak berujung
meski bisa mengakhirinya dengan mudah, tapi saya tak ingin menyelesaikannya
seolah kemudian merasa nyaman namun takut terlena

Sabtu, 18 November 2017

SEMUA TAK SAMA

Saat ini,
saat aku mulai menulis ini, 11.11 PM
tiba-tiba saja terusik lagi ingin menarikan jemari di atas bilah-bilah keyboard
terusik karena, tak sengaja melihat potongan story seseorang yang mungkin kukenal, mungkin juga tidak, karena sebenarnya hanya sekedar tau namun juga tak begitu tau,  ahh entahlah....

Benar kata mereka, ada saat kau akan kehilangan semangat dan jiwamu,
tak tau mau ngapain, mau kemana dan harus bagaimana
saat itu agak sedikit membingungkan memang.
Bahkan gerak dan setiap napas pun rasanya tidak berfaedah katanya orang-orang jaman sekarang,
kali ini aku, Aku yang secara subjektif adalah mahasiswa Tingkat akhir merasakannya
bukan karena posisinya, namun tuntutannya.
Asistensi mandet, SK kerja praktek hilang, Surat pengantar minta data sudah hampir sebulan tidak keluar-keluar, sialnya kalaupun keluar sudah harus ganti lagi karena salah alamat
belum lagi beban lihat teman-teman seangkatan yang sudah pakai Toga satu persatu,
teman dekat yang dikiranya bakalan setia mendampingi dan membantu taunya pergi satu persatu, takut terbebani, takut ikutan mandet juga, takut diberatkan, takut tidak bisa pakai Toga,
tapi tidak takut menjatuhkan topengnya, tidak takut ketahuan aslinya.
Katanya kalau sudah begini urus sendiri-sendiri, katanya kalau sudah begini tidak usah tunggu-tunggu, dan katanya kalau sudah begini harus egois.
katanya TEMAN? kok gitu? pikirku.

pada akhirnya semua tak akan sama lagi,
kelak kau akan tau, Teman seperti apa dia
Teman yang berdiri untuk dirimu ataukah
Teman yang berdiri hanya untuk dirinya sendiri!