Ketika ku pikir aku rumahmu,
Merombak cerita menjadi harapan
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada jeda panjang disetiap pertemuan yang tergenapi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Berjalan tak lagi sendiri, bersandar tak lagi sepi
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Ada hangat yang berdesir memenuhi hati
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Kini prioritas bukan hanya aku, tapi Kita
Ketika ku pikir aku rumahmu,
Nyatanya kau berpikir BEDA
Aku bukan rumahmu,
Aku hanya selingan
Aku hanya persinggahan sesaat ketika rumahmu sedang kau benahi
Nyatanya,
Aku hanya akan ada hingga kau kembali PULANG ke rumahmu
Minggu, 14 Juni 2020
Rabu, 10 Juni 2020
Apakah KITA hanya harapan?
Beberapa kisah mungkin tak berujung pada kata selesai
Ada yang ditengah jalan harus usai
Ada yang diwarnai sorak sorai
Ada juga yang dipenuhi airmata yg berderai
Tak semua kisah berakhir hangat dengan tawa ringan
Seringkali justru sesak yang menggambarkan
Berharap pada hal yang hanya bayangan
Membuatmu hidup dalam angan
Banyak orang hanya bisa memberi perhatian
Seolah KITA bisa jadi harapan
Namun,
Apakah dirimu sadar kau hanya cadangan?
beberapa kisah berakhir cukup menjadi kisah
Meninggalkan resah
Memberi bercak merah
berdarah
Pada dada yang terus membuncah
Ada yang ditengah jalan harus usai
Ada yang diwarnai sorak sorai
Ada juga yang dipenuhi airmata yg berderai
Tak semua kisah berakhir hangat dengan tawa ringan
Seringkali justru sesak yang menggambarkan
Berharap pada hal yang hanya bayangan
Membuatmu hidup dalam angan
Banyak orang hanya bisa memberi perhatian
Seolah KITA bisa jadi harapan
Namun,
Apakah dirimu sadar kau hanya cadangan?
beberapa kisah berakhir cukup menjadi kisah
Meninggalkan resah
Memberi bercak merah
berdarah
Pada dada yang terus membuncah
Sabtu, 23 Mei 2020
Rasa bernama Luka
Hadir dalam gema gelisah,
Dalam kegamangan yang kupikir tak bertepi
Berbaur dalam keputusasaan dan ketidakpastian
Begitu asing, namun nyata
Sederhana menyentuhku perlahan,
membuatku terperangkap tanpa sempat aku
mengelak
merasuk dan membuatku terbuai, tersenyum dan
menjadikanku candu
sekali lagi mataku tertutup,
mengabaikan perbedaan yang seharusnya tak kau
paksakan
tak mungkin memaksakan perbedaan yang
selamanya akan mengingkari kebersamaan
tak usah menggenggam perih yang tak mungkin
sembuh
melepaskan penat dan hela yang nyatanya
sudah jelas semua rasa ini hanya menghadirkan
LUKA
Jumat, 20 Maret 2020
Ketika Dunia Tak Lagi Baik-Baik Saja
Ada apa dengan Dunia?
Ada apa dengan Negeriku?
apa kabarmu? apa kabarnya mereka?
masihkah ada senyum ditengah kenyataan yang pelik ini?
Kami bimbang,
kami goyah, bahkan terombang-ambing
aku disini, berdiri sendiri atas diriku
kabar yang tak kunjung usai,
berita yang tak juga reda
ada apa dengan Negeriku?
adakah harap ditengah asa yang nyaris putus?
Kalau boleh bertanya,
apa maksudMu dengan keadaan ini?
apa rencanaMu dibalik gema yang membisingkan?
Kami Gentar,
Kami takut, kami gamang, nyaris tawar hati.
apakah Kau mulai melepas kami perlahan?
menunjukkan bahwa kami hanya serpihan debu dihadapanmu?
Betapa selama ini keangkuhan dan keegoisan kami
mulai tak terbendung dan kau muak dengan bau busuknya?
Tidak!
Kau tidak seperti itu,
bahkan sampai sekarang aku masih percaya
kau menggenggam dan menggendongku
mendengar ratapan kami, melihat air mata kami
bersama kami, bahkan ketika kami tak berharap padamu...
perih....
Ada apa dengan Negeriku?
apa kabarmu? apa kabarnya mereka?
masihkah ada senyum ditengah kenyataan yang pelik ini?
Kami bimbang,
kami goyah, bahkan terombang-ambing
aku disini, berdiri sendiri atas diriku
kabar yang tak kunjung usai,
berita yang tak juga reda
ada apa dengan Negeriku?
adakah harap ditengah asa yang nyaris putus?
Kalau boleh bertanya,
apa maksudMu dengan keadaan ini?
apa rencanaMu dibalik gema yang membisingkan?
Kami Gentar,
Kami takut, kami gamang, nyaris tawar hati.
apakah Kau mulai melepas kami perlahan?
menunjukkan bahwa kami hanya serpihan debu dihadapanmu?
Betapa selama ini keangkuhan dan keegoisan kami
mulai tak terbendung dan kau muak dengan bau busuknya?
Tidak!
Kau tidak seperti itu,
bahkan sampai sekarang aku masih percaya
kau menggenggam dan menggendongku
mendengar ratapan kami, melihat air mata kami
bersama kami, bahkan ketika kami tak berharap padamu...
perih....
Sabtu, 19 Januari 2019
Kita yang bukan KITA
Aku hampir saja terjebak,
Merasa kalau perbedaan pasti bisa menyatukan
Berpikir jika menjadi berbeda tidak ada yang salah
Selama aku dan kamu mau menjadi kita maka semua akan baik-baik saja
Nyatanya,
Kita yang sudah ada tidak akan terwujud menjadi Kita masa depan
Nyatanya,
Kita yang sekarang tidak seperti kita yang dimimpikan
Nyatanya,
Kita tidak akan jadi KITA karena perbedaan
Merasa kalau perbedaan pasti bisa menyatukan
Berpikir jika menjadi berbeda tidak ada yang salah
Selama aku dan kamu mau menjadi kita maka semua akan baik-baik saja
Nyatanya,
Kita yang sudah ada tidak akan terwujud menjadi Kita masa depan
Nyatanya,
Kita yang sekarang tidak seperti kita yang dimimpikan
Nyatanya,
Kita tidak akan jadi KITA karena perbedaan
Minggu, 06 Januari 2019
Aku KEHILANGAN!
Hari ke-7 di awal tahun 2019
Betapa mencintai ditengah kebencian tak pernah mudah,
Betapa memuaskan dahaga tak bermuara terasa mustahil,
Betapa membuka hati yang tertutupi amarah terasa sia-sia,
Betapa aku dan kau nyatanya hanya berjalan beriringan selama ini namun tak sama sekali menyatu.
Aku belajar kehilangan setelah berusaha keras mempertahankan segalanya
Aku belajar kehilangan pada apa yang selama ini menjadi biasa
Aku belajar kehilangan pada hal yang aku anggap tak akan pernah terjadi
Aku belajar kehilangan janji yang kupegang teguh
Aku belajar kehilangan tak pernah terasa mudah
Aku belajar selalu ada harga yang harus dibayar pada apa yang kau anggap benar,
KEHILANGAN!
Rabu, 10 Oktober 2018
Kau Bukan Mereka!
Ada aroma familiar yang kelak akan membuatmu rindu
Aroma tanah basah sehabis hujan
Aroma embun berhembuskan angin pagi,
Aroma pohon sore hari disertai sorak kicauan burung,
Aroma malam senyap yang terbalut langit penuh bintang
Kelak itu akan mendistraksi pikiranmu mundur beberapa waktu sebelumnya,
entah seminggu yang lalu, sebulan, setahun atau bahkan 10 tahun yang lalu
ketika umurmu belum sebanyak ini,
ketika wajahmu belum setegas ini,
ketika pikiranmu belum sekalut ini,
ketika hati dan dirimu masih milikmu.
Terkadang tanpa sadar,
seiring berjalannya waktu
ada beberapa pribadi yang kemudian memaksa mengubahmu menjadi seperti mereka
menghantammu dengan kebiasaan mereka terus menerus hingga kau tak cukup kuat
dan akhirnya memilih untuk beradaptasi dengan menjadi Mereka
Kau tau tidak,
Dia yang menciptakanmu sengaja membuatmu berbeda dengan mereka,
bukan untuk kemudian ketika kalian bertemu kau boleh mengubahnya terpengaruh oleh mereka
mungkin benar ketika bertumbuh kau pun harus berkembang,
namun sebuah tanaman yang tumbuh tinggi dan berkembang masih memiliki bakal bibit awal mula Ia ditanam, tidak hilang, ada tersimpan rapat-rapat terlindungi di bawah tanah.
Tau kenapa?
Karena tanaman pun tau, eksistensinya tidak boleh tergantikan oleh tumbuhan lain,
bahkan tiap bibit sekecil biji sesawi pun diciptakan berbeda tiap butirnya.
lantas kau?
Kau adalah Kau,
Kau Bukan Mereka!
Aroma tanah basah sehabis hujan
Aroma embun berhembuskan angin pagi,
Aroma pohon sore hari disertai sorak kicauan burung,
Aroma malam senyap yang terbalut langit penuh bintang
Kelak itu akan mendistraksi pikiranmu mundur beberapa waktu sebelumnya,
entah seminggu yang lalu, sebulan, setahun atau bahkan 10 tahun yang lalu
ketika umurmu belum sebanyak ini,
ketika wajahmu belum setegas ini,
ketika pikiranmu belum sekalut ini,
ketika hati dan dirimu masih milikmu.
Terkadang tanpa sadar,
seiring berjalannya waktu
ada beberapa pribadi yang kemudian memaksa mengubahmu menjadi seperti mereka
menghantammu dengan kebiasaan mereka terus menerus hingga kau tak cukup kuat
dan akhirnya memilih untuk beradaptasi dengan menjadi Mereka
Kau tau tidak,
Dia yang menciptakanmu sengaja membuatmu berbeda dengan mereka,
bukan untuk kemudian ketika kalian bertemu kau boleh mengubahnya terpengaruh oleh mereka
mungkin benar ketika bertumbuh kau pun harus berkembang,
namun sebuah tanaman yang tumbuh tinggi dan berkembang masih memiliki bakal bibit awal mula Ia ditanam, tidak hilang, ada tersimpan rapat-rapat terlindungi di bawah tanah.
Tau kenapa?
Karena tanaman pun tau, eksistensinya tidak boleh tergantikan oleh tumbuhan lain,
bahkan tiap bibit sekecil biji sesawi pun diciptakan berbeda tiap butirnya.
lantas kau?
Kau adalah Kau,
Kau Bukan Mereka!
Langganan:
Postingan (Atom)
